Bungo Lado dan Jamba, Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Kabupaten Padang Pariaman

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 16:44 WIB
Bungo Lado, tradisi masyarakat di Padang Pariaman menyambut maulid nabi
Bungo Lado, tradisi masyarakat di Padang Pariaman menyambut maulid nabi

HALUAN PADANG- Maulid Nabi merupakan momen bagi umat muslim untuk mengenang hari kelahiran Rasulullah SAW yang terjadi pada Senin, 12 Rabiul Awal 571 Masehi, yang mana pada tahun ini jatuh pada 19 Oktober.

Beragam cara dan tradisi yang dilakukan umat muslim dalam menyambut perayaan ini. Salah satunya tradisi bungo lado dan jamba yang berasal dari Kabupaten Padang Pariaman.

Kata bungo dalam bahasa Minang berarti "bunga", sedangkan lado berarti "cabe". Jadi bungo lado berarti "bunga cabe".

Namun, tradisi bungo lado sendiri biasanya berupa pohon uang. Para pemuda karang taruna di nagari setempat akan mengumpulkan uang sumbangan di beberapa titik dengan mobilitas warga yang tinggi, seperti pasar, warung kopi, atau berkeliling kampung.

Uang yang terkumpul kemudian direkatkan ke ranting-ranting kayu membentuk pohon uang dan dipamerkan pada saat perayaan maulid Nabi Muhammad SAW.

Sebelum dipamerkan, bungo lado yang sudah selesai dibuat akan diarak menuju masjid atau surau nagari untuk dipamerkan selama perayaan.

Acara perayaan akan diisi dengan ceramah agama dan jamba. Jamba sendiri merupakan istilah yang berarti makan bersama.

Ibu-ibu di nagari setempat akan memasak beragam makanan mulai dari makanan berat seperti nasi dan lauk hingga menyediakan snack dan buah-buahan.

Tak tanggung-tanggung, warga menyediakan 40 porsi lauk dari setiap rumah warga yang berpartisipasi.

Hal ini bukan tanpa alasan, ini merupakan simbol perhatian masyarakat Kabupaten Padang Pariaman terhadap warga yang kurang mampu yang nantinya makanan tersebut akan dibagi-bagikan. 

Semua makanan dihidangkan di dalam masjid atau surau, kemudian angku atau imam mempersilakan seluruh masyarakat yang hadir untuk makan bersama.

Setelah makan, anak-anak bahkan orang dewasa akan berebutan mengambil makanan ringan dan buah yang masih tersedia. Tak jarang pula ada yang mengambil lauk.

Selain berebutan makanan, terkadang para perantau yang pulang kampung saat perayaan Maulid Nabi juga membagi-bagikan buah tangan berupa uang atau souvenir.

Lalu apa yang terjadi dengan bungo lado? Uang pada bungo lado yang dipamerkan di Perayaan Maulid Nabi akan disumbangkan pada masjid atau surau agar dapat digunakan untuk menunjang kegiatan keagamaan.

Uang yang terkumpul dari bungo lado dapat mencapai puluhan juta rupiah.

Tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Padang Pariaman memang sangat semarak. Warga berlomba-lomba menunjukkan antusiasmenya  dengan mengikuti segala rangkaian kegiatan.

Kegiatan ini juga layak masuk ke dalam daftar wisata budaya yang dapat menambah wawasan. Selain kaya akan nilai agama dan semangat keimanan, tradisi ini juga kaya akan nilai budaya masyarakat Indonesia yang berdasar pada Pancasila.(*)

 

 

 

Halaman:

Editor: Puspita Indah Cahyani

Tags

Terkini

5 Kedai Kopi Kekinian Ini Ternyata Milik Para Artis

Selasa, 9 November 2021 | 15:49 WIB

Turbulensi Tidak Selalu Berbahaya, Ini 5 Faktanya

Minggu, 24 Oktober 2021 | 13:24 WIB
X