Tak Punya Komitmen Soal Kemanusiaan dan Demokrasi, Junta Militer Myanmar Batal Diundang ke KTT ASEAN

- Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
Kepala Junta Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing yang singkirkan Aun San Sukyi (dok, cnnindonesia)
Kepala Junta Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing yang singkirkan Aun San Sukyi (dok, cnnindonesia)


HALUANPADANG - ASEAN akan menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada 26-28 Oktober mendatang.

Namun pemimpin junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing, tidak akan diundang dalam KTT tersebut. Sebagai gantinya, Myanmar akan diwakili oleh tokoh non-politik, sebagaimana diberitakan tempo.co.

Keputusan itu diambil dalam rapat virtual membahas kegagalan Junta Militer Myanmar memenuhi lima poin konsensus Jakarta dan keterwakilan Myanmar.

Sebelumnya ASEAN telah menggelar KTT di Jakarta (24/4/2021) untuk membahas konflik Myanmar. Junta Militer Myanmar yang turut hadir saat itu menyepakati lima poin konsesus yang dirumuskan bersama.

Di antara lima poin tersebut ialah soal akses kemanusiaan dan penghentian semua bentuk kekerasan.

Sejak Militer mengkudeta pemerintahan terpilih Myanmar pada 1 Februari 2021, telah terjadi kekerasan dalam skala luas di Myanmar. Pihak yang menentang kudeta turun ke jalan, dihadapi dengan kekerasan oleh Junta Militer. Setidaknya 1.000 orang telah tewas akibat konflik sejak Februari lalu.

Meski keputusan tersebut belum diumumkan secara resmi, banyak pihak menilai langkah tegas dan berani dari ASEAN memang diperlukan untuk menyelesaikan konflik di Myanmar.

Indonesia adalah salah satu negara anggota ASEAN yang mengusulkan agar Junta Militer yang tengah menguasai Myanmar tidak dilibatkan dalam KTT. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan penolakan terhadap Junta Militer  Myanmar akan dipertahankan sampai Negara tersebut memulihkan demokrasi. (*)







Editor: Randi Reimena

Terkini

X