Tato Mentawai: Nyaris Punah, Bangkit Kembali.

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 07:39 WIB
Ilustrasi direproduksi dari Mentawai Tatto Revival :Kembali Merajah Mentawai (2011)
Ilustrasi direproduksi dari Mentawai Tatto Revival :Kembali Merajah Mentawai (2011)

HALUANPADANG.COM - Sejak ribuan tahun lalu, orang-orang di Kepulauan Mentawai, laki-laki maupun perempuan, telah merajah tubuhnya.  Dengan merajah tubuhnya dengan tinta dari arang batok kelapa atau arang daun pisang, para penghuni yang mula-mula mendiami kepulauan itu menciptakan ikatan komunal. Penduduk yang datang lebih belakangan, mengikatkan diri dengan penghuni lebih awal dengan merajah tubuhnya. Dalam cerita rakyat setempat, Putri dari ‘kahyangan’ pun merajah tubuhnya demi membangun ikatan dengan penghuni bumi. 

Mereka menyebut seni merajah tubuh yang demikian penting itu sebagai titi—kita menyebutnya tato, tato Mentawai. 

Titi berhubungan langsung dengan Arat Sabulungan, ‘kepercayaan’ orang Mentawai. Motif tetumbuhan yang dominan pada tato Mentawai menunjukkan betapa tak terpisahkannya titi dari Arat Sabulungan—tetumbuhan sendiri adalah sesuatu yang sakral dalam Arat Sabulungan di mana Taikaleleu, sang pemberi kesejahteraan, penolak bala, dan pemberi kesuburan, bersemayam. 

Secara tradisional, sebuah punen (upacara) khusus perlu digelar saat seseorang, yang telah memenuhi persyaratan tertentu, hendak ditato. Dalam upacara yang disebut punen patiti dan dipimpin langsung oleh Sikerei itu, sipatiti (seniman tato) diundang dan darah hewan kurban dicuraikan.  

Motif-motif tato Mentawai, dapat menjadi tanda dari klan mana seoseorang berasal. Dapat pula menandai profesi serta keahlian seseorang. Seorang pemburu misalnya, metato tubuhnya dengan motif hewan seperti motif sakkole (babi) atau jojo (kera). Motif-motif hewan tersebut adalah tanda bagi kemahiran berburu sekaligus bentuk penghormatan pada Taikalelu penjaga hutan. 

Seorang pemburu yang mahir berburu di perairan memakai motif laita (ikan) atau saggesaggai (kepiting) sebagai penghormatan bagi Taikabagatkoa yang berkuasa di laut. Seorang Sikerei merajah tubuhnya dengan motif sibalu-balu yang menandakan keahliannya dalam pengobatan,  profesinya sebagai dukun atau pawang.

Tapi secuil cerita soal titi di atas, lebih banyak terjadi di masa lalu. Dalam kurun sejarah yang lebih kontemporer, apa yang tertulis di atas nyaris menjadi sekadar cerita masa lalu, sebagai catatan di atas kertas semata. 

Nyaris Punah

Karena tato adalah sesuatu yang integral dengan Arat Sabulungan, dengan kebudayaan Mentawai itu sendiri, ia ikut terancam ketika pemerintah melarang segala macam bentuk pengamalan Arat Sabulungan. 

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Terpopuler

X