Kisah Udin: Pemburu PKI dari Simawang

- Kamis, 30 September 2021 | 18:27 WIB
Ilustrasi/Muhammad Budiman-Haluan Creative
Ilustrasi/Muhammad Budiman-Haluan Creative

Oleh: Daffa Benny, Jurnalis Haluan Padang

“Kita tahu bahwa saat itu PKI bahaya, sehingga apa yang kita lakukan adalah usaha untuk memelihara keamanan negara, meskipun sebagai hansip kita tidak dapat honor” jelas Udin (79)-seseorang yang pernah mengemban ‘tugas negara’: menjemput orang-orang PKI.

Udin melaksanakan tugas negara itu di kampung halamannya, Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan, tak jauh dari Batusangkar pusat Kabupaten Tanah Datar.

Ia mengawali kesaksiannya dengan membawa suatu cerita kilas balik, tepatnya ketika PKI memegang pengaruh kuat di republik. “Pada 1962 pemerintah menggencarkan konfrontasi dengan Malaysia. Soekarno saat itu mesra dengan PKI,” jelas Udin.

Saat itu, di kala PKI memegang pengaruh kuat di kancah nasional, PKI memilih untuk mendukung gerakan Soekarno untuk berkonfrontasi dengan Malaysia.

Konfrontasi ini berawal dari keinginan Federasi Malaya atau lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu. Pada tahun 1961 Federasi Malaya ingin menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak ke dalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan Persetujuan Manila.

Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.

Kuatnya hegemoni PKI bahkan terasa hingga ke kampung halaman Udin. Bahkan, sebelum G30S meletus, Wali Nagari Simawang bahkan dijabat oleh seorang kader partai berlambang palu-arit tersebut.

“Ketika masa jabatan wali nagari yang PKI itu, rakyat pernah disuruh bikin lubang, katanya untuk berlindung dari Malaysia. Kemudian desas-desus bahwa lubang itu sebenarnya untuk warga yang anti PKI,” jelasnya.

Tepat 1 Oktober 1965, Udin dan orang-orang di kampung mendapatkan kabar pemberontakan G30S dari radio. “Kita tahu kejadian itu pada pagi hari di radio, ada terjadi kup di Jakarta, G30S. Besok pagi rakyat berontak, termasuk mahasiswa di kota-kota,” imbuhnya.

“Di kampung, orang-orang diajak demo untuk bubarkan PKI. Kebetulan di kampung saya banyak orang-orang Masjumi (Masyumi.red) juga,” ujar Udin. Masyumi sendiri merupakan lawan kuat PKI, tepatnya sebelum Masyumi bubar pada 1960. “Ketika itu sempat beredar isu bahwa sudah ada daftar nama orang-orang yang akan dibunuh PKI,” ia menambahkan.

Dua hari setelah peristiwa berdarah tersebut, Udin menceritakan orang-orang di Nagari Simawang langsung bergerak memburu kader-kader PKI hingga ke pelosok desa.

“Malam-malam dicari orang yang dianggap PKI, dibawa ke Koramil di pusat kecamatan,” imbuh Udin.

“Wali nagari Simawang merupakan kader PKI, namanya Mangkuto Yusuf. Sekretarisnya Sutan Harun, juga orang PKI,” jelas Udin. Namun pasca G30S, Yusuf Mangkuto ternyata bersembunyi demi menghindari orang-orang desa yang tengah berburu.

Keesokan harinya tanggal 2 Oktober 1965, jabatan Wali Nagari kemudian digantikan oleh seorang Datuk, ia adalah seorang penghulu di dalam keluarga besar Udin. “Saya ditunjuk menjadi hansip oleh Datuk saya. Yang mana tugas pokok saya adalah menjemput orang-orang terduga PKI pada malam hari,” jelasnya.

Malam itu bagi Udin menjadi malam yang panjang baginya, Udin harus menghirup nafas dalam-dalam untuk menjalan tugas dari Datuknya tersebut. Berbekal pentungan di tangan, ia mulai berburu.

Sepanjang malam, Udin mengelilingi kampung. Nalurinya sebagai aparat keamanan desa saat itu sangat tajam. Matanya 'nyalang' menyapu bersih ke seluruh sudut kampung. Hasilnya malam itu, Udin berhasil menangkap puluhan warga desa yang diduga komplotan PKI.

“Orang-orang terduga PKI dijemput, dibentak-bentak oleh para penjemput yang kebanyakan anak-anak muda, lalu dibawa ke kecamatan dan koramil,” jelasnya.

“Mereka kemudian dikumpulkan di lapangan. Ada yang dipukuli, ada yang kemudian hilang, atau dibawa ke pusat kabupaten,” tutur Udin.

Setelah ditangkap, orang-orang yang dijemput tersebut dikelompokkan oleh tentara (TNI.red) sesuai dengan tingkatan jabatan mereka di partai yang diharamkan Soeharto sejak pemberontakan tersebut meletus.

Golongan A dilabel sebagai orang penting di PKI, golongan B adalah simpatisan PKI, dan golongan C merupakan orang-orang yang pernah menerima bantuan berupa alat-alat pertanian dari PKI dan menandatangani dokumen.

“Golongan A dibawa ke kabupaten, mereka diduga berperan di G30S. Golongan B, orang yang paham dan menjadi simpatisan PKI, sebagian ditahan. Ada pula golongan C, kebanyakan mereka adalah petani yang sebenarnya bukan anggota PKI, namun pernah dapat jatah bantuan dari PKI dan menandatangani suatu surat. Mereka belum tentu paham isi surat dari PKI tersebut,” ujar Udin.

Dalam ingatan Udin, matanya nanar ketika melihat orang-orang ‘golongan C’ dijemur di lapangan di tengah cuaca terik. Mereka dihukum bak penjahat kelas kakap oleh petugas keamanan. Ia pun iba, air matanya tanpa sadar jatuh begitu menyaksikan hasil buruannya itu menderita.

"Saya menangis melihat mereka. Dalam benak saya, apa salah mereka? mereka itu hanya bawahan yang belum tentu benar-benar terlibat dengan pemberontakan. Kejam!," tukas dia.

“Golongan C ini juga sampai tidak bisa jadi pegawai negeri anaknya. Bahkan pada pemilu 1971, orang-orang tersebut tidak bisa memilih,” imbuhnya.

Saat menyaksikan penyiksaan tersebut, Udin kemudian mendengar berita yang tak kalah membuat mentalnya ciut. Saat itu ada satu warga Nagari Simawang yang dibunuh dalam gejolak pasca G30S. “Malin Sutan terbunuh, kabarnya dia calon camat yang disiapkan oleh orang-orang PKI,” jelas Udin. “Waktu penjemputan Malin Sutan, saya tidak mau ikut karena saya berteman dengan anaknya.”

Udin mendengar kabar pembunuhan Malin Sutan dari rekan-rekannya sesama tukang jemput. “Sebelum sampai di kantor camat Rambatan, Malin Sutan sudah dibunuh, ditusuk perutnya hingga usus panjangnya keluar. Di jembatan di Tanah Mato, di Sungai Ombilin, jasadnya dihanyutkan,” jelas Udin.

Cerita dari rekan kerjanya tersebut ia temukan sendiri begitu meninggalkan lapangan-tempat Golongan C PKI dijemur. Begitu melintasi kawasan Rambatan, Udin mencium bau amis di jalanan. Jalanan yang biasa dilalui orang desa untuk membawa hasil ladang ke pasar, malam itu berubah mencekam. Mayat di mana-mana, darah segar mengalir deras di antara sela jalan.

“Ketika di malam hari saya pulang dari kecamatan, saya lihat ada mayat-mayat bergelimpangan, di daerah Belimbing, Padang Magek, Padang Luar, dan jembatan Ombilin” jelasnya. Malam panjang itu telah usai, Udin sampai di rumah dengan pikiran yang kosong dan tidak henti menghitung baik-buruk tindakannya sebagai hansip kampung, sebagai pihak yang berburu dan menjemput mereka yang dituduh dekat dengan PKI.

Meski menjalankan tugas negara dengan sepenuh hati, masih ada kegamangan dalam benak Udin. Sebab ia sama sekali tidak mendapatkan imbalan tertentu dari 'Si Penyuruh'-selain dari beberapa batang rokok. “Tidak ada honor, malah kita sempat mencuri ubi orang untuk makan,” kenang Udin.

Padahal, menurut dia, apa yang ia lakukan dalam satu malam itu berisiko besar bagi keselamatan diri Udin sendiri. Ia sempat mendengar kata-kata, “sekarang hari dia, besok hari kita.” Ia pun terganggu dengan kata-kata itu. Jiwa korsa Udin bergetar jika mengingat ancaman kematian yang mungkin akan ia dapatkan sama dengan mereka yang tertuduh PKI tersebut.

“Saudara saya menyampaikan kabar kepada saya, bahwa keluarga orang-orang terjemput bisa jadi menyimpan dendam. Kakak saya tersebut takut jika kelak saya dianiaya,” jelas Udin.
Oleh kakaknya tersebut, Udin disuruh berhenti untuk jadi hansip. Namun ternyata Wali Nagari saat itu ingin mempertahankan ia sebagai hansip.

“Lalu datang kakak saya jemput, dia bilang ke wali nagari bahwa saya sudah dewasa, sehingga butuh pekerjaan yang lebih menghasilkan imbalan,” ujar Udin.

Demi menjaga dirinya dari dendam orang kampung, Udin kemudian merantau ke jambi pada tahun 1967 dan bekerja di kebun karet selama setahun. Lalu ia kembali lagi ke Sumatera Barat pada 1968, tepatnya di Padang. Disana, ia sempat berjualan buku di samping kantor Balaikota lama, komplek Pasar Raya Padang.

Pada periode tersebut, ia sempat mendengar kabar tentang Wali Nagari di kampung halaman, yang merupakan Datuknya sendiri itu mendapatkan hukuman penjara karena melindungi orang kampung dari sergapan pemburu PKI.

“Datuk Rajo Penghulu beberapa kali keluar masuk penjara karena mempertahankan warga kampung dari tangkapan rezim. Sebab ia tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang yang hendak ditangkap tersebut sebenarnya tidak bersalah,” jelas Udin.

Udin yang lahir pada tahun 1942 ini banyak menghabiskan masa hidupnya berpindah dari satu daerah ke daerah lain: Mentawai, Jakarta, hingga Tangerang. Sejak tahun 1970-an, ia mengikuti program transmigrasi yang dicanangkan oleh rezim orde baru, hingga pindah dari Tangerang ke suatu daerah di perbatasan Sumatera Barat.

“Bagi kita, kita tahu bahaya PKI saat itu. Saat itu yang kita tahu adalah membela kenyamanan, persatuan, serta kesatuan bangsa,” ujar Udin.

Ia tidak menampik, dalam ‘tugas negara’ tersebut, ada korban-korban tak bersalah, sehingga ia merasa iba. “Saya pribadi kasihan ke yang golongan C, kebanyakan mereka hanya petani biasa, diberi bantuan dari PKI tentunya mereka mau saja, karena mereka butuh,” jelas Udin.

CATATAN:
Udin adalah nama samaran, kami melindungi identitas sang pemburu demi menghindari hukuman sosial yang akan ia dapatkan. Namun kisah Udin kami sadur dari kisah yang sebenarnya.

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Jambu Lipo

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:05 WIB

Kisah-kisah Menakjubkan dari Jambu Lipo

Kamis, 2 Desember 2021 | 23:28 WIB

Memaknai Pahlawan di Awal 1950-an

Kamis, 11 November 2021 | 15:06 WIB

Trending di Twitter, Berikut ini Sekilas Sejarah LDII

Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:34 WIB

Mengenal Ulu Ambek: Silat Batin dari Ranah Minang

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:49 WIB
X