Gambir Punya Potensi Besar Topang Ekspor Sumbar, Tapi Bikin Petani Buntung

- Rabu, 27 Oktober 2021 | 17:05 WIB
Petani Gambir (Bisnis Indonesia)
Petani Gambir (Bisnis Indonesia)

HALUAN PADANG - Gambir menjadi salah satu komoditi ekspor Sumatera Barat. Hal itu diakui oleh Kementerian Investasi RI. Hanya saja, peluang potensi dari Gambir masih dalam kajian pemerintah.

Kondisi demikian membuat potensi dari komoditi ini belum terpetakan dengan baik. Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Daya Saing Penanaman Modal Kementerian Investasi, Heldy Satrya Putra mengatakan di sela kajian, pihaknya akan menyampaikan potensi Gambir Sumbar ini pada calon investor.

"Saat ini kami masih berproses dalam menyusun kajian ini," katanya singkat.

Sejauh ini menurut dia, untuk meningkatkan nilai Gambir perlu dibangun industri pengolahan. Pihaknya pun juga akan menyiapkan studi khusus soal industri pengolahan tersebut di Sumbar.

Kemudian, akan dibuatkan juga kajian tentang pasar. Seperti apa pasar yang harus dikembangkan untuk komoditas gambir di Sumbar.

"Pada akhirnya, kami berharap kualitas komoditas gambir dapat ditingkatkan. Industri dapat dikembangkan untuk pengolahan gambir, sehingga gambir tidak hanya menjadi bahan mentah tetapi sudah menjadi bahan yang diolah di Sumbar," jelas Heldy.

"Kemudian, kajian atau peta potensi ini dapat pula digunakan untuk meyakinkan para investor berinvestasi di Sumbar untuk mengembangkan komoditas gambir," imbuhnya.

Petani Buntung

Kendati punya potensi besar, ternyata Gambir belum menguntungkan petani. Hal demikian diungkapkan oleh Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah.

Mahyeldi menjelaskan harga gambir Sumbar kerap jeblok hingga Rp19 ribu-Rp25 ribu per kilogram. Dengan harga itu, petani sama sekali tidak mendapatkan untung. Harga yang tidak stabil itu terjadi karena monopoli pedagang dalam menetapkan harga.

Selain itu, juga ada persoalan kualitas gambir yang kurang naik hingga SDM petani yang perlu dibenahi.

"Ada beberapa kasus di mana petani gambir mencampur produknya sehingga kualitas turun. Namun, pedagang malah mau membeli produk tersebut sehingga menjadi kebiasaan," jelasnya.

"Ada pula kasus perusahaan yang mau menerima gambir berupa daun sehingga pendapatan petani bukannya naik tapi malah menurun," ujar dia.

Pemerintah menurutnya harus melakukan intervensi untuk menyelesaikan persoalan itu. Salah satu wacana yang dikembangkan adalah membentuk BUMD khusus gambir yang membeli produl pada petani dengan harga keekonomian kemudian menjual kembali pada pedagang.
Namun kebijakan tersebut membutuhkan kajian lebih dalam. Oleh karena itu, dukungan dari Kementerian Investasi sangat besar artinya.

"Kita berharap akan ada solusi secepatnya sehingga petani gambir Sumbar bisa sejahtera," tutur dia kemudian.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Tahun 2022, Pemerintah Tiadakan Lowongan CPNS

Rabu, 19 Januari 2022 | 13:52 WIB
X