Menengok Aktivitas Bapas Bukittinggi: Datang Berstatus Terpidana, Pulang jadi Montir

- Rabu, 15 September 2021 | 14:13 WIB
PELATIHAN MEKANIK – Puuhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) serius mengikuti pelatihan pelatihan mekanik sepeda motor yang diselenggarakankan oleh Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi (Bapas Bukittinggi) bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi (Lapas Bukittinggi).
PELATIHAN MEKANIK – Puuhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) serius mengikuti pelatihan pelatihan mekanik sepeda motor yang diselenggarakankan oleh Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi (Bapas Bukittinggi) bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi (Lapas Bukittinggi).

PELATIHAN MEKANIK – Puuhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) serius mengikuti pelatihan pelatihan mekanik sepeda motor yang diselenggarakankan oleh Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi (Bapas Bukittinggi) bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi (Lapas Bukittinggi).

Ia yang dulunya sudah paham untuk bongkar-pasang mesin sepeda motor, setelah mengenal narkotika sebelum terjerat tindak pidana bekerja, hampir tidak ingat pelajaran yang ia peroleh sebelumnya.

"Alhamdulillah saya mendapatkan pelatihan ini , Pak. Keterampilan sebagai mekanik yang menjadi rutinitas saya sehari-hari dulu, akibat narkoba banyak yang lupa. Saat dibawah pengaruh narkoba, ritme bekerja saya kacau. Saya sampai lupa mana yang kunci pas mana yang kunci ring," ceritanya di sela-sela istirahat pelatihan.

Instruktur membenarkan apa yang disebut Irfan yang sebelumnya sempat magang di tempat ia bekerja, awalnya adalah mekanik yang cepat belajar. Setelah terlibat di lingkaran setan narkotika, kerjanya mulai berantakan.

Sebagai instruktur ia dahulu sudah mengingatkan Irfan untuk menjauhi barang haram tersebut karena sudah melihat gejala yang tidak beres pada Irfan. Sayangnya, Irfan bebal.

Alhasil, penyesalan terungkap setelah bertemu kembali dengan instruktur yang pernah membimbingnya. Irfan mengaku tidak akan lagi menyentuh narkotika.

Cerita kuno tentang pengaruh narkotika yang menjadi stimulus untuk bekerja lebih baik hanyalah isapan jempol belaka.

"Bukannya lebih fokus, kerja malah jadi berantakan. Dari pengamatan sekilas kunci 12 ternyata dirasakan tangan kunci 10. Setelah dicoba kunci 10 tak muat. Eh dicoba lagi ternyata kunci 15. Kan, kacau Pak infusnya," ulasnya menertawai diri.

Baca Juga: Fatwa MUI: Pelaku Sodomi Bisa Dihukum Mati! Bagaimana Nasib Guru Pemerkosa Sesama Jenis di Sumbar?

Pelatihan yang dilangsungkan sejak 6 hingga 20 September 2021 tersebut, menurut Kepala Bapas Bukittinggi Elfiandi menggandeng mitra kerja dari Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas Lipas). Yakni, Sentral Service AHASS Bukittinggi. Ia menjelaskan sebagai salah satu Pokmas Lipas, pihak AHASS menyediakan tenaga instruktur untuk pembinaan kemandirian ini.

Halaman:

Editor: Bhenz Maharajo

Tags

Terkini

Terpopuler

X