Empat Wajah Imam Bonjol

- Selasa, 12 Oktober 2021 | 18:35 WIB
Ilustrasi (Haluan Creative | M Budiman)
Ilustrasi (Haluan Creative | M Budiman)

Buku Sanusi Pane ini terus dicetak ulang dan menjadi referensi utama bagi buku-buku teks pelajaran sejarah sampai terbitnya teks sejarah resmi, Sejarah Nasional Indonesia, pada masa-masa awal Orde Baru. Sejak saat itu, bisa dikatakan status Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional mulai mapan.

Dalam buku-buku pahlawan nasional yang terbit setelahnya dalam kurun 1950-an dan 1960-an, citra Tuanku Imam sebagai salah satu pahlawan nasional atau pahlawan kemerdekaan menjadi makin stabil. Tokoh-tokoh pahlawan seperti Imam Bonjol tidak lagi dilekatkan lagi dengan dimensi keagamaan seperti pada masa-masa 1930-an. Misalnya dalam buku Batjaan Anak2 Kenalilah Pahlawan Kemderdekaan yang dikarang oleh S. Koesman, terbit pada 1962. Dalam buku-buku seperti ini, Imam Bonjol digambarkan secara kaku sebagai “pahlawan kemerdekaan” yang dengan semangat nasionalisme berperang melawan penjajah Belanda demi memerdekakan Indonesia.

Wajah Ketiga: Pahlawan Minang

Runtuhnya Orde Baru beriringan dengan pudarnya narasi besar sejarah Nasional yang ditulis di bawah rezim tersebut. Pada awal-awal 2000-an terjadi semacam desentralisasi dalam penulisan sejarah di Indonesia. Perlawanan sembunyi-sembunyi atas narasi sejarah yang terpusat, mulai muncul terang-terangan dalam skala cukup besar begitu Suharto tumbang. Klaim-klaim sejarah yang nasionalistik mulai digugat, coba diganti dengan narasi sejarah yang lebih lokal-sentris seperti. Memakai kalimat Gery Van Klinken (2001), masa-masa peralihan ini adalah masa the battle for history.

Pelokalan narasi kepahlawanan yang bersinggungan dengan etnisitas menjadi bagian dari pertarungan tersebut, termasuk kepahlawanan Imam Bonjol. Citra Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional yang telah mapan sejak 1950-an, mulai dibentuk ulang, dikaitkan dengan etnisitas.

Sebuah literatur tentang Tuanku Imam Bonjol berjudul Tuanku Imam Bonjol: Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau (1784-1832) yang ditulis oleh Sjafnir Aboe Nain Dt Kando Maradjo, mencoba menempatkan Imam Bonjol sebagai sosok intelektual yang berjuang untuk etnis dan umatnya. 

Buku ini diterbitkan pertama kali pada 1988 dan setelah direvisi diterbitkan kembali untuk ketigakalinya pada 2008 dalam momen 200 tahun Imam Bonjol. Penggambaran Sjafnir mengenai Imam Bonjol jauh dari kesan pahlawan gagah perkasa yang maju berperang demi nasionalisme. Sebaliknya buku ini mencoba menggeser dasar perjuangan Imam Bonjol. Jika dalam narasi sejarah nasional landasan itu adalah nasionalisme, maka bagi Sjafnir adalah “hukum adat Ber-sendi syarak”.

Karena itu pula, apa yang menjadi tujuan perjuangan Imam Bonjol bukan lagi persatuan nasional namun terutama untuk mewujudkan “…solidaritas (uchuwah islamiyah), persatuan dan konsepsi keadilan, dan keadilan dalam bermasyarakat”. Bagi Sjafnir, ketimbang semangat nasionalisme, inilah yang mendorong terjadinya “Perlawanan Rakyat Minangkabau”.

Ini adalah semacam gambaran mengenai Imam Bonjol yang telah dilekatkan sedemikan rupa dengan etnisitas. Ada kesan kuat bahwa di sini Imam Bonjol dikurung dalam idealisasi atas etnis Minang yang memiliki bakat khusus sebagai intelektual, dan di saat yang sama tidak meninggalkan nilai-nilai Islam sebagai pijakan utama. Pendek kata, Imam Bonjol di sini di-Minangkan sedemikian rupa meski Imam Bonjol sendiri tidak pernah mendaku Minang.

Hingga hari ini, citra Imam Bonjol sebagai pahlawan Minang masih bertahan. Bentuknya bisa beragam. Namun munculnya cara pandang ini juga beriringan dengan munculnya tawaran lain untuk melihat sosok Imam Bonjol.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB

Trending di Twitter, Berikut ini Sekilas Sejarah LDII

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:34 WIB

Mengenal Ulu Ambek: Silat Batin dari Ranah Minang

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:49 WIB
X