Menyigi Sejarah Koa/Ceki: Dekat dengan Mistik, Bukan "Produk" Orang Minang

- Minggu, 31 Oktober 2021 | 19:10 WIB
Bermain Kartoe Djawa/Tjeki  di Jogjakarta1911 (Repro Ovilier J Raap Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (KPG, 2013))
Bermain Kartoe Djawa/Tjeki di Jogjakarta1911 (Repro Ovilier J Raap Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (KPG, 2013))

 

Iklan Kartu Tjeki di masa kolonial (Sin Po 22 Maret 1922)

Dunia Tjeki, Dunia Mistik

Kartu Tjeki pada masa lalu tidak hanya bisa dipakai sebagai permainan, namun juga bisa dipakai sebagai media untuk meramal nasib seseorang. Dalam bukunya Soeka-doeka di Jawa Tempoe Doeloe Olivier Johannes Raap juga menyingung hal tersebut. Orang-orang pada masa itu menganggap bahwa motif-motif di kartu tjeki memiliki makna tertentu.

Pada 1941, sebuah buku berjudul Resia Tersemboenji Dalem Kartoe Djawa diterbitkan oleh Boekhandel “Sunrise” Batavia. Buku ini menawarkan pada calon pembelinya cara melihat segala ramalan menggunakan kartoe djawa (kartoe tjeki).  Penerbit yang sama juga menerbitkan buku ramalan kartu tjeki lainnya dengan judul Petangan Kwan Im.

Baca Juga: Empat Wajah Imam Bonjol

Tjeki dan Dunia Priyayi

Selain identik dengan ‘kalangan rendahan’ dan dunia kriminal tjeki atau di pulau Jawa saat itu disebut juga Kartu Djawa, juga digemari oleh kalangan bangsawan atau priyayi.  Masih menguti Raap, permainan ceki juga digemari oleh kalangan priyayi dan keraton.

Bagaimana ceki menjadi bagian dunia priyayi digambarka oleh penulis sekaligus budayawan Umar Kayam dalam novelnya Para Priyayi (2003: 50-53). Dalam novel terebut Kayam menggambaran bagaimana proses identifikasi diri priyayi lewat permainan ceki pada masa kolonial. Dengan menguasai cara bermain ceki, seorang priyayi dapat masuk ke dalam suatu lingkungan pergaulan bernama “kesukan” (kesenangan). 

Diterima dalam kesukan bagi seorang priyayi berarti diterima dalam pergaulan priyayi. Dalam kesukan inilah seorang priyayi belajar lebih banyak tentang bagaimana menjadi priyayi, menambah pergaulan, serta meluaskan jaringan.

Saat bermain ceki, selain bertaruh kecil-kecilan, mereka juga membicarakan banyak hal. Mulai dari gosip remeh-temeh, perkembangan politik, sampai pembicaraan-pembicaraan mendalam seperti makna kehidupan.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X