Perempoean Madjoe dan Jamannya: Membahas Beberapa Salah Kaprah Mengenai Ruhana Kuddus

- Senin, 8 November 2021 | 15:44 WIB
Rohana Kuddus (Google Doodle)
Rohana Kuddus (Google Doodle)

Kerajinan Amai Setia, yang didirikan Ruhana Kuddus setahun sebelumnya pada 1911 di Koto Gadang, dapat digolongkan pada organisasi perempuan yang berfokus pada kemandirian ekonomi perempuan. Dari singkatan namanya, ‘KAS’,  bisa dimengerti bahwa Ruhana menginginkan perempuan mampu memproduksi kerajinan-kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomi sebagai tambahan kas keluarga. Dengan begini, perempuan tidak sepenuhnya tergantung secara ekonomi pada laki-laki.

Setahun kemudian pada 1912 ia bekerjasama dengan Datuk Sutan Maharadja, seorang pengusaha media massa di Padang yang berkeyakinan bahwa pribumi dapat maju di bawah naungan Belanda, mendirikan surat kabar perempuan Soenting Melajoe.  Surat kabar ini adalah satu-satunya surat kabar pada masa itu yang dieditori dan dikelola sepenuhnya oleh perempuan. Bersama Ratan Juwita Zubaidah, putri dari Sutan Maharadja, ia menjadikan Soenting Melajoe sebagai surat kabar yang seluruh kontributornya berasal dari kaum perempuan.

Kesetaraan yang Diperjuangkan Rohana

Para penulis Soenting Melajoe, melihat diri mereka sebagai ‘soenting’, sebagai hiasan, alam Melayu nan permai. Namun mereka menolak gagasan bahwa perempuan tidak perlu pandai membaca dan menulis.  Dalam tulisan-tulisan di edisi-edisi awal surat kabar yang berumur kurang lebih 10 tahun itu, para penulisnya mendorong perempuan agar berani menyongsong perubahan jaman: menjadi perempoean madjoe yang berpendidikan, yang tidak sepenuhnya bergantung pada laki-laki, dan di saat yang sama tetap menghormati adat melayu di mana posisi perempuan memang sudah seharusnya berada di bawah otoritas mamak—paman laki-laki dari pihak ibu.

Gagasan semacam ini ditentang oleh penulis perempuan lainnya dari surat kabar Soeara Perempoean yang terbit tujuh tahun kemudian, pada 1919. Para jurnalis Soeara Perempoean, jauh lebih radikal dalam soal hubungan laki-laki-perempuan. Mereka menggangap para penulis Soenting Melajoe dan perempuan Melayu umumnya bagaikan burung di dalam sangkar. Mereka memang aman, namun di saat yang sama mereka terkungkung. Dan bagi mereka hubungan yang mengungkung antara mamak dan kemenakan perempuannya sudah sepantasnya ditanggalkan karena tidak sesuai dengan kemajuan jaman.

Ruhana Kuddus dan kawan-kawannya terlibat polemik ini. Bagi penulis Soenting Melajoe, posisi perempuan yang berada di bawah otoritas mamak di alam Melayu tidak bisa ditawar lagi. Tidak hanya penulis Soenting Melajoe yang menentang gagasan para penulis Soeara Perempoean. Para penulis laki-laki dari Oetoesan Melajoe—surat kabar milik Datuk Sutan Maharadja—mencap mereka sebagai “perempuan bar”.   

Dari polemik-polemik tersebut, nampak bahwa Ruhana Kuddus tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang sekarang disebut feminisme Barat. Ia sepakat mengenai emansipasi perempuan di ruang publik, untuk mendapat pendidikan dan seterusnya. Namun ia menolak gagasan bahwa perempuan haruslah bebas sepenuh-penuhnya dari kontrol laki-laki. Ruhana menolak anggapan bahwa berdiam di rumah serta mengabaikan pendidikan dan keterampilan tangan, sebagai kodrat kaum perempuan. Di saat yang sama, ia sepakat dengan kodrat perempuan sebagai kemenakan dari seorang mamak. Inilah yang dimaksud Rohana sebagai perempoean madjoe.

Anti-Penjajahan?

Saat pindah ke Medan pada 1920,  ia bergabung dengan surta kabar Perempoean Bergerak. Di sana ia mulai menyoroti nasib buruh perempuan di perkebunan karet di Deli yang hidup dalam kondisi mengenaskan.  Sampai saat kembali ke Bukittinggi pada 1924, saat menulis di surat kabar Radio ia masih menyinggung soal isu buruh perempuan yang tidak jarang dijebak oleh mandor perkebunan ke dalam prostitusi.

Di Bukittinggi, Ruhana juga sempat mendirikan sekolah-sekolah kerajinan seperti Kerajinan Amai Setia. Fokusnya serupa, meningkatkan keterampilan dan kecakapan perempuan dalam menghasilkan kerajinan tangan. Meski hari ini apa yang dilakukan Ruhana kelihatan seperti UMKM, namun pada masanya ia adalah sesuatu yang cukup progresif.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X