Orang Tua Siswa Berkebutuhan Khusus di Padang Tuntut Sekolah ke Pengadilan

- Jumat, 3 Desember 2021 | 20:13 WIB
Ilustrasi anak berkebutuhan khusus (https://pauddikmaskalbar.kemdikbud.go.id/berita/mengenal-anak-berkebutuhan-khusus.html)
Ilustrasi anak berkebutuhan khusus (https://pauddikmaskalbar.kemdikbud.go.id/berita/mengenal-anak-berkebutuhan-khusus.html)

HALUAN PADANG - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang saat ini tengah mendampingi kasus terkait anak berkebutuhan khusus di bidang pendidikan di Kota Padang.
Dalam kasus tersebut, orang tua siswa merasa sekolah abai memenuhi hak pendidikan anaknya yang berkebutuhan khusus, hingga menuntut sekolah mengembalikan dana sebesar Rp12.796.500,00.

"Di hari disabilitas 2021 masalah hak atas pemenuhan hak disabilitas masih jauh dari harapan," tutur Direktur LBH Padang Indira Suryani melalui siaran pers pada Jumat (3/12).

Anak tersebut diketahui disekolahkan di sebuah sekolah dasar milik sebuah yayasan pendidikan di Kota Padang.
 
Komplain yang dilayangkan didasari atas kebutuhan khusus anak yang tidak bisa mengikuti kegiatan daring secara baik.

"Kasus ini bermula saat orang tua anak, Ibu Vitania Yulia, mengajukan komplain kepada sekolah anaknya yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak yang mewajibkan daring selama PPKM Level 4 di Kota Padang," jelas Indira.

"Anak korban merupakan delay speech (keterlambatan bicara) yang juga hasil asesement psikolognya mengemukakan anak korban dalam praktek belajar membutuhkan contoh yang konkrit, memperlihatkan gambar dan contoh yang jelas," lanjut Indira.

Karena itu belajar daring melalui aplikasi zoom dan semacamnya, tidak cocok dengan kondisi anak tersebut.

"Orang tua korban sebenarnya sejak awal memilih menyekolahkan anaknya di yayasan tersebut karena sekolah mengusung konsep inklusif yang mendasarkan teori setiap anak berbeda dan memiliki kebutuhan khususnya yang diakomodasi oleh sekolah," ujar Direktur LBH Padang.

Namun, menurut Indira, dalam faktanya kekecewaan orang tua korban semakin menguat ketika ia menyampaikan kondisi anaknya dan tetap dianulir atau tidak direspons serius oleh pihak sekolah.

"Padahal orang tua membayar mahal menyekolahkan anaknya sebesar Rp17.120.000,00 namun pemenuhan hak atas pendidikan anaknya yang berkebutuhan khusus kurang diperhatikan," lanjutnya.

Halaman:

Editor: Randi Reimena

Terkini

X