Pergerakan Toko-Toko Buku Alternatif di Kota Padang, dari Pembungkaman Hingga Harapan

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 19:02 WIB
Toko-toko Buku Alternatif di Padang (Dokumentasi Haluan Padang & Ig @kedaiteroka)
Toko-toko Buku Alternatif di Padang (Dokumentasi Haluan Padang & Ig @kedaiteroka)

Pojok Steva yang terletak di kawasan Siteba, Kecamatan Nanggalo, malam itu terlihat tidak terlalu ramai. Sebagian pengunjung terlihat asyik membaca, mengetik di laptop, hingga mengobrol santai dengan cangkir-cangkir kopi di meja mereka. Di antara semerbak aroma kopi, Haluan Padang mewawancarai  Fatris, salah seorang penggagas dan pengelola Pojok Steva 

“Sebenarnya Pojok Steva selain jadi toko buku kecil, lebih tepat disebut sebagai tempat diskusi dan tempat cari referensi. Di sini juga banyak manuskrip dan data-data untuk penelitian. Bidangnya antara lain antropologi, sejarah, budaya, sosiologi, dan hukum,” ujar Fatris.

Fatris membuka Pojok Steva bersama rekan-rekannya. “Ini awalnya kedai milik orang tua, kantin kampus, lalu kami rombak. Kursi dan meja kami ganti dengan yang baru, kemudian kami juga menambahkan mesin kopi di kedai ini,” jelas Fatris.

Sebelum menjadi toko buku, Pojok Steva awalnya merupakan sebuah perpustakaan. “Kami membuka Perpustakaan Steva, karena ingin ada tempat membaca dan diskusi yang bebas. Kami mau kawan-kawan sepulang kerja bisa mampir di sini, ngobrol, membaca. Kami juga ingin buku-buku lebih dekat ke masyarakat, tidak harus ke perpustakaan besar,” imbuh Fatris. Oleh karena itu, sampai kini Pojok Steva kerap mengadakan diskusi buku dan film.

Menurutnya, salah satu keuntungan meminjam buku di Pojok Steva adalah perpustakaan tersebut dikelola oleh orang-orang yang paham buku, jadi bisa mengarahkan pembaca untuk mendapatkan buku sesuai dengan topik yang mereka cari. “Meskipun kota kita punya perpustakaan daerah, namun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pembaca,” terang Fatris.

Label ‘toko buku’ baru disematkan ke Pojok Steva pada akhir Januari 2021, setelah Fatris mendapat saran dari teman-temannya untuk mulai berjualan buku. Meski begitu, sistem peminjaman buku layaknya perpustakaan masih diterapkan di Pojok Steva.

Penjualan buku di Pojok Steva kebanyakan menggunakan sistem konsinyasi. “Beberapa penerbit meletakkan buku-buku di toko, kemudian berdasarkan berapa banyak buku yang terjual, kita bagi hasil,” jelas Fatris.  Buku-buku yang dijual berasal dari penerbit tertentu yang tidak dijual oleh toko buku mainstream.

Terkait urusan cari untung, Fatris merasa bahwa berjualan buku bukan jalan yang paling efektif. “Toko buku sebenarnya sulit untuk dijadikan bisnis. Bahkan toko buku mainstream jika tidak menjual barang lain selain buku, sulit juga untuk bertahan,” imbuhnya.

Ia lalu menuturkan bahwa keuntungan jual buku paling tinggi 30%, belum lagi dipotong ongkos kirim. Dalam sebulan, Pojok Steva pernah menghasilkan Rp 3 juta dari penjualan buku, namun keuntungan bersih dari sana hanya 20%.

Hal lain yang mendasari keinginan Fatris dan kawan-kawannya membangun perpustakaan dan toko buku, ialah kontradiksi yang mereka lihat. Di satu sisi, Padang adalah kota pelajar. Namun di sisi lain, ruang alternatif pendukung kegiatan intelektual di luar kampus masih minim.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB

Trending di Twitter, Berikut ini Sekilas Sejarah LDII

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:34 WIB

Mengenal Ulu Ambek: Silat Batin dari Ranah Minang

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:49 WIB
X