BKKBN Sumbar Gelar Sosialisasi Advokasi dan KIE Penanganan Stunting bersama Mitra Kerja di Tanah Datar

- Kamis, 2 Juni 2022 | 18:13 WIB
Sosialisasi Advokasi dan KIE Penanganan Stunting oleh BKKBN Sumbar di Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar, Kamis, 2 Juni 2022 (Foto/Tio Furqan)
Sosialisasi Advokasi dan KIE Penanganan Stunting oleh BKKBN Sumbar di Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar, Kamis, 2 Juni 2022 (Foto/Tio Furqan)

HALUAN PADANG - Masih dalam percepatan penanganan stunting, BKKBN Sumbar menggelar Sosialisasi Advokasi dan KIE Penanganan Stunting bersama Mitra Kerja di Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar, Kamis, 2 Juni 2022.

Hadir dalam sosialisasi tersebut Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar Fatmawati, Anggota Komisi IX DPR RI Darul Siska, Sekretaris Camat Salimpaung Erman, Kabid PMDPPKB Kabupaten Tanah Datar Irdayani.

Dalam laporannya, Sekretaris Camat Salimpaung, Erman menyampaikan data kasus stunting di Kecamatan Salimpaung dalam dua tahun terakhir. Ia menyebut, pada tahun 2021, terdapat 10 kasus, sementara di tahun 2022 terjadi peningkatan menjadi 62 kasus.

"Jadi wajar kita mengadakan sosisalisasi ini agar bisa menjadi pencerahan dan merubah pola pikir masyarakat kita dalam upaya pencegahan stunting karena ini menyangkut masa depan anak-anak kita. Kami ucapkan terima kasih kepada BKKBN atas kesempatan ini," tuturnya.

Pada kesempatan itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar Fatmawati menyampaikan bahwa saat ini BKKBN Sumbar tengah berupaya menekan angka stunting yang ada di setiap daerah di Sumbar.

BKKBN Sumbar bekerjasama dengan seluruh pihak terkait terus melakukan sosialisasi serta pendampingan terhadap masyarakat.

Baca Juga: Bahas Penanganan Stunting, Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo Hadiri Acara Gebyar Kader Se-Kabupaten Sijunjung

"Kita laksanakan sosialisasi ini agar ada perubahan perilaku terhadap masyarakat, saat ini ibu-ibu cenderung datang ke posyandu membawa anaknya hanya sampai usia 9 bulan setelah dirasa imunisasinya sudah cukup, padahal usia 9 bulan itu masih dalam 1000 hari pertama kehidupan yang masih butuh pantauan dan edukasi soal pola asuh, gizi seimbang dan cara berinteraksi. Ini yang masih banyak terjadi di tengah masyarakat," tuturnya.

Ia menyebut, selain sosialisasi, juga dilakukan intervensi potensi keluarga beresiko stunting berdasarkan pendataan keluarga.

"Kita juga punya tim pendampingan keluarga yang akan mendampingi mulai dari calon pengantin, masa kehamilan hingga melahirkan anak sampai usia 5 tahun, tujuannya agar tidak lagi lahir anak-anak beresiko stunting," tambahnya.

Halaman:

Editor: Tio Furqan

Tags

Terkini

Bkkbn Audit Kasus Stunting di Pariaman

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:21 WIB
X