Padang Rawan Kekerasan Seksual, Sistem Perlindungan Anak Harus Dievaluasi

- Selasa, 23 November 2021 | 17:06 WIB
Ilustrasi Sumbar Darurat Kekerasan Seksual (HALUAN CREATIVE | M Budiman)
Ilustrasi Sumbar Darurat Kekerasan Seksual (HALUAN CREATIVE | M Budiman)

HALUAN PADANG - Salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak soal advokasi kebijakan perlindungan anak dan pencegahan kasus kekerasan terhadap anak Yayasan Ruang Anak Dunia (Ruandu) menilai pemerintah harus mengevaluasi sistem pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak di Kota Padang.

Program Manager Yayasan Ruang Anak Dunia Wanda Leksmana mengatakan, dengan meningkatnya angka kekerasan seksual pada anak di Padang belakangan pemerintah perlu mengevaluasi hal tersebut demi meningkatkan sensitifitas pelaporan.

"Karena selama ini semua pihak memiliki sensitifitas yang tinggi apabila telah terjadinya kasus yang mengakibatkan dukungan semua pihak tidak satu frekuensi antara indikasi kasus dengan kasus yang telah terjadi," katanya, Selasa (23/11).

Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual Anak Meningkat Hampir 100 Persen Di Kota Padang

Baca Juga: Ibu Korban Pemerkosaan Berjamaah di Padang Masih Berstatus Saksi

Wanda menjelaskan penyebab kekerasan seksual ini meningkat akibat semua pihak termasuk anak belum terpapar secara optimal tentang pendidikan kesehatan reproduksi.

Bagi kalangan masyarakat tertentu, imbuh Wanda, mempelajari atau bahkan mendengar kalimat pendidikan kesehatan reproduksi menjadi hal yang tabu atau tidak lumrah dibicarakan dalam ranah publik.

Baca Juga: Berikut ini Ciri-ciri Anak yang Mungkin Alami Kekerasan Seksual, Cara Melaporkan, dan Cara Pencegahan

Baca Juga: Darurat Kekerasan Seksual, Inilah Deretan Kasus Pencabulan di Padang dalam Sepekan

"Terkadang apabila topik tersebut dibicarakan pada ranah adat, sebagian tokoh mengatakan bahwa itu adalah sumbang. Padahal pendidikan kesehatan reproduksi mengajarkan kepada anak dan orang dewasa untuk menghargai bagian tubuh anak yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh siapapun termasuk oleh orang tua kandung laki-laki," jelasnya.

Menurutnya hal tersebut merupakan upaya edukasi dan pencegahan bagi anak supaya tidak mengalami pelecehan, kekerasan, dan kejahatan seksual.

Baca Juga: Sumbar Darurat Kekerasan Seksual

"Maka ke depan, sangat perlu didorong hadirnya kurikulum pada satuan pendidikan di sekolah terkait dengan pendidikan kesehatan reproduksi," imbuhnya.

Di sisi lain, dalam penanganannya dan implementasi pemberian perlindungan terhadap anak, Wanda menyebut pihaknya membutuhkan kolaborasi dengan banyak pihak demi meningkatkan sensitifitas.

"Tentu butuh sinergi dan kolaborasi semua pihak untuk meningkatkan sensitifitas perlindungan anak dimulai dari kepekaan terhadap indikasi kekerasan terhadap anak melalui program pencegahan.

Ke depan, sangat perlu didorong hadirnya kurikulum pada satuan pendidikan di sekolah terkait dengan pendidikan kesehatan reproduksi," papar dia.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X