Ronggeng Pasaman: Kesenian Bandar, Paduan Beragam Budaya

- Senin, 18 Oktober 2021 | 17:51 WIB
Pertunjukan Ronggeng Pasaman (disbud.sumbarpov.go.id)
Pertunjukan Ronggeng Pasaman (disbud.sumbarpov.go.id)

HALUANPADANG.COM - Ronggeng Pasaman lahir dari tengah-tengah masyarakat multikultural di kawasan Pasaman dan Pasaman Barat.

Pasaman sendiri, setidaknya sejak masa kolonial, saat Belanda membawa sejumlah orang dari Jawa untuk bekerja di kebun-kebun karet, telah menjadi kawasan yang dihuni oleh beragam etnis seperti Minangkabau, Jawa, serta Mandailing.

Jika dirunut lebih ke belakang, maka kawasan Pasaman bisa dilihat sebagai bagian dari jalur perdagangan di pesisir barat Sumatera. Pasamanlah yang dalam abad-abad yang lampau menghubungkan Aceh dengan dataran tinggi Minangkabau.

Dari interaksi antarbudaya itulah lahir Ronggeng Pasaman, yang berbeda dengan ronggeng dari daerah lain. Jika di Pulau Jawa semua penari ronggeng adalah perempuan, dalam Ronggeng Pasaman, selain perempuan ada juga penari pria yang berperan sebagai perempuan.

Para peneliti seperti Martarosa dkk. (2019) menggolongkannya kedalam jenis kesenian ‘bandar’ yang berciri multikultural.

Pertunjukannya sangat cair. Dengan iringan biola, gitar, rebana, serta tamburin sang ronggeng menari bersama penonton secara bergiliran. Penonton seperti ini biasanya berjumlah 3 orang.  1 orang menari berpasangan dengan ronggeng, sementara 2 lainnya menari di pinggir gelanggang, menunggu giliran menari dengan ronggeng. 

Seorang ronggeng pria tidak hanya dituntut untuk menguasai seni peran, namun juga diharuskan memiliki keahlian mumpuni dalam berpantun. Saat menari, ronggeng akan melantunkan beberapa pantun untuk disahut oleh penonton yang menemaninya menari. Kadangkala karena kelihaianan ronggeng, penonton kesulitan membalas pantunnya. Jika ini terjadi, sip penonton bisa bertanya pada penonton lainnya.

Mirip-mirip syair dalam Rabab, pantun dalam Ronggeng Pasaman tidak bersifat hafalan serta kaku, melainkan dinamis. Seorang ronggeng mesti bisa menggubah pantun baru secara spontan sesuai kondisi yang berkembang saat berlangsungnya pertunjukan. Keahlian menggunah isi pantun inilah yang membuat penonton kewalahan menjawab pantun sang ronggeng, tak jarang gelak tawa terburai karenanya. Di samping itu, demi keamanan dirinya saat tampil, ronggeng juga harus menguasai ilmu batin yang disebut paga diri.

Pantun yang dibawakan dalam Ronggeng Pasaman umumnya adalah pantun muda-mudi dalam bahasa Minang dan bahasa Mandailing. Pantun-pantun ini ia didendangkan dengan irama lagu seperti lagu Karpinyo, Cerai Kasih, Buah Sempaya, Sinambang, Mainang, atau Si Kambang Baruih. Pengaruh vokal dendang ratok bakaba juga kuat dalam seni pertunjukan ini.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Ini Dia! Mansa Musa, Manusia Paling Kaya Dalam Sejarah

Senin, 27 Desember 2021 | 22:51 WIB

Memahami Sejarah Pemalakan di Minangkabau

Senin, 13 Desember 2021 | 15:27 WIB

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB
X