Empat Wajah Imam Bonjol

- Selasa, 12 Oktober 2021 | 18:35 WIB
Ilustrasi (Haluan Creative | M Budiman)
Ilustrasi (Haluan Creative | M Budiman)


Haluanpadang.com - Pada mulanya Tuanku Imam Bonjol bukanlah pahlawan nasional sebagaimana ia dikenal hari ini. Imagenya sebagai pahlawan nasional merupakan hasil dari suatu proses sejarah yang berkelindan dengan politik penulisan sejarah. Beragam wajah telah dilekatkan pada Tuanku Imam Bonjol, mulai dari pahlawan agama, pahlawan nasional, sampai pahlawan Minang.

Mungkin banyak yang tidak tertarik dengan kegiatan penelusuran sejarah penulisan sejarah kepahlawanan Imam Bonjol ini. Namun dari kegiatan yang terlihat tidak bermaanfaat ini, kita justru dapat memahami sejarah secara lebih jelas. Apa yang selama ini penting untuk dipahami namun tersuruk oleh politik penulisan sejarah, menjadi terlihat. Tulisan ini tidak bertujuan untuk menambah sesaknya pasar penulisan sejarah Orang Besar, melainkan berupaya memperlihatkan bagaimana Orang Besar dibentuk oleh penulisan sejarah.

Wajah Pertama: Pahlawan Agama

Ketokohan Imam Bonjol mulai ditulis oleh sendiri oleh pribumi setidaknya sejak 1930-an. Pada masa-masa itu, apa yang disebut sebagai bangsa Indonesia masih samar-samar. Para siswa di sekolah-sekolah diajarkan ‘sejarah tanah Hindia’ versi Belanda.

Dalam masa yang sama, pada 1939 terbit sebuah buku berjudul Riwajat dan Perdjoeangan Toeankoe Imam Bonjol Sebagai Pahlawan Islam. Pada buku yang L DT R Dihoeloe ini, Tuanku Imam Bonjol dihadirkan bertolak belakang dengan narasi sejarah bikinan Belanda. Ia bukanlah biang rusuh, penggangu ketertiban melainkan, tokoh yang “dipandang dalam mata sedjarah sebagai pahlawan Islam jang dipoedja-poedja”.

Jika buku seperti ini dilihat sebagai perwakilan dari cara pandang umum terhadap Imam Bonjol pada paro pertama abad ke-20, maka kita akan mendapat gambaran bahwa pada masa-masa itu, Imam Bonjol belumlah dilihat sebagai pahlawan nasional yang berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Dalam buku tersebut Dt. R. Dihoeloe beberapa kali mengaitkan Tuanku Imam dengan suatu ‘bangsa’, namun ‘bangsa’ tersebut tidak merujuk pada entitas yang konkret dan pasti, bukan bangsa Minang, bukan juga bangsa Indonesia. Hal ini dapat dimengerti karena pada masa-masa tersebut, identitas kebangsaan Indonesia masih dalam proses pembentukan.

Penggambaran Imam Bonjol sebagai pahlawan bagi bangsa Indonesia, pahlawan yang berjuang dalam konteks perjuangan nasional baru muncul pada masa pendudukan Jepang.

Wajah Kedua: Pahlawan Bangsa, Pahlawan Kemerdekaan

Berkuasanya Jepang ikut mengubah cara pandang terhadap Imam Bonjol. Para pujangga seperti Sanusi Pane, mulai menulis sejarah Indonesia di bawah pengawasan Jepang. Imam Bonjol yang dalam buku-buku sejarah karangan sarjana Belanda diposisikan sebagai pemberontak kini ditulis sebagai pahlawan bangsa Indonesia.

Lewat dua jilid buku Sedjarah Indonesia yang pertama kali terbit pada masa pendudukan Jepang, Sanusi Pane menghadirkan Imam Bonjol sebagai tokoh sentral dalam perang melawan kolonial Belanda yang “berakar berurat dalam perasaan kebangsaan”. Kebangsaan di sini jelas merujuk pada Indonesia, bukan bangsa dalam pengertian etnis atau kesatuan pemeluk agama yang sama. Dalam tahap ini, terjadi semacam sekularisasi kepahlawanan, dari pahlawan agama menjadi pahlawan nasional (pada 1930-an, tidak hanya Imam Bonjol yang dianggap pahlawan agama namun juga Dipenogoro dan Teuku Umar).

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

Terpopuler

X