Dukung KSAL, Ketua Komite I DPD RI : Kedaulatan Negara di Atas Segalanya

- Kamis, 9 Desember 2021 | 15:07 WIB
Ketua Komite I DPD RI Fachrul Razi/ foto: istimewa
Ketua Komite I DPD RI Fachrul Razi/ foto: istimewa

HALUAN PADANG - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono meminta prajuritnya untuk menunjukkan kekuatan pada lawan maupun kawan serta pihak-pihak yang merongrong kedaulatan dan mengganggu kepentingan negara di laut Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Yudo Margono di tengah kondisi meningkatnya ketegangan di Laut Natuna Utara usai Indonesia mendapat protes dari China.

Merespon pernyataan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono, Selasa, (7/12/2021), Ketua Komite I DPD RI, Fachrul Razi mendukung penuh pernyataan tersebut.

Menurutnya TNI AL tidak akan mundur lantaran tak ada tawar menawar terkait urusan yang menyangkut kedaulatan dan kehormatan bangsa. Ia juga meminta kedaulatan negara menjadi prioritas utama Negara untuk dilindungi dari gangguan asing.

Fachrul Razi juga menekankan kedaulatan bangsa di atas segala-galanya, oleh karena itu tidak boleh ada bangsa lain yang ingin menghina kedaulatan republik kita.

"Kedaulatan Negara di atas Segalanya. TNI-AL telah memiliki image dan kesan yang kuat serta terus berkembang baik. Kualitas personil, persenjataan dan alutsista, serta kesejahteraan dan kuantitas personel TNI-AL telah menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapabilitas yang hebat di bidang
militer. Maka, usaha picture-building untuk membangun postur TNI-AL yang kuat telah berhasil. Akan tetapi, selain memberikan kesan yang kuat dan siap, TNI-AL juga harus mampu menunjukkan kesan yang lembut dan mampu menjadi penengah di dalam konflik yang sedang terjadi," kata Fachri.

"Hal ini untuk menghindari pencaplokan wilayah teritorial kita dari China di Laut Natuna Utara," lanjut alumni FISIP Universitas Indonesia tersebut.

Fachrul Razi menambahkan, Indonesia dapat
menerapkan langkah deterrence sebagai salah satu upaya naval
diplomacy. Ide dasar dari serangan dan pertahanan
adalah letak sumber kekuatan dimana terdapat area vital dan strategis, di sanalah pusat serangan yang lebih besar.

"Indonesia, sebagai salah satu negara yang paling vokal dan memiliki bargaining power terkuat dalam ASEAN, telah mengupayakan
berbagai macam diplomasi untuk mencapai resolusi konflik di
Laut Tiongkok Selatan. Kawasan dengan potensi yang strategis
tentunya membutuhkan kebijakan strategis pula. Negara yang tidak mampu meramu
kebijakan strategisnya di kawasan ini akan kehilangan kepentingan strategisnya pula," jelas Fachrul Razi.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

X