Rajo Manjalani Rantau: Prosesi Sakral dari Kerajaan Jambu Lipo

- Senin, 6 Desember 2021 | 15:11 WIB
Prosesi Rajo Manjalani Rantau Kerajaan Jambu Lipo (Semangatnews.com)
Prosesi Rajo Manjalani Rantau Kerajaan Jambu Lipo (Semangatnews.com)



HALUAN PADANG - Kerajaan Jambu Lipo menyimpan sejumlah kekayaan budaya. Sebagiannya masih tetap hidup dan dipraktekkan hingga hari ini, salah satunya ialah prosesi sakral yang bernama Rajo Manjalani Rantau. Masyarakat percaya prosesi tersebut wajib dilakukan jika tidak ingin ‘biso kawi’ muncul dan menimbulkan mala petaka.

Tradisi yang diperkiran sudah dipraktekkan sejak lama ini, merupakan perjalanan utusan Raja Alam Kerajaan Jampu Limpo mengunjungi beberapa daerah yang terdapat dalam rantau XII Koto. Rantau yang dimaksud di sini, ialah rantau sepanjang adat bukan rantau tempat mencari nafkah.

Prosesi Rajo Manjalani Rantau, dilakukan setiap tiga kali setahun di bawah pimpinan “Tuan Godang” atau Raja Ibadat (Bagindo Maharajo Indo). Rombongan Rajo Manjalani Rantau bisa mencapai 15 hingga 25 orang.

Saat waktunya telah tiba, mereka akan berjalan dari Istana Kalambu Suto, pusat kerajaan Lambu Lipo, menuju 27 lokasi yang di rantau XII Koto yang tersebar di tiga kabupaten di Sumatera Barat, yaitu Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Dharmasraya. Dahulu perjalanan tersebut bisa memakan waktu sampai 3 bulan. Namun saat ini kenderaan bermotor mulai digunakan dalam prosesi tersebut, dan durasinya menjadi jauh lebih singkat.

Baca Juga: Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Setibanya di daerah rantau, rombongan Rajo disambut oleh para tokoh adat di masing-masing daerah dengan segenap buah tangan yang disebut dengan istilah “ameh manah”.

Prosesi Rajo Manjalani Rantau sangat penting artinya bagi masyarakat serta bagi keberlangsungan Kerajaan Jambu Lipo sendiri. Ia merupakan mata rantai yang menghubungkan antara masyarakat dengan dengan pihak kerajaan serta wilayah-wilayah rantau yang punya hubungan khusus dengn kerajaan. Lewat prosesi Rajo Manjalin Rantau-lah ingatan kolektif tentang Kerajaan Jambu Lipo terus hidup. Lewat prosesi itu pula pengetahuan sejarah dan adat istiadat masyarakat Lubuk Tarok dan masyarakat di rantu XII Koto mengenai Jambu Lipo terus diperbaharui. Dengan kata lain, jika prosesi tersebut terhenti untuk waktu lama maka keberadaan Jambu Lipo itu pun sendiri ikut terancam.

Di samping itu, prosesi Rajo Manjalin Rantu juga menjadi medium untuk menyelesaikan konflik dan membangun konsensus.

Baca Juga: Seminar Kajian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo Picu Polemik

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB
X