Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo Picu Polemik

- Kamis, 2 Desember 2021 | 00:44 WIB
Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo, Bumi Minang Rabu (1/22/2021) (Randi Reimena / Haluan Padang)
Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo, Bumi Minang Rabu (1/22/2021) (Randi Reimena / Haluan Padang)

HALUAN PADANG - Kertas kerja yang dipaparkan Tim Peneliti Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo dalam Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo sempat memantik polemik. Dalam seminar yang diadakan di Balroom Bundo Kanduang Hotel Bumi Minang, Rabu (1/12) itu, sejumlah penanggap hasil penelitian tampak kurang puas.

Prof. Novesar Jamarun, salah satu penanggap, mempermasalahkan narasi sejarah Kerajaan Jambu Lipo yang dibangun oleh tim peneliti yang dinilainya tidak beda jauh dengan narasi-narasi sejarah yang telah ada. Padahal, menurutnya, ia berharap penelitian ini dapat memperterang banyak hal terutama soal abad-abad awal kemunculan Jambu Lipo.

Menurut Novesar, meski ia bukan akademisi dengan latar sosial budaya, sebagai peminat sejarah ia cukup terganggu dengan tidak adanya narasi sejarah yang pasti tentang kemunculan Kerajaan Jambu Lipo. Di beberapa sumber, lanjutnya, Jambu Lipo disebut telah ada sejak abad ke-10, sedang sumber lainnya menyebut kerajaan tersebut baru ada sekitar abad ke-14. Kekacauan seperti ini menurutnya memiliki dampak tersendiri.

Baca Juga: Mengikuti Perjalanan Thomas Dias ke Pagaruyung Tahun 1684

Ia mencontohkan, jika sumber pertama valid, katanya lagi, berarti anggapan yang selama ini berlaku bahwa Jambu Lipo adalah ‘sapiah balah’—semacam perluasan dari kerajaan lain yang lebih besar dan kuat—dari Pagaruyung menjadi batal.

Namun dalam kertas kerja tim peneliti, ia tidak melihat upaya untuk membereskan kesimpangsiuran tersebut. Dalam kertas kerjanya, tim peneliti dinilainya malah terlihat terlalu netral saat mengetengahkan banyak versi soal sejarah Jambu Lipo tanpa kecendrungan untuk membenarkan salah satu versi. Menurutnya, tim peneliti seharusnya lebih berani mengambil posisi tegas.

Kecendrungan tim peneliti untuk ‘bermain aman’ juga dilihat Novesar dalam soal asal-usul nama Jambu Lipo. Meski tim tampak lebih sepakat dengan salah satu versi asal-usul nama Jambu Lipo, namun tim tetap menuliskan semua versi seolah-olah semua versi dapat dipercaya. Dalam kertas kerjanya, tim peneliti menulis tiga versi asal-usul nama Jambu Lipo yang berkaitan dengan komitmen di masa lalu yaitu Jan Buliah Lupo, Jan Ibu Lupo, dan Jan Buhua Lupo.

Novesar kemudian mempertanyakan apakah betul diksi ‘ibu’ sudah setua itu dan memang sudah dikenal oleh masyarakat Minang sejak dahulu kala. Jika belum terbukti, maka ia menyarankan agar versi tersebut ditulis disertai dengan penjelasan yang lebih jauh dan lebih kritis.

Tim Peneliti sendiri mengatakan berbagai versi asal-usul itu ditulis untuk menunjukkan bahwa pada dasarnya Jambu Lipo sebagai sebuah kerajaan muncul dan bertahan hidup lewat ikatan tertentu dengan kerajaan lain. Nama-nama tersebut disebut tim peneliti mengindikasikan adanya ikatan atau komitmen antara Jambu Lipo dengan kerajaan lain. Dan hal tersebut terutama tampak pada ‘Jan Buhua Lupo’ yang berarti ‘jangan sampai ikatan dilupakan’.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

X