Belajar Kejujuran dari Ampalu Raya, Rumah Makan Padang yang Tolak Permintaan Pembeli untuk Bikin Bon Kosong

- Selasa, 12 Oktober 2021 | 18:19 WIB
Rumah Makan Ampalu Raya
Rumah Makan Ampalu Raya

HALUAN PADANG - Salah satu rumah makan di bilangan Jhoni Anwar, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara mempunyai cara unik dan tegas untuk menerapkan prinsip kejujuran pada pembelinya.

Rumah makan tersebut adalah Ampalu Raya. Disana, pihak pengelola rumah makan tidak memberikan permintaan kwitansi atau bon kosong dari pembeli karena identik dengan praktek kebohongan dan korupsi.

Pengelola rumah makan Ampalu Raya, Septia Mustika mengatakan, aturan tersebut ia terapkan agar usaha milik orang tuanya tersebut tidak ketiban dampak dari praktek pencurian anggaran lewat bon kosong ini.

"Kita hanya sebagai penyalur supaya orang tidak berbuat korupsi (Pencurian anggaran.Red). Kalau seandainya mereka menyalahgunakannya berarti kita juga ikut berdosa. Makannya, kami tidak menerima adanya bon kosong," katanya saat dikunjungi tim Haluan Padang, Selasa (12/10).



Peraturan tegas rumah makan Ampalu Raya tersebut terpajang sejak 2018 lalu di salah satu sudut rumah yang berbunyi "Mohon maaf kami tidak melayani permintaan kwitansi atau bon kosong atau kwitansi/bon yang tidak sesuai dengan (nominal) belanja saudara".

CATATAN:

Sikap! Haluan Padang Ganti Kata Korupsi dengan Maling!


Diketahui, permintaan kwitansi/bon bodong kerap dilakukan banyak pihak untuk melakukan tindakan pencurian anggaran dalam sebuah transaksi. Biasanya, praktek ini lumrah dilakukan jika transaksi tersebut melibatkan pagu anggaran sebuah lembaga, perusahaan dan organisasi.

Tia menyebut, niat menerapkan peraturan itu diperoleh dari saudara laki-lakinya. Saat itu, saudara usai mengikuti pendidikan agama Islam soal larangan riba.

Berawal dari pendidikan itu, keluarganya kata Tia menyadari bahwa selain korupsi, pemberian kwitansi/bon yang tidak sesuai dengan nominal transaksi tersebut dilarang agama.

"Abang saya, setelah mengikuti pengajian agama langsung membuat tulisan tersebut karena menurutnya itu hal yang tidak boleh dibenarkan dan dilarang oleh agama. Sebab lain mungkin karena kedai Ampalu Raya ini sudah sering dimintai bon kosong," ungkap Tia.

Sepanjang pengalamannya menerapkan peraturan itu pihak yang memintai bon atau kuitansi kosong tersebut adalah dari jajaran Pejabat, ASN, Kedinasan, dan yang terkait dengan Pemerintahan.

"Di rumah makan lain mungkin bisa dimintai bon kosong, tapi disini tidak. Kalaupun mereka meminta kita tolak, biar saja mereka tidak jadi berbelanja," tegasnya.

Pernah pula, ungkap dia, rumah makan Ampalu Raya itu didatangi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk memeriksa keabsahan transaksi.

"Sering orang-orang melakukan itu, kebanyakan dari orang-orang dinas atau instansi-instansi. Kalau mahasiswa jarang," ungkap Tia.

"Pernah waktu itu ibu-ibu, entah dari BPK atau apalah, kesini makan dan bertanya. Dan kita jawab disini tidak melayani bon kosong atau kuitansi bohong," kenangnya.

Selain itu, rumah makan Ampalu Raya juga tidak melayani pemesanan melalui layanan daring karena menurut Tia, aplikasi tersebut terdapat riba dengan harga yang tidak sesuai dengan ketetapan yang ada di rumah makan Ampalu Raya.

"Kita tidak menggunakannya (layanan daring). Banyak sebenarnya orang-orang menginginkan pesanan online. Tapi kami tidak mau, sebab riba tadi," pungkas Tia.

[MAGANG | Viola Rahma Hafifah - Indra Trianto]


Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Enggan Bayarkan Zakat? Siap-siap Kena Azab Pedih!

Rabu, 22 September 2021 | 11:05 WIB

Sah! Super Weekend II PMPL PUBG Milik Bonafide

Minggu, 5 September 2021 | 22:26 WIB

Wuih! Player Esport Digaji Pakai Kripto

Jumat, 3 September 2021 | 16:21 WIB
X