Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo Picu Polemik

- Kamis, 2 Desember 2021 | 00:44 WIB
Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo, Bumi Minang Rabu (1/22/2021) (Randi Reimena / Haluan Padang)
Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo, Bumi Minang Rabu (1/22/2021) (Randi Reimena / Haluan Padang)

Baca Juga: Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo: Tim Peneliti Ungkap Sejumlah Temuan Awal

Kritik atas hasil penelitian juga datang dari penulis sejarah Hasril Chaniago. Salah satu yang paling disorot Hasril ialah penggunaan sumber. Salah satu sumber yang banyak digunakan tim peneliti, yaitu tulisan seorang penulis sejarah Minangkabau bernama A.R Chaniago menurut Hasril tidak kredibel. Menurutnya yang apa ditulis A.R bukanlah sejarah, melainkan sijarah, yaitu percampuran antara tambo dan sejarah. Penulisan inisial A.R pun tidak tepat karena menurut Hasril inisial yang benar adalah H.R.

Ia mengetahui hal tersebut karena dirinyalah yang dulu memberi A.R sebuah kolom bernama sijarah di sebuah surat kabar. A.R sendirilah menurut Hasril yang menciptakan istilah sijarah dengan sadar karena A.R memang tidak berniat menulis sejarah dalam arti narasi sejarah dengan metodologi ketat. Apa yang ditulis A.R lebih tepat disebut main-main atau cocoklogi. Karena itu, ia khawatir hasil kerja tim peneliti juga akan tercebur menjadi sijarah alih-alih sejarah.

Kekayaan Budaya Jambu Lipo dan Penelitan Sejarah Lebih Jauh

Tim peneliti sendiri menyadari bahwa di luar sejumlah temuan awal yang mereka peroleh, yang lebih banyak berupa tinggalan budaya ketimbang fakta-fakta historis baru, juga diiringi berbagai kendala teknis yang menghambat tim peneliti untuk mengungkap lebih jauh soal sejarah Kerajaan Jambu Lipo.

Meskipun tim (termasuk para penanggap) sepakat bahwa Kerajaan Jambu Lipo sudah berdiri sejak lama, namun tim belum bisa memberi kepastian terkait tahun-tahun penting dalam sejarah kerajaan Jambu Lipo. Menurut mereka, meski Kerajaan Jambu Lipo kaya dengan sumber lisan, namun sumber atau arsip tertulis yang sangat terbatas menjadi kendala berarti dalam penelitian tersebut.

Tim peneliti juga menekankan bahwa temuan mereka masih bersifat temuan awal atau temuan sementara. Kertas kerja yang mereka paparkan pun masih berupa draft yang akan disempurnakan lewat penelitian lebih jauh.

“Untuk mendapat narasi sejarah yang betul-betul kokoh, sumber lisan saja belum cukup. Sementara sumber tulisan sangat terbatas. Ada beberapa sumber penting seperti tambo, namun sayangnya kita belum bisa mengaksesnya. Karena itu penelitian ini sebetulnya lebih bersifat penelitian budaya daripada penelitian sejarah,” terang Nopriyasman saat diwawancarai Haluan Padang seusai seminar.

Baca Juga: Pantun, Teka-teki, dan Talibun Jaman Rodi

Namun begitu, Nopriyasman menggarisbawahi bahwa narasi sejarah Kerajaan Jambu Lipo yang masih kabur dan tidak begitu terang tidak membatalkan fakta bahwa Jambu Lipo hari ini penuh dengan kekayaan budaya yang sudah dijalankan sekian lama serta memiliki arti sangat penting bagi kelangsungan Jambu Lipo.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Bkkbn Audit Kasus Stunting di Pariaman

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:21 WIB
X