Menyigi Sejarah Koa/Ceki: Dekat dengan Mistik, Bukan "Produk" Orang Minang

- Minggu, 31 Oktober 2021 | 19:10 WIB
Bermain Kartoe Djawa/Tjeki  di Jogjakarta1911 (Repro Ovilier J Raap Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (KPG, 2013))
Bermain Kartoe Djawa/Tjeki di Jogjakarta1911 (Repro Ovilier J Raap Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (KPG, 2013))

Sementara itu di Padang, pada 1930-an “permainan ceki merupakan pergaulan para pegawai,” tulis Ismail Lengah dalam memoar berjudul Cerita untuk Anak Cucu (naskah tidak diterbitkan. Tanpa tahun, hal. 15).

Masih berdasarkan memoar Lengah, permainan ceki diselenggarakan di sebuah gedung milik suatu perkumpulan bernama Medan Pertemuan. Selain sebagai tempat bermain ceki, di sana juga tersedia meja billiard. Gedung tersebut jelas merupakan suatu model tandingan dari Rumah Bola-Rumah Bola (rumah sodok) yang khusus untuk bangsa barat dan telah ada di Padang semenjak abad 19.

Asal-usul Tjeki

Permainan ini memang sangat populer di masa kolonial. Ivan Taniputera, seorang kolektor buku lawas, mendokumentasikan koleksi bukunya tentang permainan tjeki di blog pribadinya pusatkopibukukunojadulwordpress.com. Dari salah satu koleksinya, terdapat sebuah buku mengenai tuntunan cara-cara bermain ceki  berbahasa. Judulnya Penoentoen Kasoekan Pei, diterbitkan oleh Druk Kollf-Bunning, Djokja. Penulisnya seorang mantri guru bernama Darmasoemarta.  

Dalam buku tersebut disebut tentang asal-usul permainan ceki: Ingkang moeroegaken wonten dolanan kertos poenika bangsa Tiog Hoa yang artinya yang memperkenalkan permainan kartu ini ialah bangsa Tiong Hoa.  

Ivan tidak menuliskan tahun terbit buku tersebut, namun dari salinan yang saya peroleh dari seorang dosen yang tengah meneliti permainan ceki, buku tersebut ditebitkan pada 1937.  

Keterangan dalam buku tersebut dikonfirmasi oleh Anthony Reid, seorang pakar sejarah Asia Tenggara. Menurutnya permainan kartu ceki di Asia Tenggara hampir pasti diperkenalkan oleh orang Cina. Jenis permainan serta sebagian besar kata-kata untuk permainan kartu ini berasal dari bahasa Cina bagian selatan, ungkap Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1 (2012: 229).  

Baca Juga: Perempoean Madjoe dan Jamannya: Membahas Beberapa Salah Kaprah Mengenai Ruhana Kuddus

Di Negeri Bawah Angin, sejak lama, permainan kartu identik dengan perjudian. Bermain kartu semata-mata untuk menghabiskan waktu tanpa bertaruh merupakan kejanggalan. Dimainkan tidak hanya oleh pria, namun juga wanita. Bahkan di beberapa tempat seperti Manila, permainan kartu lebih dikenal “sebagai hiburan utama” para perempuan. Mengutip pengamatan Grawfurd, Reid menulis “Pada hari pasar, di setiap bagian negeri di mana perjudian terbuka tidak dilarang secara mutlak, lelaki dan perempuan, dan tua dan muda, membagi diri dalam kelompok di jalan-jalan pasar untuk melakukan perlombaan.”

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X