Menengok Aktivitas Bapas Bukittinggi: Datang Berstatus Terpidana, Pulang jadi Montir

- Rabu, 15 September 2021 | 14:13 WIB
PELATIHAN MEKANIK – Puuhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) serius mengikuti pelatihan pelatihan mekanik sepeda motor yang diselenggarakankan oleh Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi (Bapas Bukittinggi) bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi (Lapas Bukittinggi).
PELATIHAN MEKANIK – Puuhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) serius mengikuti pelatihan pelatihan mekanik sepeda motor yang diselenggarakankan oleh Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi (Bapas Bukittinggi) bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi (Lapas Bukittinggi).

Tak kurang dari 20 orang narapidana atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang tengah menjalani pidana menyiapkan diri untuk kembali ke masyarakat. Kali ini, mereka mendapatkan bekal pelatihan mekanik sepeda motor.

LAPORAN – SANDY ADRI

Pelatihan itu diselenggarakankan oleh Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi (Bapas Bukittinggi) bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi (Lapas Bukittinggi).

Budi, 38 tahun, salah seorang WBP yang mendapatkan pelatihan tersebut mengaku terlihat antusias mendapatkan kesempatan langka tersebut. Ia yang sebelum terjerat kasus pidana adalah pebalap motor cross semi-profesional, mengaku pelatihan seperti ini ia tunggu-tunggu untuk membunuh hari-hari sanksi pidananya.

"Sebelum ini juga ada pelatihan serupa, Pak. Cuma baru kali ini saya mendapatkan pelatihan bidang ini. Kata petugas pembinaan di sini, kuota yang tersedia terbatas dan saya bersyukur sekali bisa mendapatkan kesempatan menjadi salah satu peserta pelatihan ini," ujarnya sumringah sembari melakukan praktik pemasangan piston sepeda motor.

Pelatihan yang dilangsungkan di lingkungan tak biasa tersebut, menurut Afrizal, salah seorang instruktur, animo pesertanya relatif berbeda dibandingkan peserta didik konvensional yang ia temui.

Semangat WBP untuk mengikuti setiap pelatihan sangat tinggi. Bahkan ada peserta yang tidak sabaran untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya karena harus menunggu rekannya yang lain untuk praktik.

"Sementara bahan praktik kita terbatas. Tentunya kita harus bergantian agar semua peserta mendapatkan kesempatan dan materi ajar yang merata. Namun, hal itu tidak menjadi kendala serius," ulas instruktur dari Sentral Service AHASS Bukittinggi.

Baca Juga: Pantas saja Disorot Presiden. Ternyata 300 Ribu Vaksin Hanya Masuk Peti Es di Sumbar

Peserta pelatihan lainnya, Irfan, 29 tahun, yang dulunya sudah berprofesi sebagai mekanik. Ia yang terlibat tindak pidana narkotika mengakui penggunaan narkotika dalam jangka waktu yang relatif lama membuat keterampilannya secara kualitas menurun drastis.

Halaman:

Editor: Bhenz Maharajo

Tags

Terkini

X