Masjid Asasi, Sejarah Spritiual dan Keindahan Islam di Ranah Minang

- Rabu, 22 September 2021 | 08:45 WIB
Masjid Asasi
Masjid Asasi

HALUANPADANG.COM – Di sudut Nagari Sigando, Kota Padang Panjang sebuah masjid tertua berdiri kokoh hingga saat ini. Mulai dibangun pada tahun 1702, Masjdi Asasi didirikan oleh masyarakat dari 4 koto yaitu dari daerah Gunuang, Paninjauan, Jaho dan Tambangan.

Masjid ini digadang-gadang sebagai yang tertua di Kota Padang Panjang. Usianya mencapai ratusan tahun. Keelokan masjid ini sudah bisa anda lihat dari kejauhan. Dimana, bentuknya seperti sebuah limas yang akan mengingatkan kita pada masjid  Demak yang menjadi tertua di jawa.

Tetapi, saat kita melihat lebih dekat lagi, Atapnya tidak hanya berbetuntuk limas saja. Melainkan, ada penambahan gonjong seperti yang bisa kita lihat di berbagai rumah Gadang. Menurut catatan sejarahnya, Masjid Asasi Sigando ini menjadi yang tertua kedua dan diperkirakan di bangun pada tahun 1400. Tetapi, menurut kesepakatan yang pernah dilakukan oleh pemuka agama di sekitar yang dilakukan pada tahun 1900.

Awal dibangun, masjid ini merupakan surau sehingga disebut Surau Gadang Sigando. Surau tersebut nampak sederhanan dengan kayu dan atap ijuk. Namun, seiring berjalannya waktu atap diganti menggunakan seng sekitar tahun 1905. Serta penggantian dinding yang sudah lapuk pada tahun 1956.

Baca Juga: Disetujui DPR RI, Urang Awak yang ke Kantor Pakai Motor Shogun itu Kini Menjadi Hakim Agung

Meski begitu, secara umum bangunan masjid masih belum mengalami perubahan signifikan. Pertama kali menginjakkan kaki di masjid ini, tentu akan terpikat dengan ukiran-ukiran cantiknya. Dari perpaduan warna biru muda, cokelat dan putih. Tak hanya sekadar ukiran belaka, ukiran di masjid ini memiliki makna yang mendalam.

Daya tarik Masjid Asasi adalah keindahan ukirannya. Dari sisi dinding, jendela, pintu, hingga bagian dekat atap terdapat ornamen-ornamen yang cantik. Motif-motif itu bukan hanya sekadar ukiran untuk memperindah tetapi mengandung filosofi yang dalam.

Motif yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu punya motif yang beragam. Ukirannya terdiri dari jenis tumbuhan hewan, alam benda dan manusia. Namun bertema kehidupan alam, sebagaimana pepatah di Minangkabau mengatakan “Alam takambang jadi guru.” Dimana artinya alam sumber belajar sesungguhnya.

Itulah yang membedakan Masjid Asasi dengan masjid-masjid lain di Sumatera Barat.

Secara umum, komponen bahan bangunan masjid terbuat dari kayu, mulai dari dinding, lantai, dan tiang penyangga. Ruang utama ditopang oleh delapan tiang penyangga dan sebuah tonggak macu di tengah. Tonggak macu berukuran lebih besar dari tiang-tiang lainnya.

Baca Juga: PLN Perbaikan Jaringan, Sejumlah Wilayah di Sumbar Alami Pemadaman Bergilir, Ini Lokasi dan Jadwalnya

Bangunan masjid ini terletak pada bentuknya yang peregi empat, lantainya yang rata. Selain dari lantainya yang rata, hal ini memiliki makna bahwa setiap manusia memilikikedudukan yang sama dimata Allah.

Tak hanya sebagai tempat ibadah, namun masjid yang khas dengan ukirannya ini juga sarat akan sejarah. Masjid Asasi pernah dijadikan sebagai basis pengembangan Islam terutama mengembangkan Madrasah Thawalib Gunuang. Tokoh-tokoh seperti Buya Hamka pernah menggelar pengajian di sini.

Sejak didirikan, konstruksi masjid tidak mengalami kerusakan berarti, walaupun dilanda gempa besar pada 1926 dan 2009. Pemugaran yang dilakukan berupa penggantian atap ijuk dan dinding tidak mengubah keaslian bentuk masjid.

Baca Juga: Kisah Ustadz Syaid Chaniago, Diserang Orang Depresi dan Diselamatkan Jamaah Emak-Emak

Sarat akan sejarah dan bentuknya yang unik, Pemerintah Indonesia telah menetapkannya sebagai benda cagar budaya di bawah Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

 

Halaman:

Editor: Bhenz Maharajo

Sumber: Merdeka.com

Tags

Terkini

Dicari !! Ayah Pemerkosa Anak Kandung Di Pasaman

Selasa, 7 Desember 2021 | 19:38 WIB
X