Pergerakan Toko-Toko Buku Alternatif di Kota Padang, dari Pembungkaman Hingga Harapan

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 19:02 WIB
Toko-toko Buku Alternatif di Padang (Dokumentasi Haluan Padang & Ig @kedaiteroka)
Toko-toko Buku Alternatif di Padang (Dokumentasi Haluan Padang & Ig @kedaiteroka)

 “Padang mungkin dianggap sebagai kota pelajar di Sumatera, karena banyak mahasiswa di sini. Namun lucunya, di sini tidak banyak toko buku yang bisa mendukung gairah intelektual. Tidak bisa jika hanya berharap ke universitas,” ujar Fatris.

Menurut Fatris, pemerintah secara tidak langsung juga berperan dalam mematikan gairah intelektual di Padang. “Misalnya di Padang Theater. Dulu, di sekitar Padang Theater banyak toko buku dan tempat meminjam buku, di sana kita bisa menyewa banyak buku, merokok, dan makan. Sayang sekali, Padang Theater kemudian ditutup,” imbuhnya.

“Kami juga menyayangkan ada toko buku kecil yang pernah digeledah di Padang. Toko tersebut kemudian tutup. Kalau misalnya Padang dianggap kota pelajar, kebebasan untuk berpikir harusnya dikasih,” lanjutnya.

Uyung Hamdani, rekan Fatris yang juga ikut mengelola Pojok Steva, juga menyampaikan keresahannya terkait kebebasan berfikir di Padang. Ia menuturkan bahwa pada akhir 2018, pernah terjadi pembubaran acara nobar dan diskusi film dokumenter tentang Tan Malaka. 

“Kegiatan tersebut dibubarkan oleh aparat setempat, alasannya karena ada pengaduan masyarakat, namun kita tidak tahu siapa. Padahal film Tan Malaka adalah film yang telah lulus sensor. Kebetulan saat itu menjelang pilpres, ada isu komunis bangkit dan sebagainya,” jelas Uyung.

Menurut penuturan Uyung, tempat diskusi  film tersebut, perpustakaan kolektif Shelter Utara, kini sudah tidak ada. Dengan tiadanya Shelter Utara, ruang untuk melakukan kegiatan intelektual makin berkurang.  “Orang-orang yang sering ke sana banyak sudah ke Jakarta,” imbuhnya.

Namun keresahan-keresahan itu mereka ubah menjadi perpustakaan dan toko buku independen. Ruang intelektual yang dibangun agar  bisa diakses siapa saja sebagai bentuk kontribusi mengatasi gersangnya dunia intelektual di Padang, tanpa perlu uluran tangan pemerintah.

"Kita tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah. Kami hanya berharap urusan kami tidak dicampuri, asal toko buku dan ruang diskusi jangan ditutup dan dirazia. Malu kalau sampai di Padang ada razia toko buku dan diskusi yang dibubarkan," ujar Fatris mengakhiri wawancara dengan seringai sinisnya. 

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB

Trending di Twitter, Berikut ini Sekilas Sejarah LDII

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:34 WIB

Mengenal Ulu Ambek: Silat Batin dari Ranah Minang

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:49 WIB
X