Mendulang Cuan dari Setrika Arang

- Selasa, 7 Desember 2021 | 15:41 WIB
Rul Tanjung (52) penyedia jasa setrika arang di komplek Padang Teater, Pasar Raya Padang (HALUAN PADANG | Tio Furqan)
Rul Tanjung (52) penyedia jasa setrika arang di komplek Padang Teater, Pasar Raya Padang (HALUAN PADANG | Tio Furqan)

HALUAN PADANG - Menjaga kepercayaan konsumen adalah spirit seorang Rul Tanjunng, pria 52 tahun yang berprofesi sebagai penyedia jasa setrika pakaian di Pasar Raya Padang. Jasa yang ia berikan sedikit berbeda dengan orang kebanyakan.

Bisnis menyetrika pakaian memang menjanjikan, sebab kini banyak penyedia jasa sejenis menumpangkan harapan pada teknologi demi proses hasil yang lebih cepat dan tentunya pakaian lebih rapi.

Teknologi dalam bisnis setrika pakaian ini bisa ditemukan di berbagai sudut Kota Padang. Berkat teknologi setrika yang canggih, konsumen tidak butuh waktu lama menunggu pakaiannya rapi.

Namun tidak dengan Rul Tanjung, pria berparas kurus tinggi ini lebih memilih untuk mempertahankan gaya lama dalam bisnisnya: setrika pakaian. Bisnis ini telah ia geluti sejak tahun 1991. Seakan tidak ingin termakan zaman, Rul lebih memilih untuk menjalankan bisnis setrikanya menggunakan setrika arang.

Segala macam kesulitan telah ia tempuh untuk mempertahankan usahanya tersebut, mulai dari menjadi anak buah orang hingga akhirnya ia bisa membuka usaha jasa setrika sendiri pada tahun 1991 sampai saat ini.

Setiap hari sekitar pukul 8 pagi ia berangkat dari rumahnya di Lubuk Buaya dengan mengendarai motor menuju kios kecilnya di atas Padang Teater, Pasar Raya, Kota Padang.

Arang-arang tempurung yang mulanya ia tumpuk di dalam karung setiap pagi kemudian ia bakar untuk nantinya diisikan ke dalam setrika. Memang, setrika arang mengandalkan panas dari arang, berbeda dengan setrika listrik pada umumnya.

Tak banyak waktunya untuk duduk, sekedar menyeruput kopi usai membuka kios, karena setelah arang sudah panas, ia bisa memulai menyetrika pakaian orderasn konsumen satu per satu. Kegiatan itulah yang ia jalani hingga pukul 5 sore setiap harinya.

"Saya sudah coba segala macam pekerjaan, namun pada akhirnya jasa setrika arang ini yang menjadi pelabuhan terakhir hingga saat ini. Saya mulai pada tahun 1973, itu masih bekerja dengan orang dan berpindah-pindah, hingga akhirnya saya bisa buka sendiri pada tahun 1991. Pada tahun 2008 saya berhenti sejenak hingga tahun 2009 saya mulai lagi hingga sekarang," ucapnya.

Ia mengatakan, tidak mudah untuk menyetrika menggunakan setrika arang, karena butuh ketelitian dan keahlian, sebab kalau tidak pandai-pandai resiko fatalnya adalah terbakarnya pakaian karena percikan api.

Jika itu terjadi, ia pun harus merelakan pendapatannya sehari untuk mengganti pakaian tersebut, karena kisaran harga pakaian yang ia setrika mulai dari 150 ribu.

Untuk konsumen sendiri, ia mengaku 80 persen pelanggannya kebanyakan adalah tukang jahit sekitar Pasar Raya. Jadi semakin banyak pesanan jahitan pelanggannya, semakin banyak pula kain-kain yang bisa ia setrika.

"Itulah yang membuat saya bisa bertahan dengan profesi ini, karena pelanggan mengatakan mereka lebih puas dengan hasil setrika arang dibandingkan setrika listrik, karena selain dari kerapiannya mereka juga mengatakan hasil setrika arang juga memberikan efek wangi pada pakaian," tutur pria asal Pariaman tersebut.

Ia mengaku, satu hari ia bisa menghabiskan 2 kilogram arang tempurung untuk menyelesaikan 60 hingga 80 potong pakaian, tergantung kerumitan bahan pakaian. Untuk satu potong pakaian ia mengambil upah sebesar Rp3500 hingga Rp5000. Jika dihitung Rul bisa meraup penghasilan antara Rp260 hingga Rp400 ribu perhari.

"Ada juga yang membayar lebih, ada juga yang membayar kurang, tergantung kemampuan mereka saja, saya juga tidak terlalu memaksakan, yang penting orang puas dan mereka terbantu dan masih ada yang bisa saya bawa pulang untuk mencukupi kehidupan sehari-hari," ucapnya.

Kembali menjemput ingatan lama, ia menceritakan saat muda ia bahkan bisa bekerja siang malam, setelah selesai menyetrika di kios, ia masih sanggup melanjutkan menyetrika di rumah.

Karena kegigihannya tersebut ia bisa menabung dan menguliahkan ketiga anaknya hingga menjadi PNS.

"Anak-anak melarang untuk memaksakan pekerjaan, karena umur saya juga sudah tidak memungkinkan untuk itu," katanya.

Ia berharap, kedepannya mudah-mudahan ada jalan untuk melestarikan profesi langka seperti ini, terutama generasi generasi muda. Sebab, saat ini di Pasar Raya sendiri hanya tersisa 3 orang saja yang masih bertahan dengan profesi tersebut.

"Dulu masih banyak, tapi ada yang memutuskan untuk berhenti, ada yang sudah meninggal hingga akhirnya sekarang cuma tinggal bertiga saja, itupun sudah tua-tua. Mudah-mudahan profesi ini tetap bertahan dan diperhatikan, karena ini merupakan pekerjaan yang sudah jarang ditemui, menggunakan alat yang juga sudah langka dan tidak diproduksi lagi," ucapnya.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Nasib Malang Si Sapi Bantuan

Rabu, 5 Januari 2022 | 14:31 WIB
X