Rajo Manjalani Rantau: Prosesi Sakral dari Kerajaan Jambu Lipo

- Senin, 6 Desember 2021 | 15:11 WIB
Prosesi Rajo Manjalani Rantau Kerajaan Jambu Lipo (Semangatnews.com)
Prosesi Rajo Manjalani Rantau Kerajaan Jambu Lipo (Semangatnews.com)

Cerita Rakyat di Balik Asal-usul Rajo Manjani Rantau

Di samping memiliki arti penting bagi keberlangsungan Jambu Lipo, prosesi Rajo Manjalani Rantau juga memiliki asal-usul yang menarik. Dalam cerita rakyat setempat, diceritak bahwa prosesi tersebut bermula dari peristiwa hilangnya Puti Intan Jori, seorang Putri Kerajaan Bungo Setangkai di Pagaruyung.

Pada suata saat, ia pergi meninggalkan Pagaruyung karena satu sebab. Pihak kerajaan mengutus 12 orang ninik untuk mencari keberadaan Puti Intan Jori. Utusan kerajaan itu dipimpin oleh Tuan Gadang (Rajo Ibadat Jambu Lipo) yang bergelar Bagindo Mahadirajo Indo).

Dalam pencarian yang panjang itu akhirnya Puti Intan Jori tersebut di temukan di daerah Tanggo Aka (Bidar Alam). Pada saat ditemukan rupanya Puti Intan Jori telah menikah dengan Tantuo Rajo Sailan. Dari hasil perkawinan tersebut lahir seorang anak laki-laki yang kemudian diberi gelar Yang Dipertuan Rajo Bonsu.

Meski misinya telah berhasil, ninik yang 12 itu tidak semuanya kembali ke Pagaruyung. Empat orang yang kembali ke Pagaruyung dan dinobatkan menjadi Tuan Basa Ampek Balai yang terdiri dari Indomo di Saruaso, Tuan Kadi di Padang Gantiang, Tuan Titah di Sungai Tarab, dan Mangkudun di Sumanik. Tujuh orang lainnya tinggal di Batang Rantau; tiga orang tinggal di Batanghari, dan empat lainnya di Batang Sangir.

Tiga yang berdiam di Batanghari adalah Tuangku Payung Putiah di Lubuk Ulang Aling, Inyiek Malepo Nan Sati di Batu Gajah, dan Inyiek Paduko Eno di Muaro Sangir, sedangkan empat orang yang berdiam di Batang Sangir yaitu; Inyiek Tambun Tayie di Dusun Tangah, Inyiek Bandaro Putieh di Lubuk Malako, Inyiek Peto Basa di Obai, Sangir, dan Inyiek Rajo Lobie di Soriek Taba. Satu orang lainnya melanjutkan perjalanan dari Tanggo Aka (Bidar Alam) kemudian melanjutkan perjalanan ke Tanggo Batu (Lubuk Tarok-sekarang).

Daerah-daerah yang ditempati niniak 12 itulah yang jadi wilayah rantau XII Koto. Di masa lalu, mereka mengikat perjanjian sakral dengan Jambu Lipo dan terikat secara adat, hingga hari ini. 

Baca Juga: Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo: Tim Peneliti Ungkap Sejumlah Temuan Awal

Pada Kamis (2/12) lalu, prosesi Rajo Manjalani Rantau ditampilkan di Museum Adityawarman, Padang. Namun yang digelar adalah semacam simulasi untuk memperkenalkan prosesi tersebut secara lebih luas dalam Festival Budaya Kerajaan Kerajaan Jambu Lipo Ranah Godok Obuih.

Festival Budaya Kerajaan Jambu Lipo Ranah Godok Obuih sendiri merupakan festival yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Sumatera Barat untuk mempromosikan kekayaan budaya yang ada di kawasan Kerajaan Jambu Lipo, Sijunjung. Selain menampilkan simulasi Rajo Manjalani Rantau, festival yang berlangsung selama dua hari ini, Rabu dan Kamis (1-2/12), juga menghadirkan Tari Tanduak dari Kerajaan Jambu Lipo serta seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo. (*)

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X