LBH Sarankan Penanganan Dua Bocah Pelaku Pemerkosaan Berjamaah di Padang Pakai Proses Diversi

- Senin, 29 November 2021 | 21:29 WIB
Ilustrasi Pemerkosaan/Detik.com
Ilustrasi Pemerkosaan/Detik.com

HALUAN PADANG - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menyarankan dua pelaku pemerkosaan berjamaah di Padang Selatan dilakukan dengan proses diversi, atau penyelesaian perkara di luar proses peradilan.

Direktur LBH Padang, Indira Suryani mengatakan, langkah demikian dinilai tepat sebab kedua pelaku masih di bawah umur yakni R (11) dan G (10).

"Jika pelaku di bawah 12 tahun, bisa diindikasikan bahwa pelaku belum mengerti apa-apa," katanya singkat pada Haluan Padang, Senin (29/11).

Baca Juga: Tidak Dikembalikan ke Keluarga, Dua Anak Korban Pemerkosaan Sekeluarga Butuh Orang Tua Angkat

Secara hukum, menurut Indira, dua pelaku yang masih di bawah umur tersebut juga bisa diposisikan sebagai korban, karena secara usia pelaku masih berstatus sebagai anak.

"Tapi dilihat dulu, menurut saya, karena di Undang-Undang SPPA (Sistem Peradilan Pidana Anak) itu ada syarat untuk mendiversi. Dalam UU SPPA ada namanya diversi, mendamaikan dengan korban. Tapi dilihat dulu apakah kemudian terpenuhi syarat-syaratnya," jelas dia.

Baca Juga: Ibu Korban Pemerkosaan Berjamaah di Padang Masih Berstatus Saksi

Baca Juga: Polresta Padang Pastikan Korban Pemerkosaan Berjamaah Sudah di Tempat Aman

Untuk diketahui, UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA mengatur penempatan anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) serta pengaturan secara tegas mengenai Keadilan yang restoratif dan diversif.

Diversi sendiri berdasarkan UU tersebut adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dalam proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan.

Melansir situs resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kemenpppa.go.id, tujuan dari diversi antara lain mencapai perdamaian anak di luar proses peradilan, menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan.

Baca Juga: Menjawab Misteri Ibu Korban Pemerkosaan 2 Bocah di Padang, Berikut Keterangan Para Tetangga

Kemudian menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan, mendorong masyarakat untuk partisipasi, menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak, dan perlindungan anak berhadapan dengan hukum tercantum dalam UU tersebut.

"Syarat diversi itu salah satunya adalah yang pertama, tindak kriminal dilakukan pertama kali. Kedua, diversi bisa diterapkan untuk kasus yang ancaman hukumannya di bawah 7 tahun," imbuh Indira.

Baca Juga: Pemerkosaan Berjamaah di Padang Ternyata Diketahui Oleh Ibu Korban

Sementara itu terkait kekerasan seksual bagi anak berdasarkan UU perlindungan anak, hukumannya maksimal lebih dari 7 tahun. Jika lebih, maka kata dia, semakin sulit untuk didiversi.

Namun, jika anak yang merupakan pelaku masih berumur 11 tahun, maka harus didiversi.

"Karena anak tersebut akan dikembalikan ke orang tuanya. Jika kemudian keluarganya tidak mampu untuk menjadi pelindung bagi dia, dia bisa dijadikan sebagai anak negara," lanjutnya.

"Sebenarnya penting juga untuk melihat, kalau misalnya tidak ada proses hukum, harus dilihat apa jaminannya bahwa si pelaku tidak akan mengulang perbuatannya di kemudian hari. Penting untuk memastikan pelaku juga mendapat rehabilitasi dari psikolog, karena dia masih anak," imbuh Indira.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X