Pemerintah Revitalisasi Kota Tua, Budayawan: Semangat Multikulturalisme Jangan Sampai Dilupakan

- Jumat, 3 Desember 2021 | 19:00 WIB
Kawasan Batang Arau, Kota Tua Padang (Wikipedia)
Kawasan Batang Arau, Kota Tua Padang (Wikipedia)


Haluan Padang - Pemerintah Kota (Pemko) Padang dan jajarannya tengah mematangkan konsep Tempoe Doeloe yang akan diterapkan di kawasan Kota Tua Padang. Konsep ini ingin menghadirkan kembali nuansa Padang tempoe doloe di Kota Tua demi menciptakan ikon baru parisiwata di Padang. Ini merupakan program prioritas Pemerintah Kota (Pemko) Padang, kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD). 

Baca Juga: Bangunan-bangunan Lama Dicat, Kota Tua Padang Bakal Kembali ke Tempo Doeloe

Langkah awal telah dilakukan dengan mengecat putih sejumlah bangunan lama serupa warna aslinya.

“Merevitalisasi Kota Tua adalah pekerjaan yang harus didukung semua pihak,” ujar Heru Joni Putra, Budayawan yang juga peneliti cagar budaya dan memori kolektif kepada Haluan Padang saat memberi komentar melalui percakapan whatsapp terkait pengecatan gedung-gedung lama di Kota Tua, Jumat (3/12).

Meski begitu, lanjut Heru, pekerjaan menghias serta mempercantik Kota Tua juga harus diikuti upaya untuk memaknai kembali memori kolektif atau ingatan bersama masyarakat tentang Kota Tua. Menurut alumnus Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Indonesia itu, Kota Tua Padang bukan sebatas soal bangunan-bangunan lama. Di sana juga tersimpan memori kolektif tentang multikuturalisme, tentang bagaimana masyarakat hidup berdampingan dalam budaya yang beragam-ragam.

“Kota Tua adalah satu situs memori kolektif yang merepesentasikan multikulturalisme di Padang. Semangat multikultural itu jangan sampai terlupakan ketika di saat yang sama kita mencoba melakukan pembenahan Kota Tua.,” lanjut Heru.

“Di luar soal pemugaran bangunan, narasi-narasi tentang multikulturalisme mesti turut disebar-luaskan dengan berbagai bentuk,” tambahnya.

Jika pembenahan lebih ditekankan di segi fisik, Heru khawatir ingatan bersama soal multikulturalisme itu akan terlupakan dan akhirnya hilang. Hilangnya ingatan tersebut, bisa saja membawa akibat yang tidak baik.

Ia mengilustrasikannya dengan berkata bahwa Kota Tua itu layaknya sebuah flashdisc. Di dalamnya tersimpan sekian gigabyte data. Data-data itu bisa saja hilang atau rusak meski fisik flashdisc tampak baik-baik saja. Bahkan, orang yang punya kepentingan tidak baik, bisa saja menghapus data-data tersebut dan mengisinya dengan data-data lain atau virus.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

X