Perempoean Madjoe dan Jamannya: Membahas Beberapa Salah Kaprah Mengenai Ruhana Kuddus

- Senin, 8 November 2021 | 15:44 WIB
Rohana Kuddus (Google Doodle)
Rohana Kuddus (Google Doodle)

Dari masa-masa 1930-an akhir, terutama semenjak memasuki masa kemerdekaan sampai akhir hayatnya, bisa dikatakan Rohana Kuddus sudah tidak begitu aktif dalam  dunia organisasi. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk merawat suaminya yang sering didera penyakit.

Dari kiprah Rohana Kuddus seperti dilihat di atas, ia dapat diidentifikasi sebagai kaoem madjoe yang tidak begitu mempermasalahkan kolonialisme. Ia lebih berfokus memperbaiki nasib perempuan di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Namun demikian keberpihakannya pada perempuan yang tertindas norma sosial, solidaritats terhadap buruh-buruh perempuan yang tertindas di bawah perbudakan modern di kebun-kebun karet, adalah sesuatu yang berharga.   

Memang tidak semua elit terdidik pada masa-masa itu, yang dilabeli ‘pelopor’ atau Pahlawan Nasional, memiliki semangat kolonialisme anti-kolonial. Pandangannya mengenai kolonialisme tidak sama dengan Upik Hitam, salah satu dari sekian perempuan yang terhubung dengan gerakan komunis di Sumatera Barat yang hidup dalam kurun waktu yang kurang lebih sama dan yang terang-terangan menentang pemerintah kolonial, misalnya. Tidak tepat mengatakannya sebagai pejuang yang melawan penjajahan Belanda. Ruhana Kudus adalah anak jamannya sendiri.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X