Update Pemerkosaan Berjamaah Dua Bocah di Padang, Kondisi Psikis Korban Mengkhawatirkan

- Rabu, 17 November 2021 | 18:37 WIB
Ilustrasi pencabulan.  (pikiran-rakyat.com)
Ilustrasi pencabulan. (pikiran-rakyat.com)

HALUAN PADANG - Masyarakat Kota Padang baru saja digegerkan dengan kasus pencabulan anak dibawah umur yang notabene dilakukan oleh keluarganya sendiri, Rabu (17/11/2021).

Tidak tanggung-tanggung, pelakunya berjumlah enam orang yang terdiri dari Kakek Korban, Paman Korban, dua orang kakak kandung korban, kakak sepupu korban dan tetangga korban.

Aksi bejat ini dilakukan berulang dan secara bergantian. Dua Korban yang masih berusia 7 tahun dan 5 tahun tidak berdaya melawan buasnya nafsu keluarganya sendiri. Sampai akhirnya trauma untuk pulang ke rumah.

Trauma inilah yang menjadi pintu gerbang terkuaknya kasus ini. Korban memilih berdiam diri di rumah tetangga hingga larut malam dan tak mau pulang. Sampai akhirnya, kasus ini terkuak saat si tetangga menanya kenapa kedua korban tidak mau pulang walaupun hari sudah malam.

Psikolog Universitas Andalas, Nila Anggreiny mengungkapkan apabila fungsi dan peran keluarga tidak berjalan dengan baik, bisa memunculkan penyakit psikologi di tubuh keluarga tersebut. Bahkan merangsang munculnya predator seksual terhadap anak.

"Secara umum, jika peran dan fungsi keluarga tidak berjalan dengan baik. Bisa memunculkan beragam penyakit psikologi. Termasuk predator anak," sebut Nila, Rabu (17/11/2021).

Fungsi dan peran keluarga yang tidak berjalan dengan baik bisa dilihat dari pola komunikasi. Bagaimana cara berkomunikasi antar anggota keluarga, bahkan berkomunikasi dengan diri mereka sendiri.

"Jadi untuk mengetahui baik atau tidaknya peran setiap keluarga itu dari cara berkomunikasi," kata Nila.

Semakin lama cara komunikasi berlangsung buruk, maka semakin rentan keluarga tersebut terserang penyakit psikologi.

Bisa seperti malas mengurus keluarga, kurang berinteraksi, menasehati dan yang paling fatal hilangnya kasih sayang dan perasaan untuk saling melindungi di dalam keluarga itu sendiri.

"Faktor inilah yabg biasa merangsang munculnya predator seksual terhadap anak. Sampai akhirnya tega mencabuli anak kecil didalam keluarganya sendiri. Rasa untuk saling melindungi dan mengayomi telah hilang," ucap Nila.

Di sisi lain disebutkan Nila, anak di bawah umur sangat rentan menjadi korban pelecehan seksual. Pasalnya, anak belum begitu menguasai cara berkomunikasi. Mereka lebih mengutamakan emosional.

"Apalagi anak yang sering mendapatkan guncangan secara mental dan pemaksaan secara fisik. Itu semakin susah menguasai komunikasi dengan orang lain. Anak akan lebih banyak memilih diam," sebut Nila.

Posisi anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh keluarganya sendiri, semakin membuat anak terjepit.

Dalam alam bawah sadar si anak, keluarga seperti kakak, ayah, ibu atau yang lebih tua bisa menjadi pelindung bagi diri mereka. Namun kenyataannya, merekalah yang menjadi pelaku.

"Traumatik anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh keluarganya sendiri itu jauh lebih berat dari pada anak yang menjadi korban dari orang lain. Mereka merasa tidak ada yang mau melindungi," ucapnya.

Karena itulah perlu pendampingan secara masif untuk mengembalikan mental dan karakter si anak.

"Biasanya anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh keluarganya sendiri. Sudah mengalami perubahan sikap dan karakter," sebutnya.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X