Museum Chatib Sulaiman Direvitalisasi Menjelang Hari Bela Negara

- Rabu, 8 Desember 2021 | 20:31 WIB
Dosen STKIP AP Payakumbuh di Museum Chatib Sulaiman
Dosen STKIP AP Payakumbuh di Museum Chatib Sulaiman

 

 

HALUAN PADANG - Memasuki bulan Desember ada sebuah ritual historis yang digelar di Sumatera Barat dan di seluruh Indonesia. Tepatnya pada 19 Desember yang bersamaan dengan awal dari Pemerintah Darutat Republik Indonesia (PDRI).

Tanggal 19 Desember kemudian ditetapkan sebagai Hari Bela Negara (HBN) melalui Keputusan Presiden No 28 Tahun 2006. Tanggal tersebut lalu diperingati tiap tahunnya untuk mengenang peristiwa penting dan bersejarah dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia itu.

Berkenaan dengan peringatan bersejarah itu,  pada Kamis (02/12-2021) Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh, menggelar revitalisasi Museum Chatib Sulaiman yang berlokasi di Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuh  Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.

Revitalisasi Museum yang diikuti oleh lima orang staf dosen serta puluhan mahasiswa yang dipimpin Destel Meri, M.Pd , Ketua Prodi Pendidikan Sejarah. Untuk kegiatan tahap awal yang dilaksanakan adalah mendata kembali referensi bacaan yang dimiliki museum untuk dibuatkan katalog perpustakaan, serta memberikan keterangan pada foto-foto yang terpajang di dinding museum.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat yang rutin dilaksanakan oleh Prodi Pendidikan Sejarah sekaligus perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan revitalisasi museum ini, akan kembali digelar pada semester genap, dengan  agenda menata kembali foto-foto yang terpajang di dinding museum.

Bangunan Museum Chatib Sulaiman, bermula dari rumah singgah yang didirikan oleh Dinas Sosial Kabupaten Limapuluh Kota. Atas fasilitasi Wali Nagari Situjuah Don Vesky Dt. Tan Marajo, rumah singgah itu diizinkan untuk dimanfaatkan sebagai bagian utama dari Museum.

Museum Chatib Sulaiman sendiri sudah diresmikan pada 15 Januari 2019 dalam suatu upacara militer.  Peresmian tersebut dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, pejabat dari Kabupaten Limapuluh Kota, dan TNI/Polri, keluarga pejuang Situjuah Batua, tokoh masyarakat, dan unsur lainnya.

Lokasi musem yang berada di Lurah Kincia tersebut, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peristiwa 15 Januari 1949, atau yang dikenal dengan Peristiwa Situjuah Batuah. Peristiwa penyerangan dan penembakan membabi buta oleh tentara Belanda pada Subuh,15 Januari 1949, itu telah menewaskan sejumlah pejabat sipil dan militer. 

Di antara nama-nama pejuang yang gugur dalam peristiwa Sitjuah Batua tersebut ialah Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD), Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Limapuluh Kota), Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri,Syamsuddin, dan Rusli. (Rel)

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

X