Menapaki Jejak Kelompok Freemason di Padang: Sebuah Loji yang Terlupakan

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 16:30 WIB
Ilustrasi (Haluan Creative | M Budiman)
Ilustrasi (Haluan Creative | M Budiman)

Pada sebuah sore, bayangan gedung-gedung tua ala Eropa menutup sebagian jalan kawasan Belakang Tangsi, Kota Padang. Gedung-gedung peninggalan zaman kolonial tersebut menjadi pemanis potret langit merah jelang matahari terbenam.

Oleh: Daffa Benny, Jurnalis Haluan Padang

Gedung yang dulunya dipakai oleh penjajah untuk berbagai kepentingan tersebut kini disulap menjadi pusat keagamaan dan pendidikan. Kini bangunan tua tersebut sebagian besar dikelola dalam naungan otoritas Katolik Padang, antara lain SMA Don Bosco, SMP Frater, SMP Maria, Panti Asuhan St. Leo, gedung Bergamin Paroki Katedral Padang, kantor Keuskupan Padang, hingga Katedral St. Theresia.

Namun di balik kemegahan dan bau yang syarat sejarah perjuangan Kota Padang tersebut, siapa yang sangka ternyata satu dari banyak gedung itu pernah dijadikan sebagai markas kelompok yang ditentang oleh rohaniwan Katolik pada masa itu yakni Freemasonry.

Menurut catatan sejarah, Freemasonry atau Tarekat Mason Bebas sempat memiliki sebuah loji di Jalan Belakang Tangsi pada 1876 hingga 1931. Merujuk pada buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 karya Dr. Th. Stevens (1994) sejarah keberadaan Freemason di Padang tertulis. Namun tidak diketahui secara pasti di titik mana gedung itu pernah berdiri.

Dulu, kelompok Freemasonry pernah beradu hegemoni dengan lembaga Katolik Roma di Padang dalam bidang pendidikan. Freemasonry dengan sekularisme-nya, sementara Katolik dengan pendidikan berbasis keagamaan.

Apa Itu Freemason?

Secara bahasa, stilah ‘Freemason’ terinspirasi dari kata ‘mason’ yang berarti ‘tukang batu’. Anggota Freemasonry melambangkan diri mereka sebagai tukang batu yang tengah membangun ‘kuil’. Kuil yang dimaksud adalah humanisme, kemanusiaan. Anggota Freemasonry mulai berkumpul secara formal pada 1717, ketia muncul loji pertama Freemason, United Grand Lodge of England.

Gerakan ini mengklaim bekerja demi “kemuliaan Juru Bangun Tertinggi Alam Semesta”. Menurut catatan Th. Stevens, Freemasonry atau ‘Tarekat Mason Bebas’ menerima asas dasar pengakuan nilai tinggi kepribadian manusia, hak manusia untuk mencari kebenaran, tanggung jawab moral manusia atas perilakunya, serta tugas untuk mengabdi bagi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai gerakan yang menjunjung tinggi humanisme, Freemason tidak berlandaskan pada ajaran agama apa pun, namun membuka pintu bagi orang-orang dari berbagai agama dan latar belakang untuk bergabung. Kegiatan Freemasonry mencakup ritual-ritual upacara menggunakan simbol-simbol tertentu sebagai “pemujaan yang hendak dibangun kaum Mason Bebas bagi dirinya sendiri dan bagi umat manusia.” Simbol yang digunakan Freemason antara lain segitiga, mata, mistar, dan jangka.

Masuknya Freemason ke Indonesia

Kemunculan awal Freemason di Indonesia ditandai dengan keberadaan loji La Choisie (‘yang terpilih’) di Batavia (Jakarta, red.) pada 1764 hingga 1766. Keberadaan singkat loji tersebut dipengaruhi oleh keberadaan anggota Freemason asal Eropa yang sudah mulai menetap di Batavia.

Tidak berselang lama, kegiatan Freemason di Batavia mulai bangkit lagi dengan keberadaan loji La Fidele Sincerite (‘kesetiaan yang tulus’) pada 1767 dan La Vertueuse (‘kebajikan’) pada 1769.

Keberadaan Freemasonry kemudian perlahan diterima oleh pemerintah-meskipun menimbulkan gesekan dengan pihak gereja. Loji-loji Freemason kemudian muncul di Semarang (1801), Surabaya (1809), hingga Padang (1858).

Loji Mata Hari di Padang, Loji Freemasonry Ke-7 di Indonesia

Loji “Mata Hari” di Padang didirikan pada 1858. Itu merupakan loji ke-7 yang didirikan di Hindia Belanda dan yang pertama di luar Pulau Jawa. Setelah enam loji sebelumnya dinamai dengan bahasa Perancis dan Belanda, loji di kota yang jadi pusat perdagangan Indonesia bagian Barat dulunya ini muncul dengan nama berbahasa Melayu/Indonesia.

Kepala Seksi Cagar Budaya dan Musem Dinas Pendidikan Kota Padang, Marshalleh Adaz menjelaskan, pada abad ke 19, Padang berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi dan pemerintahan kolonial. Aktifitas itu didukung oleh posisi strategisnya di pesisir barat Sumatera yang ramai dengan perdagangan.

"Banyak di antara rempah-rempah yang akan dijual ke Eropa disimpan di gudang-gudang di Padang. Pentingnya Padang bagi pemerintah kolonial membuat kota ini diramaikan oleh pegawai Belanda,” katanya.

Berdasarkan pernyataan tersebut, tidak heran apabila anggota Loji Mata Hari kebanyakan merupakan pegawai pemerintah atau tentara.

T.H. Stevens (1994) mencatat bahwa cikal bakal Loji Mata Hari sudah ada sejak 11 Desember 1857, ketika delapan orang anggota Freemason berkumpul di rumah seorang Belanda bernama Jacob van Vollenhoven di Padang, untuk membahas pendirian loji.

Menurut dia, pertemuan kedelapan orang tersebut berlangsung tertutup sebab masyarakat Kota Padang saat itu terbuka dengan keberadaan orang asing dan demi meminimalisir konflik horizontal. “terutama mengingat ketenangan penduduk pribumi,” tulis Stevens singkat.

Setahun lebih setelah pertemuan awal itu tepatnya pada 14 Mei 1859 loji Mata Hari di Padang diresmikan dengan jumlah anggota sebanyak 14 orang. Upacara peresmian loji tersebut menetapkan A. J. Wichers sebagai Pejabat Wakil Suhu Agung Nasional Tarekat Kaum Mason Bebas untuk Bagian Timur dan Barat Hindia Belanda.

Pada periode awal kegiatan loji “Mata Hari”, anggota sering mengadakan pesta dan jamuan besar. T.H. Stevens menggambarkan bahwa pesta-pesta tersebut sangat meriah dan ditandai oleh persaudaraan yang sejati.

"Dalam pesta peresmian loji di tanggal 14 Mei 1859, para hadirin bahkan menghabiskan hingga 72 botol anggur. Pesta itu turut dimeriahkan dengan korps musik batalion Padang dan tata cahaya yang megah," jelas Stevens.

Sementara untuk markas mereka, Freemason Padang kala itu menyewa bangunan dan memilih untuk berpindah-pindah markas pada tahun awal pendirian. Barulah pada tahun 1866, organisasi membeli sebuah gedung di Jalan Belakang Tangsi yang kemudian resmi menjadi gedung Loji Mata Hari.

Gedung Loge Mata Hari Padang (T.H Stevens)


Setelah dibeli, kelompok Freemason Padang pelan-pelan merenovasi gedung markas mereka. Menurut Steven, renovasi Loji tersebut didanai oleh seorang Tiongha bernama Lie Saaij. Ia pun adalah anggota pertama Loji Freemason dari etnis Tionghoa.

Gedung Loge Mata Hari Padang (T.H Stevens)


Kendati sudah dibeli, gedung loji Mata Hari tidak serta merta langsung digunakan untuk kegiatan Freemason, melainkan sempat disewakan ke Raad van Justitie (Dewan Justisi). Baru sejak akhir 1868, anggota aktif mengadakan pertemuan di gedung tersebut.

CATATAN:
Berdasarkan informasi di web resmi Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Padang, Raad van Justitie akhirnya memiliki gedung sendiri pada 1876 yang kini menjadi gedung PTUN Padang, masih berlokasi di Kelurahan Belakang Tangsi.

Sama seperti di loji Freemason lainnya, loji Mata Hari juga diramaikan oleh kegiatan diskusi dan ceramah. T. H. Stevens (1994) menggambarkan suasana akrab di dalam organisasi Freemason Padang.

“Di loji-loji, pergaulannya berlangsung atas dasar persamaan, dan pendapat-pendapat yang berbeda dikemukakan secara timbal balik, dan hal itu berguna bagi kelanjutan gerakan nasional dan bagi Tarekat Mason Bebas.”

Sebagai gerakan yang menjunjung tinggi humanisme, Loji Mata Hari Padang juga aktif mengadakan ‘bakti sosial’. Berdasarkan notulen kegiatan-kegiatan loji, anggota mengumpulkan sejumlah uang yang terhimpun dalam ‘kas orang miskin’. Uang tersebut didapat dari setoran wajib ketika menjadi anggota serta denda atas ketidakhadiran dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Berbekal dari banyak kegiatan sosial itu dan seiring dengan kedatangan orang-orang baru yang baru berdinas di Kota Padang, Loji Mata Hari tidak menunggu waktu lama untuk mendapat anggota-anggota baru.

Tahun 1876 anggota loji Mata Hari tercatat telagg mencapai jumlah 39 orang. Theo Stevens menuliskan bahwa setelah kebangkitan loji Mata Hari, mereka semakin aktif mengadakan program eksternal, antara lain pendirian Perpustakaan Rakyat yang bertahan hingga lima puluh tahun, sekolah Fröbel (semacam Kindergarten, sekolah bagi anak-anak), serta memprakarsai pendirian Padangsche Spaarbank (Bank Tabungan Rakyat).

Kegiatan Sosial-Masyarakat Freemasonry Padang dan Anomali Pendidikan

Freemasonry di Padang sempat mendirikan perpustakaan rakyat pada tahun 1877. Berselang 40 tahun kemudian tepatnya pada 1917 juga dibuka sebuah perpustakaan rakyat Melayu. Kendati begitu, kami tidak mendapatkan informasi pasti perihal lokasi perpustakaan tersebut.

Selain itu kegiatan eksternal Freemasonry di bidang pendidikan juga mencakup pendirian sekolah Frobel pada 1889, sebagai alternatif dari pendidikan gaya pemerintah dan pendidikan berbasis agama. Sehingga pada 1895 sekolah Fröbel milik Freemason harus bersaing ketat dengan sekolah Fröbel Katolik yang menarik lebih banyak anak-anak dari latar belakang sosial-ekonomi lapisan rendah.

Kenyataan ini menimbulkan kegelisahan tersendiri di kalangan Freemasonry, sebab secara prinsip Freemasonry menempatkan bahwa pendidikan berhak diakses oleh strata sosial apa pun. Hanya saja, di balik itu meurut catatan Stevens, Freemasonry tidak ingin kalah dari lembaga pendidikan Katolik dalam mendidik murid-murid miskin.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di sektor pendidikan. Dinukil dari catatan Gedenkboek yang merupakan seorang anggota Loji, Stevens menyebut bahwa hubungan Freemason dengan lembaga Katolik Roma di Padang kala itu ‘berjalan sulit’. Pendirian sekolah oleh Freemasonry bahkan ditentang secara terang-terangan oleh kaum rohaniwan.

Pada permulaan berdirinya, sekolah tersebut sempat menampung 35 murid. Dalam beberapa bulan, jumlah murid bertambah hingga mencapai total 51 murid. Karena perkembangan jumlah dan latar belakang siswa, terdapat kelas untuk murid-murid Eropa dan kelas tersendiri untuk anak-anak Indonesia.

Tercatat pada 1934, sekolah tersebut menampung 20 murid Eropa dan 33 murid Indonesia dan Tionghoa. “Suatu pergeseran yang menarik, yang memperlihatkan bahwa pendidikan Fröbel juga berhasil di luar segmen penduduk orang Eropa,” tulis T.H. Stevens.

Menurut catatan itu pula, sekolah Fröbel milik Freemason Padang mulai banyak diisi oleh siswa-siswa miskin pada 1930-an. Dengan begitu, semakin nyata pula perbedaan dan persaingan antara lembaga Katolik Roma dan Freemason Padang.

Tergambar dalam catatan Gedenkboek: “Sekolah-sekolah Fröbel yang dikelola oleh suster-suster Cinta Kasih merupakan saingan berat, sebab di sekolah-sekolah itu dibedakan antara anak-anak kaya dan anak-anak miskin, dan anak-anak dari kalangan miskin belajar di ruangan yang lain daripada anak-anak dari kalangan berada yang dapat membayar uang sekolah yang tinggi.”

Catatan itu menggambarkan suatu perbandingan: “Hal itu tidak terjadi di sekolah-sekolah Fröbel kami, dan anak-anak dari orang tua dengan gaji kecil bahkan tidak usah membayar uang sekolah. Itulah yang menurut saya merupakan alasan utama mengapa begitu sedikit anak-anak dari orang tua yang mampu dikirim ke sekolah-sekolah Fröbel kami.”

Padangsche Spaarbank dan Gedung Lainnya Milik Freemason Padang

Fakta lain yang menegaskan keberadaan Freemason di Padang adalah gedung Padangsche Spaarbank yang berdiri pada 1908. Gedung tua yang terletak di pinggir sungai Batang Harau itu dulunya dipakai oleh Belanda untuk mengatur sirkulasi keuangan PT Semen Padang yang berdiri pada 1910, sebelum akhirnya menjadi bangunan cagar budaya.

“Belanda memanfaatkan bank tersebut untuk mendukung keuangan Semen Padang, supaya sirkulasi keuangannya lancar. Padangsche Spaarbank berdiri pada 1908, sementara Semen Padang diresmikan pada 1910. Dalam hal ini tampak bahwa Belanda sangat jeli soal perhitungan ekonominya,” sebut Marshalleh Adaz, Kepala Seksi Cagar Budaya dan Musem di Dinas Pendidikan Kota Padang.

Gedung Padangsche Spaarbank (Haluan Padang | Daffa Benny)


Selain Padangsche Spaarbank, Adaz menilai ada gedung lain yang juga memiliki indikasi keterlibatan dengan Freemasonry. “Ada sebuah gedung bekas gudang rempah-rempah yang tak jauh dari Padangsche Spaarbank. Gedung itu ada sejak 1920-an, dimiliki oleh perusahaan di zaman kolonial Belanda bernama Geo Wehry & Co. Bagian puncak dari salah satu dinding gedung itu terlihat mirip dengan lambang Freemason, yaitu segitiga, pola berbentuk mata, dan garis-garis menyerupai cahaya matahari,” tuturnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Bayu Harianto, pendiri komunitas Padang Herritage. Namun ia menilai kemiripan pola dan lambang tidak serta merta memastikan bahwa gedung tersebut memiliki kaitan dengan Freemasonry.

"Perlu ada riset lebih lanjut. Sayangnya literatur tentang gedung-gedung tua di Padang masih kurang," tukas Bayu.

RRI Padang dan Akhir Perjalanan

Bangunan yang lebih jelas keterlibatannya dengan Freemason Padang adalah kantor sekaligus pemancar Radio Republik Indonesia (RRI) Padang yang berada di Jalan Sudirman. Berdasarkan catatan T.H. Stevens, bangunan itu resmi menjadi gedung Loji Mata Hari sejak 1931, tepatnya setelah anggota loji memutuskan pindah dari gedung di Belakang Tangsi.

Gedung RRI Padang (Haluan Padang | Daffa Benny)


Dokumen dari website RRI Padang membenarkan hal demikian. “Pada pertengahan tahun 1951, dengan pihak PHNB TNI Brigade ‘Benteng’ tercapai suatu persetujuan untuk penukaran gedung RRI di Jalan Sawahan 51 dengan gedung Loji Mata Hari (bangunan yang ada sekarang).”

Dengan pengalihmilik-an gedung oleh RRI saat itu, Diindikasikan bahwa di era itu pula akhir hayat Freemason di Kota Padang sebelum kemudian Presiden Soekarno secara resmi melarang hadirnya organisasi itu hadir di Indonesia.

Pelarangan hadirnya kelompok Freemason tersebut ditegaskan Soekarno dengan menandatangani UU Komando Tinggi Militer pada 27 Februari 1961. Undang-undang tersebut tegas melarang Freemason dengan alasan memiliki dasar dan sumber yang berasal dari luar Indonesia dan tidak selaras dengan kepribadian nasional.

Tidak hanya UU, larangan tersebut kemudian diperkuat dengan Keputusan Presiden (Kepres) No. 264 Tahun 1962.(*)




Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Terpopuler

X