Facebook Digugat Rp2.162 Triliun oleh Pengungsi Rohingya Karena Pembiaran Berita Palsu dan Ujaran Kebencian

- Selasa, 7 Desember 2021 | 16:44 WIB
Facebook menghadapi tuntutan hukum dengan nilai uang fantastis. (Wikipedia)
Facebook menghadapi tuntutan hukum dengan nilai uang fantastis. (Wikipedia)

HALUAN PADANG - Perusahaan raksasa media sosial Facebook digugat oleh pengungsi Rohingya sebesar $150 miliar atau sekira Rp2.162 triliun. Gugatan tersebut  didasari klaim bahwa Facebook telah gagal membendung ujaran kebencian di platform-nya yang memperburuk kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar.

Pengaduan yang diajukan pihak Rohingya di pengadilan California itu mengatakan algoritma yang menggerakkan Facebook telah mempromosikan disinformasi dan pemikiran ekstremis yang diterjemahkan menjadi kekerasan di dunia nyata.

"Kenyataan yang tak terbantahkan adalah bahwa pertumbuhan Facebook, yang dipicu oleh kebencian, perpecahan, dan kesalahan informasi, telah menyebabkan ratusan ribu nyawa Rohingya hancur setelahnya," tulis penggugat dalam dokumen yang diserahkan ke pengadilan.

Facebook sebelumnya telah berjanji untuk meningkatkan upayanya memerangi ujaran kebencian di Myanmar dengan mempekerjakan puluhan orang terpercaya yang menguasai bahasa negara tersebut.

Tetapi upaya serupa itu dinilai oleh kelompok hak asasi manusia belum cukup. Facebook bahkan sejak lama telah dituding tidak pernah berbuat cukup jauh untuk mencegah penyebaran disinformasi dan missinformasi online.

Bahkan Facebook dinilai gagal bertindak ketika diperingatkan soal  penyebaran ujaran kebencian di platform-nya.

Facebook juga dituduh telah membiarkan kepalsuan berkembang biak, mempengaruhi kehidupan minoritas dan menggiring opini di  pemilihan di negara-negara demokrasi seperti AS, di mana tuduhan penipuan yang tidak berdasar beredar dan meningkat di antara suatu kelompok yang punya pikiran seragam.

Sementara itu, Facebook belum menanggapi keluhan yang diajukan terhadap perusahaan.

Tahun ini, 'orang dalam'  Facebook membocorkan sejumlah besar bukti yang makin menguatkan tuduhan-tuduhan di atas serta memulai kembali  perdebatan mengenai Facebook. Orang dalam tersebut bersuara karena tahu bahwa perusahaan tempat ia bekerja dapat membahayakan miliaran pengguna, tetapi para eksekutif memilih keuntungan finansial daripada keamanan.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Omicron Menggila di China, 34 Juta Warga Dikurung

Kamis, 13 Januari 2022 | 08:46 WIB
X