Perempoean Madjoe dan Jamannya: Membahas Beberapa Salah Kaprah Mengenai Ruhana Kuddus

- Senin, 8 November 2021 | 15:44 WIB
Rohana Kuddus (Google Doodle)
Rohana Kuddus (Google Doodle)

 

HALUANPADANG.COM - Setelah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2019 lalu, nama Ruhana Kuddus kembali diperbincangkan setelah wajahnya tampil di Google Doodle hari ini, Senin (8/11).  Beberapa ulasan ringkas mengenai kiprahnya di masa lalu pun bermunculan. Baik yang melihatnya sebagai jurnalis perempuan pertama, pejuang kesetaraan gender, sampai yang menyebutnya sebagai pejuang yang melawan penjajahan Belanda.

Namun tidak semua klaim-klaim tersebut bisa dibenarkan. Kita bisa menyebutnya sebagai jurnalis perempuan pertama karena faktanya sampai pada 1911 memang belum ada perempuan yang mengelola perbitan surat kabar dan menulis secara rutin di media massa. Namun ketika kita menyebutnya sebagai ‘pejuang keseteraan gender’ kita mesti bertanya dulu, kesetaraan gender atau feminisme seperti apa yang dimaksud. Begitu juga ketika kita menyebutnya sebagai 'pejuang yang melawan penjajahan Belanda'.

Besar dalam Djaman Madjoe

Masa-masa peralihan abad 18 ke abad 19 ditandai dengan bermunculannya elit pribumi, baik laki-laki atau perempuan, tidak hanya di tempat yang kini disebut Sumatera Barat namun merentang ke wilayah koloni Belanda lainnya di kawasan timur.  Secara umum lit-elit ini melihat dirinya sebagai bagian dari djaman madjoe. Sebagian dari mereka melihat djaman madjoe sebagai jaman di mana putra-putri anak jajahan bisa hidup sentosa dan bahagia, menyongsong perubahan jaman di bawah panji-panji Kerajaan Belanda. Ringkasnya mereka tidak mempermasalahkan penjajahan atau kolonalisme.

Pada saat-saat itu pula, gagasan mengenai hak-hak perempuan mulai dibicarakan. Gagasan mengenai perempoean madjoe mulai dibentuk. Di Sumatera, Jawa, serta Maluku, sekolah-sekolah khusus perempuan dibangun. Surat kabar-surat kabar didirikan yang sebagiannya menyokong  gagasan kemadjoean sebagai lawan dari  gagasan tradisional mengenai perempuan yang harus tinggal di rumah selamanya dan tunduk pada suami serta kaum pria umumnya.

Dalam masa-masa inilah Ruhana Kuddus tumbuh besar dan berkembang.  Ia lahir pada 1884 di Koto Gadang—salah satu Nagari paling modern pada masanya—dengan nama Siti Roehana. Nama “Kuddus” yang kemudian disematkan di belakang namanya diambil dari nama suaminya, seorang notaris bernama Abdul Koeddoes. Ayahnya adalah seorang jaksa kepala. Di masa-masa remajanya ia belajar membaca dan menulis secara otodidak dan mengonsumsi berbagai bacaan.

Di saat itu, pada 1908, sebuah surat kabar khusus membahas masalah perempuan bernama Poetri Hindia, yang diinisiasi Tirto Adhi Soerjo, telah berdiri di Batavia. Ruhana adalah salah satu pembaca surat kabar Poetri Hindia. Tulisannya juga pernah dimuat surat kabar tersebut.

Dalam suatu laporan umum pada 1914 yang dibuat pemerintah Belanda untuk membicarakan masalah-masalah perempuan di tanah jajahan, poligami, pernikahan dini, serta masalah-masalah buruh perempuan disampaikan oleh sejumlah perempuan terdidik seperti Dewi Satika yang pada 1904 telah mendirikan Sekolah Istri.

Antara 1910-an sampai akhir 1920-an, di Hindia Belanda berdiri puluhan organisasi perempuan yang memiliki visi berbeda-beda. Dari yang memperjuangkan penghapusan perdagangan perempuan, kemandirian ekonomi perempuan, sampai penghapusan poligami.   

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X