Ribuan Ton Ikan di KJA Maninjau Mati, Petani Rugi Puluhan Miliar

- Rabu, 5 Januari 2022 | 17:18 WIB
Ratusan ton ikan di keramba Maninjau mati (Istimewa)
Ratusan ton ikan di keramba Maninjau mati (Istimewa)

HALUAN PADANG - Petani Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Maninjau menderita kerugian besar akibat matinya ikan di penangkaran tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Rosva Deswira.

Ia mengatakan, jumlah kematian ikan di KJA hingga saat ini sudah mencapai 1.764 ton. Akibat ini, kerugian petani sudah mencapai Rp35,28 miliar.

Baca Juga: Kematian Ribuan Ton Ikan di Danau Maninjau Menimbulkan Polusi Udara

"Jumlah tersebut dihitung dari harga ikan yang dijual petani perkilogramnya," katanya.

Ia menjelaskan, petani menjual ikan dari Keramba Jaring Apung (KJA) ini pada harga Rp20 ribu perkilogram.

"Dari tiga tahap kematian, jumlah keseluruhannya kita dapatkan segitu," paparnya.

Baca Juga: Sumbar Kemarin: Kebanjiran di Malam Tahun Baru hingga Pencemaran Danau Maninjau karena Ikan Mati

Dari hasil pemeriksaan, kematian ikan ini akibat curah hujan cukup tinggi disertai angin kencang melanda daerah itu, sehingga terjadi pembalikan air dasar ke permukaan danau.

"Akibatnya oksigen di Danau Maninjau berkurang dan ikan menjadi pusing dan mati. Beberapa menit setelah itu, tambahnya, bangkai ikan mengapung ke permukaan danau," kata dia.

Hal demikian senada dengan kajian yang disampaikan oleh Ronaldo Abu Bakar, konsultan Olimpiade Sains Nasional bidang Geografi asal Departemen Geografi Universitas Indonesia.

Baca Juga: Kematian Ribuan Ton Ikan di KJA Danau Maninjau Bikin Air PDAM Tercemar

Ia menjelaskan, angin kencang memicu pembalikan massa air hingga limbah organik naik ke permukaan dan memicu kematian 400 ton ikan di Danau Maninjau.

Oleh karena itu, danau perlu dijaga dari limbah organik yang berlebihan.

"Penyebab upwelling adalah angin kencang yang menyebabkan arus permukaan danau menjauhi pesisir. Sehingga akan ada arus dari dalam danau bergerak naik ke permukaan," ungkap dia.

Baca Juga: Kematian Ribuan Ton Ikan di KJA Danau Maninjau Bikin Air PDAM Tercemar

Menurutnya, terdapat banyak endapan/sedimen yang kaya bahan organik di dasar perairan. Bahan organik itu berasal dari sisa-sisa makanan ikan, kotoran-kotoran ikan, dan lain-lain.

Bahan organik tersebut kaya akan nutrien, antara lain nitrogen dan fosfor. Unsur nitrogen dan fosfor akan naik ke permukaan perairan, menyebabkan fenomena eutrofikasi.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bkkbn Audit Kasus Stunting di Pariaman

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:21 WIB
X