Pergerakan Toko-Toko Buku Alternatif di Kota Padang, dari Pembungkaman Hingga Harapan

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 19:02 WIB
Toko-toko Buku Alternatif di Padang (Dokumentasi Haluan Padang & Ig @kedaiteroka)
Toko-toko Buku Alternatif di Padang (Dokumentasi Haluan Padang & Ig @kedaiteroka)

Pada awal pendirian Kedai Teroka, lumayan banyak pengunjung yang datang untuk membeli buku. “Pengunjung-pengunjung Kedai Teroka di antaranya merupakan kawan-kawan kami, lalu juga datang mahasiswa-mahasiswa sastra, FISIP, dan hukum. Beberapa dosen juga ada yang menyarankan mahasiswa untuk beli buku ke sini. Bahkan ada yang datang dari Bukittinggi untuk membeli hingga 6 buku,” ujar Tiara.

Setelah Kedai Teroka berdiri selama lebih dari satu tahun, Tiara menyadari bahwa belum banyak keuntungan finansial yang bisa didapat dari penjualan buku, terutama saat pandemi.

“Kita belum mendapatkan keuntungan yang cukup dari penjualan buku. Namun kami memiliki target dalam beberapa tahun ke depan agar Teroka bisa menghidupi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saat ini kami masih ‘menyiram’, berkorban untuk jalannya kedai ini,” jelasnya. 

Meski begitu, Tiara dan rekan-rekannya tidak menganggap pengorbanan tersebut sebagai beban. “Saya senang di sini, bisa menjaga buku dan bertemu dengan teman-teman baru,” pungkasnya.

Optimisme Linibuku Merawat Sejarah Literasi Sumatera

“Kami membuka Linibuku, salah satu alasannya adalah bisnis. Terlepas dari persoalan itu, Sumatera dari dulu dikenal sebagai penggagas dari lahirnya toko buku di generasi-generasi awal. Misalnya di Padang Panjang, Padang, Bukittinggi, Payakumbuh. Sayangnya sekarang penerbit dan toko buku di Sumbar sudah tidak banyak lagi,” jelas Alizar Tanjung, pendiri toko buku Linibuku yang terletak di Jalan Berok I, Kecamatan Padang Barat.

Menurut Alizar, Sumatera punya akar kuat dalam sejarah pendirian toko dan penerbit buku. Pendirian Linibuku merupakan salah satu upaya untuk merawat sejarah tersebut. 

Ia menambahkan bahwa bisnis jualan buku adalah perjuangan akan suatu nilai. “Saya ingin berbagi kebahagiaan melalui buku. Saya ingin pembaca dari seluruh Sumatera hingga daerah pelosok bisa menikmati buku dari genre apapun yang mereka inginkan. Baik itu buku pendidikan, bacaan ringan, novel, bahkan buku tentang K-pop. Kami sadar bahwa tidak semua pembaca langsung mau membaca yang berat-berat seperti filsafat,” jelasnya.

Linibuku mengusung tagline 'bahagia dari hati'. Jabaran dari tagline tersebut, menurut Alizar, antara lain kemudahan dalam mendapat buku, kenyamanan ketika berinteraksi dengan buku, dan harga yang terjangkau.

Sebelum Alizar memutuskan mendirikan Linibuku pada tahun 2017, ia sudah melakukan riset sejak 2015 dengan melakukan perjalanan ke Yogyakarta, bertanya kepada kawan-kawan yang memiliki toko buku. Hal menarik yang Alizar temukan adalah bahwa Yogyakarta memiliki begitu banyak penerbit dan toko buku alternatif. Menurutnya, kondisi tersebut mirip dengan Sumatera pada periode 1960-an hingga 1980-an.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB

Trending di Twitter, Berikut ini Sekilas Sejarah LDII

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:34 WIB

Mengenal Ulu Ambek: Silat Batin dari Ranah Minang

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:49 WIB
X