Dalam Sebulan Aset Crypto Menyusut Rp 11.608 Triliun

- Rabu, 11 Mei 2022 | 13:35 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

HALUAN PADANG - Aset Crypto kehilangan hampir 800 miliar dolar AS atau Rp 11.608 triliun dalam nilai pasar selama sebulan terakhir, menyentuh level terendah 1,4 triliun dolar AS pada Selasa (10/5/2022), menurut CoinMarketCap. Kebijakan moneter telah mengurangi minat terhadap aset berisiko.

Bitcoin, yang mendominasi 40 persen dari pasar crypto, mencapai level terendah selama 10 bulan terakhir pada Selasa. Setelah itu, Bitcoin sempat rebound ke level 31.450 dolar AS, hanya enam hari setelah menyentuh 40 ribu dolar AS.

Harga aset digital yang merosot tajam mencerminkan penurunan ekuitas di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga agresif di seluruh dunia untuk mencegah inflasi yang tinggi selama beberapa dekade. Nasdaq yang berisikan saham-saham teknologi turun 28 persen dari rekor tertinggi November 2021.

Total nilai pasar crypto mencapai 2,2 triliun dolar AS pada 2 April. Angka tersebut jauh dari puncaknya sepanjang masa sebesar 2,9 triliun dolar AS pada awal November, menurut CoinMarketCap.

Baca Juga: Profil Ferdinand Romualdez Marcos Jr, Anak Eks Diktator yang Menang Pemilu Filipina

“Bitcoin tetap sangat berkorelasi dengan kondisi ekonomi yang lebih luas yang menunjukkan jalan di depan, sayangnya mungkin berbatu, setidaknya untuk saat ini,” kata penyedia data blockchain Glassnode dilansir Reuters, Rabu (11/5).

Tanda-tanda kelemahan dalam stablecoin, biasanya mata uang kripto yang lebih aman, semakin menakuti investor. TerraUSD, stablecoin terbesar keempat di dunia, kehilangan sepertiga nilainya pada Selasa karena kehilangan pasaknya terhadap dolar AS.

Terlepas dari penurunan harga bitcoin, dana dan produk yang terkait dengannya membukukan arus masuk sebesar 45 juta dolar AS minggu lalu karena investor mengambil keuntungan dari penurunan harga, menurut manajer aset digital Coinshares dalam sebuah laporan yang dirilis pada Senin (9/5).

“Likuiditas dalam jumlah besar telah menggelembungkan beberapa cryptocurrency ini,” kata Sebastien Galy, ahli strategi makro senior di Nordea Asset Management. Menurut Galy, crypto berada di bawah tekanan karena beberapa bank sentral memperketat kebijakan moneter mereka. (*)

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Sumber: Republika

Tags

Terkini

X