Kopi Arabika dari Solok Selatan Tembus Benua Eropa dan Amerika

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 12:48 WIB
[Ilustrasi biji kopi] Kopi Kabupaten Bandung sudah diakui menjadi yang terbaik, bahkan sampai mancanegara.  Kopi pun bukan hanya dijual dalam bentuk buah. (Pixabay/Young_n )
[Ilustrasi biji kopi] Kopi Kabupaten Bandung sudah diakui menjadi yang terbaik, bahkan sampai mancanegara. Kopi pun bukan hanya dijual dalam bentuk buah. (Pixabay/Young_n )

HALUANPADANG.COM - Seorang petani kopi bernama Zikwan asal Golden Arm, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan berhasil memasarkan kopi ke pasar internasional. 

Saat ini kopi yang dihasilkan Zikwan telah menembus pasar Eropa dan tengah bersiap untuk menjajali permintaan dari Benua Amerika yang nantinya akan dijual kembali ke beberapa negara seperti Jepang dan Malaysia.

"Alhamdulillah saat ini saya sudah mulai menikmati hasil jerih keringat dan usaha selama ini," kata Zikwan yang dikutip dari harianhaluan.com pada Rabu (13/10).

Awalnya Zikwan memulai usahanya dilahan 2 hektare pada tahun 2016. Di Awal-awal Zikwan merintis, ia mengalami beberapa kendala pada pemasaran kopi Arabika. Ia mengatakan saat itu di dalam negeri komoditas kopi jenis Robusta lebih dominan dibandingkan Arabika.

"Arabika ini cocok di daerah dengan ketinggian diatas 1.000 meter diatas permukaan laut (mdpl). Nah, sementara petani kopi kita dominan pada jenis robusta dan kopi jenis Arabika bisa dikatakan belum banyak," jelasnya.

Untuk bisa masuk ke pasar Negara Norwegia,  Zikwan menjelaskan kopi Arabika Solsel yang telah ia proses akan dilakukan uji sampel terlebih dahulu sebelum dipasarkan ke benua Eropa.

Setelah sukses tembus di benua Eropa, permintaan datang dari benua Amerika untuk memenuhi kebutuhan pasar di Negara Matahari Terbit dan Negri Jiran.

"Ekspor perdana itu pada Agustus 2021 dengan volume 1 ton dalam bentuk biji kopi yang belum dipanggang (green coffee bean)" tuturnya.

"Dari sample yang kita kirimkan rupanya diterima oleh royal Amerika dan kemungkinan pada awal tahun 2022 sekitar 9 ton bakal di ekspor lagi," lanjutnya

Kualitas kopi Arabika yang dihasilkan oleh Solsel bisa terbilang cukup bagus dan memenuhi standar pasar luar negeri. Akan tetapi Zikwan menjelaskan ia cukup kesulitan dalam memasok kopi untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.

Untuk mengakali kebutuhan pasar luar negeri, Zikwan menerima kopi yang dihasilkan oleh petani lokal dan nantinya akan diolah di rumah prosesor kopi miliknya. Biasanya Zikwan membeli biji kopi petik merah (cerry) dengan harga Rp9 ribu/kg dan untuk green coffe bean Rp90 ribu/kg.

Dalam upaya memenuhi kualifikasi pangsa pasar, Zikwan sering mengedukasi petani untuk bisa melakukan prosesor kopi sendiri agar memiliki nilai jual tinggi dan mensejahterakan petani.

"Kebiasaan petani itu kan, pulang dari kebun atau ladang sehabis memetik kopi langsung bisa dinikmati uangnya dengan menjual langsung. Harusnya jika bersabar dan diproses jauh memiliki nilai ekonomi," ujar Zikwan.

Zikwan mengharapkan petani yang ada di Solsel bisa mengelola hasil kopi secara mandiri. Hal ini berguna untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.

"Jika panen raya kopipun masih bernilai tinggi. Setidaknya, apabila ada 20 unit rumah prosesor kopi di Solsel dengan kapasitas 1 ton masing-masing prosesor maka hasil yang diperoleh itu bisa 20 ton dan ini akan memudahkan petani Solsel sebagai eksportir kopi ke mancanegara," tutupnya.(*)

[Magang | Indra Trianto]

Halaman:

Editor: Emen HLN

Tags

Terkini

Bejat, Pria Di Agam Tega Cabuli Anak Kandung Sendiri

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:03 WIB
X