Wartawan TvOne Kena Palak di Sijunjung, Begini Sejarah Pemalakan di Minangkabau

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 14:50 WIB
Ilustrasi Pemalakan
Ilustrasi Pemalakan

 

HALUANPADANG - Senin lalu (18/10/2021) Beni Roska, seorang wartawan tvOne, dipalak oleh sejumlah orang di gerbang buka-tutup jalur lintas Lubuk Batu-Padang Sibusuk, Sijunjung, Sumatera Barat.

Sejumlah orang yang merasa berkuasa di wilayah itu, meminta uang pada Beni dengan mengancam serta mengitimidasinya lewat kata-kata kasar lengkap dengan ajakan berkelahi. Kejadian yang telah dilaporkan oleh Beni ke Polres Sijunjung, kini sedang ditangani kepolisian setempat.

Peristiwa pemalakan ini tentu bukan yang pertama. Beberapa bulan lalu, ‘kasus Izet’ sempat menjadi perbincangan selama berhari-hari. Jika ditelesuri agak ke belakang lagi, maka kita akan mendapati setumpuk berita mengenai kasus pemalakan di Sumatera Barat.

Nah, bagaimana sejarah pemalakan di Minangkabau ini?

Dalam kaba-kaba klasik tidak ditemukan indikasi adanya praktek pemalakan (koreksi jika saya keliru). Thomas Dias yang mencatat perjalanannya dalam sebuah surat ke pedalaman Minangkabau pada 1684, juga tidak menyebut adanya praktek pemalakan. Di tiap daerah yang disinggahinya, dia memang dicurigai dan ditakut-takuti penduduk setempat, tapi dia tidak dimintai sejumlah uang atau barang sebagai syarat untuk melewati daerah tersebut.

Namun dua abad setelah itu, saat Thomas Stanford Raffles juga melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau,  ia mengalami praktek mirip pemalakan. Saat itu ia harus membayar sejumlah uang pada para penghulu di beberapa nagari yang dilaluinya.  

Sejarawan Gusti Asnan dalam makalahnya berjudul Dari “Uang Siriah”, “Uang Rokok” Hingga Pakuak dan Pemalakan, Kekerasan Ala Urang Awak Dalam Persepktif Sejarah (2016), menyebut apa yang dialami Raffles sebagai “cikal bakal pemalakan” di Minangkabau.

Kewajiban membayar sejumlah uang/barang pada penguasa negeri itu dikenal juga sebagai “uang sirih.” Namun mengingat fungsi tradisional sirih sebagai simbol persahabatan dan penghormatan, pada masa-masa yang lebih silam uang sirih bisa dilihat sebagai sebentuk diplomasi, ungkapan rasa hormat satu komunitas saat memasuki wilayah komunitas lainnya.

Ceritanya jadi berbeda setelah masyarakat di pedalaman Minangkabau terserap lebih dalam ke  perekonomian komersil yang berkembang di pantai barat dan timur Sumatera, saat sirih berganti uang dan komoditas dagang. Inilah yang ditemui Raffles di tahun 1818.  Saat itu “uang sirih” lebih dimaknai sebagai sejumah uang  atau barang yang harus dibayar jika seorang pedagang melintasi wilayah suatu nagari. Uang atau barang itu dikutip oleh sejumlah pemuda.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X