Empat Wajah Imam Bonjol

- Selasa, 12 Oktober 2021 | 18:35 WIB
Ilustrasi (Haluan Creative | M Budiman)
Ilustrasi (Haluan Creative | M Budiman)

Wajah yang Hilang: Wajah Manusia Peto Sjarif

Dalam banyak epos kepahlawan, si pahlawan sering digambarkan sebagai manusia nyaris-sempurna, termasuk dalam epos sejarah nasional Indonesia. Tokoh-tokoh pahlawan dalam narasi sejarah nasional ditampilkan nyaris tanpa emosi kecuali kobaran semangat untuk memerdekakan bangsanya. Penggambaran seperti itu, di satu sisi mencerminkan kebutuhan-kebutuhan pada masa-masa dibentuknya sejarah nasional Indonesia. Namun di sisi lain, penggambaran yang kaku atas seorang pahlawan akan segera jatuh pada pengsakralan, dan lebih berbahaya lagi ialah pemfosilan.

Dalam kaitannya dengan Imam Bonjol, imaji yang kaku dan pejal atas Imam Bonjol dalam narasi sejarah nasional telah tertanam demikian kuat. Keyakinan yang bersifat doktriner bahwa Imam Bonjol adalah sosok manusia-nyaris sempurna membuat sebagian orang tidak bisa menerima gambaran lain mengenai Imam Bonjol. Jika ada penggambaran terhadap sisi lain Imam Bonjol yang lebih humanis, maka penggambaran itu bisa ditentang habis-habisan. Dramawan Wisran Hadi pernah ditolak mementaskan karyanya tentang Perang Paderi karena gambaran yang ditawarkan Wisran mengenai Imam Bonjol yang penuh keragu-raguan, sedikit lemah dan sedikit nakal, berbeda dengan versi sejarah nasional atau versi Islami-Minangkabau. “Peto Sjarif namaku,” salah satu dialog dalam naskah drama seri Perang Paderi itu, menegaskan upaya Wisran untuk menampilkan sosok Imam Bonjol yang lebih manusiawi.

Sejarawan Jeffrey Hadler juga menunjukkan betapa penggambaran pahlawan dalam narasi sejarah nasional telah membuat orang melupakan kemampuan reflektif Imam Bonjol. Dalam bukunya Sengketa Tiada Putus (2010) yang bisa dikatakan sudah jadi karya klasik itu, Hadler memperlihatkan secara langsung atau pun tidak langsung bahwa Imam Bonjol adalah manusia yang berdaya-pikir, mampu membuat inisiatif sendiri, bukan manusia pasif yang melulu disetir semangat nasionalisme ataupun semangat keagamaan.

Dalam satu fase dalam sejarah Perang Paderi, Hadler menunjukkan bahwa Imam Bonjol pergi menyepi untuk beberapa waktu. Di waktu itu, Imam Bonjol memikirkan ulang segala tindakannya. Ia merasa sudah bertindak terlampau jauh. Ia kemudian mengutus anak kemenakannya pergi ke Mekah untuk mempelajari lagi hukum Islam. Sekembali dari Mekah, para utusan itu menyampaikan apa yang dipelajarinya, bahwa Islam yang kaku dan keras sudah tidak lagi dipakai. Dari keterangan tersebut Imam Bonjol merenung untuk beberapa saat dan kemudian mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan cara dakwahnya yang lama, mengembalikan harta rampasan perang serta memulihkan kekuasaan para penghulu. Di titik ini, Imam Bonjol mengakhiri Perang Paderi sebagai perang untuk memperbaharui Islam.

Dengan melihat Imam Bonjol lewat cara seperti ini, Hadler mencoba menunjukkan bahwa konflik-konflik seperti Perang Paderi bukan tidak mungkin untuk menemukan penyelesaian secara internal. Di dalam konflik-konflik semacam itu, menurut Hadler ada berbagai piranti kebudayaan yang akan bekerja untuk menyelesaikan persoalan tanpa perlu campur tangan pihak luar. Campur tangan yang dimaksudnya ialah berbagai invansi militer atas nama pemberantasan terorisme (dan juga nasionalisme).

Kita bisa tidak bersepakat dengan keseluruhan dasar-pikir Hadler, namun setidaknya kita bisa bersepakat bahwa Belanda, yang dalam Perang Paderi menyimpan niat sebagai penengah bahkan penyelamat bangsa Melayu Minangkabau dari kebengisan Paderi lalu mengirimkan armada militernya untuk memberantas kaum Paderi, adalah kesalahan. Kesalahan yang diulang oleh negara-negara seperti Amerika di banyak tempat. Dan dalam batas tertentu, kekeliruan yang juga dibuat oleh Indonesia dalam menangani PRRI/PERMESTA, DII/TII, GAM, atau OPM.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB

Trending di Twitter, Berikut ini Sekilas Sejarah LDII

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:34 WIB

Mengenal Ulu Ambek: Silat Batin dari Ranah Minang

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:49 WIB
X