8 Fakta Ngeri Filter Bubble Media Sosial, Nomor 3 Paling Bikin Penasaran

- Senin, 20 Juni 2022 | 21:18 WIB
Ilustrasi Social Media / www.pexels.com
Ilustrasi Social Media / www.pexels.com

HALUAN PADANG - Filter bubble media sosial sudah jadi hal yang lumrah ditemui dan dirasakan jika bermain sosial media. Apalagi sudah menjadi keharusan bagi masyarakat menyandingkan media sosial dengan aktivitas sehari-hari.

Wajar jika semua informasi di seluruh lini kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, budaya, agama, sosial, dan terutama hiburan dapat dengan mudah diakses melalui media sosial. Semuanya terasa mudah dan dapat menjawab pertanyaan hanya dengan mencarinya di media sosial.

Namun, pernahkah kamu bertanya mengapa semakin hari media sosial yang digunakan begitu paham dan tahu dengan apa yang kita cari dan sukai?

Misalnya, ketika kamu mencari konten atau informasi terkait kesehatan mental di instagram dan kamu menyukai suatu postingan terkait.

Baca Juga: Pentingnya Cyber Ethics, 'Pengawal' Konten Media Sosial Supaya Tidak Kelewat Batas

Nah, ketika kamu pergi ke fitur explore instagram, kamu bisa menjumpai dua sampai tiga postingan dengan topik serupa yang sudah dilike sebelumnya.

Informasi ini kemudian juga terkoneksi antara search engine, platform, serta aplikasi platform lainnya. Fenomena inilah yang di sebut sebagai filter bubble.

Filter bubble pertama kali ditemukan oleh Eli Pariser, ia merupakan seorang aktivis internet sekaligus penulis buku. Dirinya mengemukakan istilah ini di sebuah seminar TEDTalks di California pada tahun 2011. Ia menyebutkan terkait filter bubble, "dunia internet adalah milik setiap orang, yang unik dan bergantung bagaimana perilaku orang tersebut di internet".

Sebenarnya fenomena ini terdengar biasa saja dan malah memberikan manfaat pengguna dalam mencari serta mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan disukainya.

Namun, fenomena semacam ini juga dapat mengisolasi penggunanya dari ilmu pengetahuan yang luas, karena sebagian besar mereka hanya berada pada satu posisi yang disukai saja dan malah memblok mereka dari informasi yang sebenarnya mereka butuhkan.

Halaman:

Editor: Muhammad Daffa De Benny Putra

Tags

Terkini

Bahasa Daerah yang Mulai Ditinggalkan

Sabtu, 25 Juni 2022 | 12:07 WIB

Ilustrasi Tidak Logis

Minggu, 27 Februari 2022 | 21:38 WIB

Desa Kecil di Kota Kecil

Jumat, 11 Februari 2022 | 15:04 WIB

Menggugat “Bahasa”

Jumat, 4 Februari 2022 | 14:50 WIB

NAGARI RAMAH HARIMAU

Minggu, 16 Januari 2022 | 04:36 WIB

Speech Delay dan Perkembangan Teknologi

Sabtu, 15 Januari 2022 | 12:35 WIB
X