Bertemu Moeldoko, Tangis Janda Tua Penyandang Bakul Langsung Pecah

- Jumat, 1 Oktober 2021 | 12:34 WIB
Ketua Umum HKTI Moeldoko
Ketua Umum HKTI Moeldoko

HALUANPADANG.COM – Sudarsih (78), tak mampu menyempunyikan tangisnya. Janda tua yang setiap hari berjalan kaki 20 kilometer sambal menggendong bakul sayur itu tak mampu menahan keharuannya ketika diberi gerobak oleh Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Moeldoko. Sudarsih merasa doanya dijabah Tuhan.

Pagi itu, akhir September 2021, adalah pagi yang biasa bagi Sudarsih. Dia berjualan seperti biasa. Bakul sayurnya digendong dipunggung. Dia mulai berjalan menyusuri jalan-jalan di Ragunan, Jakarta Selatan. Beberapa orang disapanya, ditawari sayur mayur. Sayang, tak banyak yang membeli. Namun Sudarsih tak pernah patah semangat.

Sehari, Sudarsih mengaku berjalan kaki sambil menggendong bakul sayur sekitar 20 kilometer. Kadang-kadang sayur jualannya habis, tapi acap pula bersisa banyak. Pun, Sudarsih tetak keukeuh berdagang. Di masa tuanya, berjualan sayur adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakoninya untuk mendapatkan biaya penyambung hidup.

“Kalau tidak dagang, dengan apa bayar kontrakan? Saya sendiri. Suami sudah tiada. Anak-anak sibuk dengan keluarga masing-masing. Empat orang, dua lelaki dua perempuan. Semuanya sudah berumah tangga,” terang Sudarsih.

Baca Juga: Gara-gara Sendal Jepit, Moeldoko Jadi Sorotan Warganet

Setiap bulan, Sudarsih yang berasal dari Kebumen, harus mengeluarkan biaya Rp1,3 juta untuk membayar kontrakan di Jakarta. Belum lagi biaya hidup sehari-hari. Hidup di Jakarta butuh biaya tinggi, sebab itu Sudarsih harus terus berjualan sayur bakul, walau punggungnya sudah sering terasa ngilu karena setiap hari memanggul bakul yang penuh sayuran. Tulangnya kian rapuh. Usia menggerogoti.

Ketua Umum HKTI Moeldoko ketika menyerahkan gerobak kepada Sudarsih.

Ketika lewat di depan Kantor Pusat HKTI di Jalan Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Sudarsih dipanggil seorang wanita muda. Pakaiannya necis. Sudarsih bergegas. Dia berharap perempuan muda itu memborong dagangannya. Keduanya terlibat perbincangan. Kepada wanita muda itu Sudarsih mengaku mengambil dagangannya di Pasar Minggu pada tengah malam.

“Pukul 12.00 WIB diambil dari Pasar Minggu, subuhnya dijual dengan cara berkeliling pakai bakul. Habis tidak habis, pukul 10.00 WIB, saya pulang. Tubuh saya sudah tidak terlalu kuat menggendong bakul ini. Sering ngilu. Maklum, telah mulai ringkih,” cerita Sudarsih.

Beberapa orang datang membeli sayur. Sudarsih riang. Tangan keriputnya berusaha cekatan membungkus pesanan setiap orang. Dia senang, dagangannya dibeli. Usai melayani beberapa pedagang, wanita muda yang ditemuinya itu membawa Sudarsih masuk ke dalam Gedung. Diketahui, gedung itu merupakan Kantor HKTI.

Halaman:

Editor: Bhenz Maharajo

Tags

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB

Trending di Twitter, Berikut ini Sekilas Sejarah LDII

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:34 WIB

Mengenal Ulu Ambek: Silat Batin dari Ranah Minang

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:49 WIB
X