INFOGRAFIS: Tujuh Fakta Tentang Haswandi, Hakim Agung Urang Awak yang Sering Pegang Kasus Kakap

- Kamis, 23 September 2021 | 08:00 WIB
Karikatur dan Infografis Hakim Haswandi, urang awak yang ditunjuk menjadi hakim agung pada Mahkamah Konstitusi/Kevin-Budi
Karikatur dan Infografis Hakim Haswandi, urang awak yang ditunjuk menjadi hakim agung pada Mahkamah Konstitusi/Kevin-Budi

HALUANPADANG.COM – Dr Haswandi, hakim agung yang sudah ditetapkan Komisi III DPR RI, termasuk hakim yang acap disorot karena seringkali memegang kasus kakap. Lelaki kelahiran Payakumbuh itu bahkan pernah disentil aktivis anti korupsi karena menerima praperadilan tersangka korupsi yang ditangani KPK.

Berikut sejumlah fakta tentang hakim Haswandi:

  1. Pernah “Tumbangkan” KPK

Pada 2015, hakim Haswandi disorot media karena mengabulkan gugatan praperadilan eks Kepala BPK Hadi Poernomo dalam penetapannya sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan rekomendasi permohonan keberatan pajak BCA tahun 1999.

Ketika itu, Hadi Poernomo tidak terima penetapannya sebagai tersangka dan melayangkan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dimana Haswandi bertindak sebagai hakim.

  1. Menjatuhkan Vonis untuk Anas Urbaningrum

Hakim Haswandi juga menjadi hakim ketua dalam kasus dugaan korupsi Wisma Hambalang, dengan terdakwa Anas Urbaningrum. Haswandi menjatuhkan vonis 8 tahun penjara kepada Anas.

Dalam putusannya, Haswandi menyebut bahwa Anas terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara berlanjut.

Baca Juga: Disetujui DPR RI, Urang Awak yang ke Kantor Pakai Motor Shogun itu Kini Menjadi Hakim Agung

  1. Ikut Sidangkan Susno Duadji

Hakim Haswandi mulai dikenal publik saat menjadi anggota majelis yang menangani kasus dugaan pemotongan dana pengamanan pilkada Jabar dengan tersangka mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji.

Haswandi duduk sebagai anggota majelis bersama hakim Artha Theresia dan Charis Mardiyanto sebagai ketua majelis.

Dalam persidangan haswandi cukup kritis dalam menggali informasi dan fakta dari para saksi termasuk enam mantan Kapolres pada saat Susno Duadji menjadi Kapolda Jabar.

Namun, Haswandi tidak ikut menjatuhkan vonis terhadap Susno karena sebelum persidangan selesai, ia dipromosikan menjadi Wakil Ketua PN Batam.

  1. Pernah Dilaporken ke Komisi Yudisial

Hakim Haswandi juga pernah dilaporkan ke Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung karena pernah mengabulkan peninjauan kembali di atas peninjauan kembali yang diajukan PT Geo Dipa Energi. Ketika itu, Haswandi menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Haswandi menerima permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan lawan BGE yakni PT Geo Dipa Energi (GDE) pada 3 Desember 2014 terkait perkara pembatalan pembatalan kontrak pembangunan lima unit pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Dieng-Patuha, Jawa Tengah senilai US$ 488,88 juta.

Baca Juga: Alex Noerdin Kembali Jadi Tersangka Maling Uang Rakyat, Kali Ini Kasus Pembangunan Masjid Raya Sriwijaya

BGE menilai keputusan Haswandi menerima gugatan PK sebagai pelanggaran hukum. Sebab hal itu menimbulkan ketidakpastian hukum di Indonesia. Kuasa hukum BGE Bambang Siswanto mengatakan, PK yang dilakukan GDE merupakan gugatan PK di atas putusan PK yang sudah ada sebelumnya.

  1. Dituding Ketua KPK Melampau Kewenangan

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Taufiequrachman Ruki pernah menuding hakim Haswandi yang mengabulkan gugatan praperadilan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Hadi Poernomo telah melampaui kewenangannya.

 Putusan yang dikeluarkan Haswandi sebabai hakim tunggal disebut bertentangan dengan UU, dan memiliki implikasi luas buat pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Putusan hakim praperadilan yang memerintahkan lembaga antirasuah ini untuk menghentikan penyidikan, telah bertentangan dengan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang KPK. Padahal, dalam Pasal 40 itu, KPK tidak boleh menghentikan penyidikan.

6. Punya Harta Rp3 Miliar Lebih

Dalam Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN), Haswandi memiliki kekayaan sebesar Rp3.411.201.421 per 2020. Harta itu terdiri dari tanah dan bangunan senilai Rp2.707.178.600.

Haswandi yang pernah menjadi hakim di PN Jakarta Selatan juga tercatat memiliki kendaraan prinadinya senilai Rp290.000.000, dengan harta bergerak Rp16.425.000. Putera Payakumbuh itu juga setara kas Rp795.791.421. Meski demikian, Haswandi juga tercatat memiliki utang Rp398.193.600.

7.  Alumni Unand yang Lahir di Payakumbuh

Haswandi lahir di Payakumbuh pada 2 April 1961. Haswandi besar dan dilahirkan dari keluarga yang berprofesi sebagai pendidik. Ia menikah dengan Elfi Sumarni Bunas yang sekarang berprofesi sebagai dokter.

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas ini lmulai diangkat menjadi calon hakim pada Pengadilan Negeri Bukittinggi, pada tahun 1985. Haswandi beberapa kali dipindah tugaskan di lingkungan Pengadilan Negeri kelas II.

Baca Juga: Klub Milik Atta Halilintar dan Kaesang Akan Bertarung di Laga Pembukaan, Berikut Jadwal Lengkap Liga 2

Disetujui DPR Menjadi Hakim Agung

Sebelumnya, Komisi III DPR RI yang membidangi hukum menetapkan tujuh hakim agung, Selasa (21/9/2021). Dari tujuh nama yang disetujui DPR, salah satunya adalah Haswandi, hakim sarat pengalaman yang merupakan urang awak.

Persetujuan itu dilakukan setelah Komisi III DPR RI menggelar paripurna laporan hasil uji kelayakan, dimana DPR harus memilih tujuh hakim agung dari 11 orang yang diusulkan Komisi Yudisial.

Ketujuhnya sudah menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) pada Senin, 20 September 2021.

Tujuh hakim agung yang lolos fit and proper test Komisi Hukum adalah Dwiarso Budi Santiarto, Jupriyadi, Prim Haryadi, Suharto, Yohanes Priyani yang merupakan hakim agung kamar pidana, lalu hakim agung kamar militer Brigadir Jenderal TNI Tama Ulinta Br Tarigan. Haswandi sendiri merupakan hakim agung kamar perdata Haswandi.

Baca Juga: Belum Tentu Malas, Bisa Jadi Kamu Fobia Kerja, Kenali Tanda-tandanya

Dari sejumlah literatur diketahui kalau Dr H Haswandi lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 2 April 1961. Haswandi merupakan hakim karier di lingkungan peradilan umum.

Haswandi sebelumnya pernah menjabat sebagai hakim tinggi DKI Jakarta dan Direktur Pembinaan Tenaga Teknis pada Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung RI. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Jakarta Selatan.

Haswandi besar dan dilahirkan dari keluarga yang berprofesi sebagai pendidik. Ia menikah dengan Elfi Sumarni Bunas yang sekarang berprofesi sebagai dokter. Bersama Elfi, saat ini Haswandi telah memiliki empat orang anak.

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas mulai diangkat menjadi calon hakim pada Pengadilan Negeri Bukittinggi pada 1985. Dia lalu menjadi hakim tetap. Setelah diangkat menjadi hakim tetap haswandi beberapa kali dipindahtugaskan. Namun 22 tahun karirnya dihabiskan di Pulau Sumatra.

Mulai tahun 2007 Haswandi ditugaskan untuk mengadili perkara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Selama bertugas di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ia dikenal sebagai pribadi yang sederhana.

Baca Juga: Hukuman Diperberat Mahkamah Agung, Mantan Bupati Solok Selatan Dikirim KPK ke Sukamiskin!

Hal ini terlihat dari kendaraan yang Ia gunakan. Untuk bekerja sehari-hari ia menggunakan motor Suzuki Shogun yang ia beli sejak 2007 sebagai sarana transportasinya.

Hakim Haswandi mulai dikenal publik saat menjadi anggota majelis yang menangani kasus dugaan pemotongan dana pengamanan pilkada Jabar dengan tersangka mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji.

Haswandi duduk sebagai anggota majelis bersama hakim Artha Theresia dan Charis Mardiyanto sebagai ketua majelis.

Dalam persidangan haswandi cukup kritis dalam menggali informasi dan fakta dari para saksi termasuk enam mantan Kapolres pada saat Susno Duadji menjadi Kapolda Jabar.

Namun, Haswandi tidak ikut menjatuhkan vonis terhadap Susno karena sebelum persidangan selesai, ia dipromosikan menjadi Wakil Ketua PN Batam. (*)

 

Halaman:

Editor: Bhenz Maharajo

Tags

Terkini

Bejat, Pria Di Agam Tega Cabuli Anak Kandung Sendiri

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:03 WIB
X