Jokowi Buka 'Rahasia'! Beberkan Penyebab Mahalnya Harga Minyak Goreng

- Minggu, 22 Mei 2022 | 08:39 WIB
Presiden Joko Widodo meminta kepada relawan Pro Jokowi (Projo)agar tidak tergesa gesa membicarakan calon presiden (website sekretariat presiden)
Presiden Joko Widodo meminta kepada relawan Pro Jokowi (Projo)agar tidak tergesa gesa membicarakan calon presiden (website sekretariat presiden)

HALUAN PADANG - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeberkan penyebab kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri.

Salah satu sebab utamanya adalah kenaikan harga minyak secara global. Kepala Negara menyebut saat harga minyak dunia mengalami kenaikan, pasar domestik ikut terdampak.

Dia menyontohkan tingginya harga minyak goreng di Eropa dan Amerika Serikat (AS) berpengaruh terhadap harga komoditas serupa di negara lainnya.

Baca Juga: Minyak Goreng Curah Rp14.000 akan Tersedia di 5.000 Titik Lokasi Pasar Tradisional

"Harga internasional tinggi, semua negara mengikuti, ketarik ke sana. Karena harga minyak goreng di Eropa, di Amerika naiknya tinggi, harga di dalam negeri ketarik," ungkapnya saat membuka Rakernas V relawan Projo yang disiarkan secara daring, dikutip Minggu (22/5/2022).

Adapun harga minyak goreng di Jerman mencapai Rp47.000 per liter, di Singapura Rp41.000 per liter, lalu di AS Rp45.00p per liter. Harga ini tercatat sangat tinggi dibandingkan dengan Indonesia, di mana harga per liter minyak goreng curah hanya mencapai Rp14.000.

Jokowi pun memastikan harga minyak goreng di dalam negeri akan cukup stabil lantaran pemerintah mampu menekan kenaikan harga komoditas. Perihal ekspor minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO ) dan produk olahannya yang akan dibuka pada 23 Mei 20202 mendatang, lanjut Presiden, hal itu perlu dilakukan.

Baca Juga: Deretan Wilayah yang Paling 'Banjir' Minyak Goreng

Pasalnya, penghentian ekspor ini berdampak signifikan terhadap banyak sektor, salah satunya petani sawit. Tak hanya itu, larangan ekspor bahan baku minyak goreng ini juga berdampak pada pemasukan negara. Artinya, larangan ini membuat pendapatan negara merosot tajam. Jokowi pun menilai larangan tersebut bukan hal yang mudah.

"Tidak mudah, selain petani, urusan income negara, pajak dari sawit, biaya ekspor dari sawit, itu gede sekali, kurang lebih Rp60-Rp70 triliun," ungkapnya.(*)

Halaman:

Editor: Nova Anggraini

Sumber: sindonews.com

Tags

Terkini

X