Menyigi Sejarah Koa/Ceki: Dekat dengan Mistik, Bukan "Produk" Orang Minang

- Minggu, 31 Oktober 2021 | 19:10 WIB
Bermain Kartoe Djawa/Tjeki  di Jogjakarta1911 (Repro Ovilier J Raap Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (KPG, 2013))
Bermain Kartoe Djawa/Tjeki di Jogjakarta1911 (Repro Ovilier J Raap Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (KPG, 2013))

Meski begitu, menurut Reid sendiri pada masa-masa itu permainan-permainan tersebut, “tidaklah terutama didorong oleh keinginan untuk menang besar melainkan didorong oleh keinginan untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok keluarga serta golongan.”

Hari ini permainan ceki/kowa/kartu Jawa, masih dimainkan di banyak tempat di Indonesia. mulai dari Bali, beberapa daerah di Jawa, serta di Sumatera Barat. Kadang diadakan pertandingan ceki untuk memperingati kemerdekaan atau momen lainnnya. Game ceki, THE1 KOA CEKI, juga sudah tersedia di Playstore. (*)

 

 

Ralat: Sebelumnya ditulis di paragraf pertama bahwa editorial berjudul "Tjekidelict" termuat di surat kabar Soenting Melajoe pada 1922 dan Chatib Maharadja sebagai kepala redaktur.

Setelah dichek kembali, ternyata editorial tersebut dimuat di surat kabar Neratja 26 September - 1 Oktober 1921. Status Chatib sebagai kepal redaktur juga diralat karena belum bisa dipastikan apakah dia saat itu sudah bergabung dengan Soenting Melajoe. Yang jelas, pada 1921, Chatib Maharadja memang berprofesi sebagai Jurnalis.  

 

 

 

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X