Studi Terbaru: 75% Kekayaan di Timur Tengah Dikuasai Segelintir Negara

- Rabu, 8 Desember 2021 | 07:47 WIB
ilustrasi Dollar ( Photo : pngwing)
ilustrasi Dollar ( Photo : pngwing)


HALUAN PADANG - Ketidaksetaraan kekayaan antar negara dalam satu wilayah regional terus meningkat, terutama semenjak pandemi.  Timur Tengah dan Amerika Latin adalah wilayah yang paling tidak setara di dunia. Di kawasan tersebut lebih dari 75% kekayaan berada di tangan 10% negara terkaya.

Hal tersebut diungkap dalam studi terbaru yang dilakukan oleh Lab Inequality World dan dirilis pada Selasa lalu.  Studi bertajuk 'Laporan Ketimpangan Dunia 2022' itu didasarkan pada pekerjaan oleh lebih dari 100 peneliti di seluruh dunia, yang dipimpin oleh para ekonom di Paris School of Economics dan University of California di Berkeley.

Dalam laporan itu disebutkan juga bahwa Rusia dan Afrika sub-Sahara berada tidak jauh di belakang Timur Tengah dan Amerika Latin.

Negara-negara berkembang lainnya seperti India masih menderita 'kelas menengah yang hilang', di mana ketidaksetaraan kolonial telah digantikan oleh ketidaksetaraan pasar.

Kesenjangan kekayaan juga tercermin dalam jejak karbon yang lebih besar. Di Amerika Utara, misalnya, 10% teratas mengeluarkan rata-rata 73 metrik ton per kapita setiap tahun, dibandingkan dengan kurang dari 10 ton untuk separuh termiskin.

Diukur dengan pendapatan dan kekayaan, Eropa adalah wilayah yang paling adil, menurut laporan itu.

Sebenyak 19% dari total pendapatan yang diperoleh oleh setengah termiskin orang Eropa lebih tinggi dari bagian yang setara untuk kelompok itu di tempat lain.

Kebijakan pandemi seperti dukungan pendapatan bagi pekerja yang diberhentikan dari pekerjaan mereka kemungkinan membantu mencegah kesenjangan itu semakin melebar.

"Krisis Covid telah memperburuk ketidaksetaraan antara yang sangat kaya dan populasi lainnya," kata Chancel
salah satu direktur World Inequality Lab, dalam sebuah wawancara.

Lebih lanjut menurutnya, di negara-negara kaya, intervensi pemerintah telah mencegah peningkatan besar-besaran dalam kemiskinan.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Sumber: Pikiran Rakyat

Artikel Terkait

Terkini

Omicron Menggila di China, 34 Juta Warga Dikurung

Kamis, 13 Januari 2022 | 08:46 WIB
X