Kopi Tiwus, Rasa yang Hancurkan Ben dalam Meracik Kesempurnaan dalam Filosofi Kopi

- Selasa, 21 Desember 2021 | 11:32 WIB
Potongan scene film Filosofi Kopi
Potongan scene film Filosofi Kopi

HALUAN PADANG - Menikmati senja dengan secangkir kopi diipadukan bersama buku novel sangatlah romantis dikala kita bisa menikmati hidup.

Salah satu buku yang menarik untuk dibaca dikala menikmati senja bersama kopi adalah buku Karya Dee Lestari yang berjudul 'Filosofi Kopi'.

Buku Filosofi Kopi ini bercerita tentang dua orang sahabat yang bernama Ben dan Jody. Mereka mendirikan sebuah kedai kopi yang diberi nama “Filosofi Kopi” dengan Ben sebagai barista nya.

Sebagai seorang barista Ben bisa dibilang sangat piawai dalam meracik kopinya, karena dari kecil dia memang sudah hidup dalam lingkungan petani kopi dan sang ayah merupakan petani kopi juga.

Kedai ini diberi nama oleh ben Filosofi Kopi karena dalam setiap kopi yang Ben racik mengandung filosofi tersendiri mulai dari cappuccino hingga kopi tubruk.

Ben juga memberikan sebuah gambaran singkat mengenai Filosofi Kopi dari setiap ramuan kopi yang disuguhkannya di kedai tersebut. Kedai tersebut menjadi sangat ramai dan penuh pengunjung setiap harinya.

Pada Suatu hari, ada seorang pria kaya datang dan menantang Ben untuk membuat sebuah ramuan kopi yang apabila diminum akan membuat kita sulit untuk meluapkan kata-kata tentang apa yang kita rasakan saat mencicipi kopi tersebut dan akhirnya Ben berhasil membuat kopi itu.

Ramuan kopi yang diracik oleh ben itu diberi nama dengan Ben’s Perfecto, racikan kopi ini menjadi minuman terenak dan dikagumi banyak pengunjungnya.

Ramuan kopi yang disebut Ben’s Perfecto tersebut menjadi minuman terenak saat di nikmati.

Tapi pada suatu ketika ada seorang pria yang datang dan mengatakan bahwa rasa kopi tersebut hanya “lumayan enak” dibandingkan kopi yang pernah dicicipinya di suatu lokasi di Jawa Tengah.

Lantas Ben dan Jody yang penasaran akan rasa kopi tersebut dia langsung menuju lokasi dimana kopi terenak itu.

Kemudian mereka menemukan secangkir tiwus yang disuguhkan oleh pemilik warung gubuk didaerah tersebut.

Ben dan Jody meminum kopi tersebut tanpa berbicara sedikitpun. Kopi tersebut memiliki rasa yang sempurna dan ada cerita serta filosofi yang menarik dari kopi tersebut.

Karena Ben yang merasa gagalpun akhirnya kembali ke Jakarta dengan putus asa. Tak sampai disitu Jody pun kembali menemui pemilik warung yang ada di Jawa Tengah tersebut dan sepulangnya dari sana, dia menghidangkan Ben segelas Kopi Tiwus dengan sebuah kartu bertuliskan “Kopi yang anda minum hari ini adalah Kopi Tiwus, walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya”.

Dan pada akhirnya Ben sadar bahwa dia selama ini mengambil jalan hidup yang salah, dari situ Ben mulai sadar bahwa hidup ini tidak ada yang sempurna.

Dengan demikian Ben kembali melanjutkan perjuangan serta hobinya di kedai Filosofi Kopi bersama Jody.

Salah satu kata dalam novel Filosofi Kopi yan bisa kita kutip adalah “Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup” merupakan motto bagi barista terkenal yang bernama Ben.

Dan pada akhirnya karya Dee ini diangkat menjadi film pada tahun 2015 dengan menggaet beberapa aktor seperti Ciko Jerikho sebagai Ben, Rio Dewanto sebgai Jody dan El sebagai Jullie Estelle.

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Sutradara Ungkap, Squid Game Resmi Lanjut ke Season 2

Kamis, 11 November 2021 | 10:47 WIB

Terpopuler

X