Kisah Danny Fenster, Jurnalis AS yang Lolos dari Tawanan Junta Militer Myanmar

- Selasa, 16 November 2021 | 13:06 WIB
Ilustrasi poster seruan pembebasan Danny Fenster
Ilustrasi poster seruan pembebasan Danny Fenster

HALUAN PADANG - Danny Fenster berusia 37 tahun saat ia ditangkap Junta Militer Myanmar pada 24 Mei 2021 di Bandara Internasional Yangon. Saat itu ia berencana terbang menuju Malaysia dan kemudian ke kampung halamannya, Michigan.


Ia kemudian ditahan di penjara Insein, sebuah penjara bagi tahanan politik Myanmar, dengan tuduhan melakukan penghasutan, melanggar undang-undang migrasi, dan berhubungan dengan kelompok-kelompok pelanggar hukum. Saat diadili di pengadilan militer tertutup di dalam penjara pada 12 November lalu, ia dijatuhi hukuman 11 tahun penjara.


Danny adalah satu dari sekitar 126 orang jurnalis dan pekerja media yang ditawan Junta Militer Myanmar sejak kudeta 1 Februari 2021. Myanmar Now, salah satu media independen di Myanmar yang kerap mengkritisi Junta Militer tempat Danny pernah bekerja, adalah satu dari puluhan media yang dilarang oleh Junta Militer.

Bersama Danny, ribuan orang lainnya ditawan karena menentang kudeta tersebut. Ribuan lainnya meregang nyawa dalam berbagai demonstrasi dan penyerbuan pos-pos perlawanan warga oleh militer.


Sebelum bekerja di Myanmar, ia sempat bergabung dengan suatu organisasi yang menangani masalah pengungsian. Pria lulusan jurnalistik di Chigago ini, kemudian membangun Frontier Myanmar, sebuah media independen online, tak lama setelah ia keluar dari Myanmar Now. Dikutip dari indianexpress.com, penangkapannya sendiri berhubungan dengan kerja jurnalistiknya di Myanmar Now.


Setelah menghabiskan 176 hari dipenjara, ia dibebaskan pada Senin (15/11) kemarin. Pembebasannya disebut sebagai hasil negosiasi antara Duta Besar AS untuk PBB dan Junta Militer Myanmar. Dikutip dari bbc.com, kini ia dikabarkan tengah dalam penerbangan meninggalkan Myanmar.


Bebasnya Danny disambut hangat sejumlah pihak, terutama oleh kalangan pers. Sejak ditawan pada Mei lalu, ia menjadi perhatian dunia internasional karena menjadi satu-satunya wartawan asing yang ditawan Junta Militer Myanmar. Seruan agar ia dan jurnalis lainnya dibebaskan, mencuat sejak penangkapan tersebut. www.bringdannyhome.com, sebuah situs khusus untuk menggalang solidaritas terhadap Danny juga didirikan. (*)

 

Anda juga bisa mendapatkan informasi terkini dan terupdate lainnya melalui Haluanpadang.com atau Telegram Channel Harian Haluan, Klik di sini : https://t.me/harianhaluan

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

X