Maaf Taliban, Amerika Serikat Tidak Akui Kalian Sebagai Pemerintah Baru Afghanistan

- Selasa, 7 September 2021 | 15:45 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. /Peter Klaunzer/ Pool via Reuters
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. /Peter Klaunzer/ Pool via Reuters

HALUANPADANG.COM – Presiden AS Joe Biden menegaskan Amerika Serikat masih jauh mengakui Taliban sebagai pemerintahan yang baru di Afghanistan. Hal itu disampaikan oleh reporter Gedung Putih Sophia Cai di akun Twitternya, Selasa, 7 September 2021.

"Presiden Biden memberi tahu saya bahwa AS tidak mengakui pemerintahan Taliban di Kabul — “Itu masih jauh,” katanya, setelah kembali ke Gedung Putih," kata Sophia Cai.

Pernyataan Joe Biden itu mengikuti pesan yang disampaikan oleh sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki, yang menyebutkan Presiden AS "tidak terburu-buru" untuk mengakui Taliban dalam peran di Afganistan.

"Itu akan sangat tergantung pada perilaku [Taliban], dan apakah mereka memenuhi harapan komunitas global",kata Jen Psaki, dikutip dari Sputnik News.

Baca Juga: Mohon Jadikan Pelajaran: Afhganistan Mudah Dikuasai Taliban Karena Banyak Pejabatnya yang Maling Uang Rakyat!

Komentar serupa juga digaungkan oleh Departemen Luar Negeri AS. Komentar terakhir Joe Biden muncul ketika juru bicara Taliban Ahmadullah Muttaki mengungkapkan bahwa kelompok itu telah menyelesaikan garis besar pemerintahan barunya dan  pengumuman resmi akan segera disampaikan.

Hingga saat ini, banyak pemimpin dunia telah menunda mengakui Taliban sebagai pemerintah resmi yang berkuasa di Afghanistan. Bahkan, pejabat telah menyatakan bahwa mereka malah akan memantau perilaku kelompok sebelum membuat komitmen tersebut.

Sebelum Afghanistan dikuasai Taliban, hanya tiga negara yang mengakui kelompok militan itu sebagai badan pemerintahan yakni Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Baca Juga: Taliban Pastikan China Sebagai Mitra Utama Membangun Afghanistan

Para pemimpin Taliban telah menyatakan bahwa pemerintahan mereka akan berbeda dari kepemimpinan sebelumnya karena bermaksud untuk melonggarkan pembatasan kebebasan yang diberikan kepada perempuan Afghanistan, terutama dalam hal pernikahan paksa dan pendidikan.

Halaman:

Editor: Bhenz Maharajo

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Terkini

X