Pergerakan Toko-Toko Buku Alternatif di Kota Padang, dari Pembungkaman Hingga Harapan

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 19:02 WIB
Toko-toko Buku Alternatif di Padang (Dokumentasi Haluan Padang & Ig @kedaiteroka)
Toko-toko Buku Alternatif di Padang (Dokumentasi Haluan Padang & Ig @kedaiteroka)

Haluan Padang—Setidaknya terdapat dua toko buku besar di Padang, kota yang diisi oleh lebih dari sepuluh sekolah tinggi dan puluhan ribu mahasiswa. Namun tak seperti kota lainnya yang diramaikan oleh mahasiswa, hanya ada segelintir toko buku alternatif di kota ini. 

Haluan Padang memantau tiga di antara toko buku alternatif tersebut, yakni Kedai Teroka, Linibuku, dan Kedai Steva.

Kedai Teroka, Bertahan dalam Kesederhanaan

Toko buku Kedai Teroka terlihat layaknya sebuah toko kecil. Terletak di Jalan Dr. Mohammad Hatta, sebuah jalan menuju universitas terbesar di kota tersebut. Tiara, pengelola Kedai Teroka menuturkan bahwa toko buku tersebut berdiri sejak 6 Januari 2020.

Keinginannya membuka toko buku di Padang berawal dari perhatiannya terhadap toko-toko buku di Pulau Jawa. “Saya melihat toko-toko buku di Pulau Jawa berkembang, sedangkan di Padang hanya ada dua toko buku besar. Dulu Sempat ada toko buku kecil di kawasan Pondok yang buku-bukunya ditangkap oleh aparat. Toko buku tersebut sekarang sudah tutup,” jelas Tiara.

Tiara mafhum bahwa tidak banyak toko buku dan penerbit independen di Padang. Baginya, hadirnya Kedai Teroka merupakan bagian dari ikhtiar untuk menaikkan kembali literasi di Padang, juga untuk memudahkan akses pembaca mendapatkan buku-buku bagus.

Tiara mempelajari cara mengelola toko buku semenjak ia merantau ke Jakarta setelah ia lulus dari prodi Sastra Inggris Universitas Andalas. “Dulu saya pernah terlibat di ‘Galeri Kertas’, sebuah galeri seni di Depok yang juga menyediakan ruang untuk buku-buku. Buku-buku tersebut bisa dibeli atau dipinjam,” jelas Tiara.

Ketika Tiara kembali ke Kota Padang dan mulai menyiapkan pendirian Kedai Teroka bersama rekan-rekannya, beberapa penerbit independen mulai dikontak untuk menyediakan buku-buku terbitan mereka di Kedai Teroka.  Beruntung, salah satu penggagas Kedai Teroka juga pernah bekerja di ‘Komite Buku Nasional’, sehingga mendapatkan akses untuk mendapatkan berbagai buku terbitan penerbit independen.

Kedai Teroka merupakan bagian dari CV Teroka Gaya Baru, perusahaan yang juga memayungi penerbit Teroka Press. Sejauh ini Teroka Press telah menerbitkan novel, esai sastra, dan buku puisi.

Pada awal pendirian Kedai Teroka, lumayan banyak pengunjung yang datang untuk membeli buku. “Pengunjung-pengunjung Kedai Teroka di antaranya merupakan kawan-kawan kami, lalu juga datang mahasiswa-mahasiswa sastra, FISIP, dan hukum. Beberapa dosen juga ada yang menyarankan mahasiswa untuk beli buku ke sini. Bahkan ada yang datang dari Bukittinggi untuk membeli hingga 6 buku,” ujar Tiara.

Setelah Kedai Teroka berdiri selama lebih dari satu tahun, Tiara menyadari bahwa belum banyak keuntungan finansial yang bisa didapat dari penjualan buku, terutama saat pandemi.

“Kita belum mendapatkan keuntungan yang cukup dari penjualan buku. Namun kami memiliki target dalam beberapa tahun ke depan agar Teroka bisa menghidupi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saat ini kami masih ‘menyiram’, berkorban untuk jalannya kedai ini,” jelasnya. 

Meski begitu, Tiara dan rekan-rekannya tidak menganggap pengorbanan tersebut sebagai beban. “Saya senang di sini, bisa menjaga buku dan bertemu dengan teman-teman baru,” pungkasnya.

Optimisme Linibuku Merawat Sejarah Literasi Sumatera

“Kami membuka Linibuku, salah satu alasannya adalah bisnis. Terlepas dari persoalan itu, Sumatera dari dulu dikenal sebagai penggagas dari lahirnya toko buku di generasi-generasi awal. Misalnya di Padang Panjang, Padang, Bukittinggi, Payakumbuh. Sayangnya sekarang penerbit dan toko buku di Sumbar sudah tidak banyak lagi,” jelas Alizar Tanjung, pendiri toko buku Linibuku yang terletak di Jalan Berok I, Kecamatan Padang Barat.

Menurut Alizar, Sumatera punya akar kuat dalam sejarah pendirian toko dan penerbit buku. Pendirian Linibuku merupakan salah satu upaya untuk merawat sejarah tersebut. 

Ia menambahkan bahwa bisnis jualan buku adalah perjuangan akan suatu nilai. “Saya ingin berbagi kebahagiaan melalui buku. Saya ingin pembaca dari seluruh Sumatera hingga daerah pelosok bisa menikmati buku dari genre apapun yang mereka inginkan. Baik itu buku pendidikan, bacaan ringan, novel, bahkan buku tentang K-pop. Kami sadar bahwa tidak semua pembaca langsung mau membaca yang berat-berat seperti filsafat,” jelasnya.

Linibuku mengusung tagline 'bahagia dari hati'. Jabaran dari tagline tersebut, menurut Alizar, antara lain kemudahan dalam mendapat buku, kenyamanan ketika berinteraksi dengan buku, dan harga yang terjangkau.

Sebelum Alizar memutuskan mendirikan Linibuku pada tahun 2017, ia sudah melakukan riset sejak 2015 dengan melakukan perjalanan ke Yogyakarta, bertanya kepada kawan-kawan yang memiliki toko buku. Hal menarik yang Alizar temukan adalah bahwa Yogyakarta memiliki begitu banyak penerbit dan toko buku alternatif. Menurutnya, kondisi tersebut mirip dengan Sumatera pada periode 1960-an hingga 1980-an.

“ Toko-toko buku tersebut juga ada di Pasar Raya, Padang. Kemudian toko-toko buku tersebut menghilang perlahan, mungkin karena kurang bisa menyesuaikan diri dengan Pasar,” jelasnya.

Setelah melihat hal sebaliknya terjadi di Yogyakarta, Alizar lalu tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut. “Ternyata penerbit buku di Yogyakarta tidak mencetak banyak-banyak buku. Palingan cetak 100 sampai 200, kemudian mereka mengedarkannya ke beberapa toko buku online,” lanjutnya.

Menurut Alizar, jika di satu toko buku online terjual sekitar 10 buku, sudah lumayan menguntungkan bagi penerbit dan toko buku online. Satu toko buku online di Yogyakarta bahkan bisa mendapatkan keuntungan hingga ratusan juta rupiah. 

Setelah memerhatikan dinamika toko dan penerbit buku di Yogyakarta, Alizar kemudian merintis Linibuku di Padang, meski ia sadar pada awalnya bisnis jualan buku lumayan berat untuk dijalankan. “Dari awal buka pada 2017 sampai dua tahun setelahnya, kami mencatatkan lebih banyak pengeluaran dibandingkan pemasukan. Ketika mendapatkan keuntungan dua juta dalam sebulan, kami sudah merasa cukup,” ujarnya.

Meski dihantam dari sisi ekonomi, Alizar ternyata tidak menyerah begitu saja. Ia merasa bahwa Padang juga memiliki peluang untuk menyamai Yogyakarta dalam hal penjualan buku. “Hanya saja pasarnya mesti dibangun, salah satunya dengan banyak membuka toko buku online,” imbuh Alizar.

Sejak tahun 2019 hingga saat ini, Linibuku sudah aman secara finansial dengan omzet yang teratur. Kini toko buku tersebut  sudah bisa menggaji karyawan.

Setelah mapan secara finansial, Alizar berusaha menguatkan brand Linibuku. Upaya tersebut mencakup memberi label yang menarik, menjaga pola pemasaran, serta menjamin kualitas produk. “Kami berharap orang-orang tidak hanya membeli buku di Linibuku, namun juga membeli brand dari Linibuku itu sendiri,” ujarnya.

Upaya Alizar tidak sia-sia. Konsumen Linibuku saat ini bukan hanya dari Sumatera, namun juga berasal dari Jakarta, Kalimantan, hingga daerah di bagian timur Indonesia. “Sebagian orang bahkan mengira bahwa Linibuku berbasis di Jakarta,” tambah Alizar.

“Perjuangan Linibuku saat ini adalah mendorong terbentuknya toko-toko buku online di Kota Padang, kemudian kita bisa bergerak jauh hingga membentuk penerbit-penerbit alternatif,” pungkasnya.

Pojok Steva, Buah dari Hasrat Membuka Ruang Diskusi yang Bebas Represi

Pojok Steva yang terletak di kawasan Siteba, Kecamatan Nanggalo, malam itu terlihat tidak terlalu ramai. Sebagian pengunjung terlihat asyik membaca, mengetik di laptop, hingga mengobrol santai dengan cangkir-cangkir kopi di meja mereka. Di antara semerbak aroma kopi, Haluan Padang mewawancarai  Fatris, salah seorang penggagas dan pengelola Pojok Steva 

“Sebenarnya Pojok Steva selain jadi toko buku kecil, lebih tepat disebut sebagai tempat diskusi dan tempat cari referensi. Di sini juga banyak manuskrip dan data-data untuk penelitian. Bidangnya antara lain antropologi, sejarah, budaya, sosiologi, dan hukum,” ujar Fatris.

Fatris membuka Pojok Steva bersama rekan-rekannya. “Ini awalnya kedai milik orang tua, kantin kampus, lalu kami rombak. Kursi dan meja kami ganti dengan yang baru, kemudian kami juga menambahkan mesin kopi di kedai ini,” jelas Fatris.

Sebelum menjadi toko buku, Pojok Steva awalnya merupakan sebuah perpustakaan. “Kami membuka Perpustakaan Steva, karena ingin ada tempat membaca dan diskusi yang bebas. Kami mau kawan-kawan sepulang kerja bisa mampir di sini, ngobrol, membaca. Kami juga ingin buku-buku lebih dekat ke masyarakat, tidak harus ke perpustakaan besar,” imbuh Fatris. Oleh karena itu, sampai kini Pojok Steva kerap mengadakan diskusi buku dan film.

Menurutnya, salah satu keuntungan meminjam buku di Pojok Steva adalah perpustakaan tersebut dikelola oleh orang-orang yang paham buku, jadi bisa mengarahkan pembaca untuk mendapatkan buku sesuai dengan topik yang mereka cari. “Meskipun kota kita punya perpustakaan daerah, namun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pembaca,” terang Fatris.

Label ‘toko buku’ baru disematkan ke Pojok Steva pada akhir Januari 2021, setelah Fatris mendapat saran dari teman-temannya untuk mulai berjualan buku. Meski begitu, sistem peminjaman buku layaknya perpustakaan masih diterapkan di Pojok Steva.

Penjualan buku di Pojok Steva kebanyakan menggunakan sistem konsinyasi. “Beberapa penerbit meletakkan buku-buku di toko, kemudian berdasarkan berapa banyak buku yang terjual, kita bagi hasil,” jelas Fatris.  Buku-buku yang dijual berasal dari penerbit tertentu yang tidak dijual oleh toko buku mainstream.

Terkait urusan cari untung, Fatris merasa bahwa berjualan buku bukan jalan yang paling efektif. “Toko buku sebenarnya sulit untuk dijadikan bisnis. Bahkan toko buku mainstream jika tidak menjual barang lain selain buku, sulit juga untuk bertahan,” imbuhnya.

Ia lalu menuturkan bahwa keuntungan jual buku paling tinggi 30%, belum lagi dipotong ongkos kirim. Dalam sebulan, Pojok Steva pernah menghasilkan Rp 3 juta dari penjualan buku, namun keuntungan bersih dari sana hanya 20%.

Hal lain yang mendasari keinginan Fatris dan kawan-kawannya membangun perpustakaan dan toko buku, ialah kontradiksi yang mereka lihat. Di satu sisi, Padang adalah kota pelajar. Namun di sisi lain, ruang alternatif pendukung kegiatan intelektual di luar kampus masih minim.

 “Padang mungkin dianggap sebagai kota pelajar di Sumatera, karena banyak mahasiswa di sini. Namun lucunya, di sini tidak banyak toko buku yang bisa mendukung gairah intelektual. Tidak bisa jika hanya berharap ke universitas,” ujar Fatris.

Menurut Fatris, pemerintah secara tidak langsung juga berperan dalam mematikan gairah intelektual di Padang. “Misalnya di Padang Theater. Dulu, di sekitar Padang Theater banyak toko buku dan tempat meminjam buku, di sana kita bisa menyewa banyak buku, merokok, dan makan. Sayang sekali, Padang Theater kemudian ditutup,” imbuhnya.

“Kami juga menyayangkan ada toko buku kecil yang pernah digeledah di Padang. Toko tersebut kemudian tutup. Kalau misalnya Padang dianggap kota pelajar, kebebasan untuk berpikir harusnya dikasih,” lanjutnya.

Uyung Hamdani, rekan Fatris yang juga ikut mengelola Pojok Steva, juga menyampaikan keresahannya terkait kebebasan berfikir di Padang. Ia menuturkan bahwa pada akhir 2018, pernah terjadi pembubaran acara nobar dan diskusi film dokumenter tentang Tan Malaka. 

“Kegiatan tersebut dibubarkan oleh aparat setempat, alasannya karena ada pengaduan masyarakat, namun kita tidak tahu siapa. Padahal film Tan Malaka adalah film yang telah lulus sensor. Kebetulan saat itu menjelang pilpres, ada isu komunis bangkit dan sebagainya,” jelas Uyung.

Menurut penuturan Uyung, tempat diskusi  film tersebut, perpustakaan kolektif Shelter Utara, kini sudah tidak ada. Dengan tiadanya Shelter Utara, ruang untuk melakukan kegiatan intelektual makin berkurang.  “Orang-orang yang sering ke sana banyak sudah ke Jakarta,” imbuhnya.

Namun keresahan-keresahan itu mereka ubah menjadi perpustakaan dan toko buku independen. Ruang intelektual yang dibangun agar  bisa diakses siapa saja sebagai bentuk kontribusi mengatasi gersangnya dunia intelektual di Padang, tanpa perlu uluran tangan pemerintah.

"Kita tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah. Kami hanya berharap urusan kami tidak dicampuri, asal toko buku dan ruang diskusi jangan ditutup dan dirazia. Malu kalau sampai di Padang ada razia toko buku dan diskusi yang dibubarkan," ujar Fatris mengakhiri wawancara dengan seringai sinisnya. 

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB

Trending di Twitter, Berikut ini Sekilas Sejarah LDII

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:34 WIB

Mengenal Ulu Ambek: Silat Batin dari Ranah Minang

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:49 WIB
X